
“Beginikah rasanya kalau punya suami, seenaknya tidak pakai baju di dalam kamar,” gumam Alya bermonolog, bulu kuduknya mulai merinding. Maklumlah anak perawan belum pernah merasakan pacaran, lalu tiba-tiba menikah tanpa cinta, kemudian hamil karena inseminasi bukan karena hubungan secara natural. Dan sekarang wanita itu perdana sekamar, hanya berduaan dengan seorang pria, rasa hati Alya sudah tidak bisa digambarkan, semuanya berkumpul ada petasan kentut, petasan banting, serta kembang api yang biasa di pegang pakai tangan.
“Weeh....kalau masih kerja....nih para staf finance, pasti senang banget lihat Pak Erick gak pakai baju bisa lihat dada berotot, perut kayak penggilasan, terus berdua di dalam kamar.....auw....auw...,” merinding lagi bulu kuduk Alya.
“Siapa yang berduaan,” sahut Erick, yang sudah memakai baju santai, hanya kaos oblong dan celana panjang chino.
“Ini si baby twin berduaan di dalam perut...,” jawab asal Alya.”Saya mau mandi dulu Pak Erick, bisa tunjukkan kamar mandinya,” pinta Alya, wanita itu beranjak dari duduknya dan mengambil salah satu paper bag.
“Mandinya jangan lama-lama,” ujar Erick, sambil menunjukkan kamar mandi.
“Mmm..........” gumam Alya, masuk ke dalam kamar mandi.
Sebelum wanita itu menutup pintu kamar mandi, salah satu tangan Erick menahan pintunya, ”jangan di tutup pintunya dan di kunci, takut kamu kenapa-kenapa di kamar mandi.”
“Astaga Pak Erick, mau ngintipin saya mandi ya. Pakai jangan di kunci, kalau mau mandi ya...di kunci pintunya dong,” sahut Alya.
“Masa suami ngintip istri mandi gak boleh,” goda Erick, dengan mengedipkan salah satu matanya.
Alya melirik handuk bersih yang ada di dalam kamar mandi. “Keluar gak dari kamar mandi, Pak Erick” usir Alya sambil mengepretkan handuknya ke tubuh Erick, membuat pria itu terjingkat-jingkat, menghindari handuk yang melayang ke arahnya.
“Ha....Ha...Ha..Ha..,” senangnya hati Erick menggoda istrinya, hingga bibirnya terbuka lebar karena menertawakan Alya.
🌹🌹
Ruang makan
Hidangan lokal dan hidangan internasional sudah tersaji di meja makan dan sudah tentu makanan sehat, makanan yang sudah di pesan oleh Erick kepada cheffnya.
“Bisa gak sih Pak Erick, gak usah pegangan tangan, orang cuma mau ke ruang makan harus pegangan,” gerutu Alya, risih dengan Erick, keluar kamar aja tangannya di pegang.
“Saya takut nanti kamu kepleset, atau jatuh. Makanya saya pegang tangan kamu,” alasan Erick, padahal emang dasar maunya pria itu genggam tangan Alya, walau di dalam mansion.
“Alasan aja,” celetuk Alya, jengkel lihat pria ganteng itu.
“Sliahkan duduk Tuan, Nyonya,” Pak Arif dan beberapa pelayan mulai menarik kursi dan mempersilahkan Tuan dan Nyonya nya untuk duduk.
“Pak Arif, maaf jangan terlalu berlebihan. Saya tidak enak kalau di layani, sudah kayak ratu aja,” tutur Alya, tidak terbiasa dilayani.
“Sudah tugas saya, Nyonya,” jawab Pak Arif.
“Pak Arif dan semuanya bisa kembali, biar saya yang mengurus istri saya ini,” titah Erick.
__ADS_1
“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi,” pamit Pak Arif diikuti beberapa pelayan yang lain.
“Kamu mau makan pakai apa?” tanya Erick.
Kedua netra Alya semakin cerah melihat ragam makanan yang sudah tersaji, ooh bawaan si baby twin ini bikin nafsu makannya bertambah.
“Pak Erick, saya mau zuppa soup yang ada di dekat Pak Erick, bolehkah?”
Pria itu langsung menggeser makanan yang di minta Alya, dan menaruhnya di hadapan istrinya.
“Makanlah,” ujar Erick.
“Makasih, Pak Erick,” balas Alya, langsung mengambil sendok dan menusukkannya ke atas pastry.
Pria itu tersenyum hangat melihatnya, saat ini dia sepenuh hati ingin mengurus wanita yang sangat di cintai, dan tidak menuntut wanita itu untuk mengurus pria itu.
Tak berapa lama kemudian....
“Assalamualaikum,” sapaan serempak dari kejauhan terdengar jelas dari ruang makan.
“Walaikumsalam,” dijawab serempak oleh Erick dan Alya, sambil menoleh ke arah pintu.
“Mama, Papa, Bu Yanti.....,” terkejut Erick, melihat kedatangan orang tua dan mertuanya.
“Kamu....kok gak bilang-bilang bawa anak mama ke mansion kamu, udah tahu mama sama Bu Yanti masih kangen sama Alya,” tegur Mama Danish sambil menepuk bahu Erick, kemudian duduk di hadapan Alya.
“Bu Yanti duduk, kita makan malam bareng. Tahu aja nih Erick kalau kita mau datang, makanannya banyak,” seloroh Mama Danish.
“Silahkan duduk, Bu Yanti,” ucap Erick sambil beranjak dari duduknya, merasa gak enak sebagai tuan rumah belum menyambut mama mertuanya.
“Makasih, nak Erick,” jawab Mama Yanti, langsung ambil posisi duduk di samping Alya.
“Maaf ya nak, Mama kamu tuh cerewet menanyakan Alya, dan Papa ke pikiran kalau kamu culik Alya ke mansion kamu,” tukas Papa Bayu.
“Bukan culik Pah, memang harus bawa pulang Alya ke tempat tinggal semestinya,” balas Erick.
“Sudah Pah, duduk dulu....kita makan bareng dulu,” pinta Mama Danish, sambil menarik lengan Papa Bayu agar tidak kelamaan berdiri. Sedangkan Erick memanggil Pak Arif untuk menyiapkan piring dan makanan tambahan.
Pak Arif dan pelayan mulai sibuk kembali di ruang makan, sedangkan di dapur terlihat chef kembali memasak untuk menu tambahan.
Suasana ruang makan terlihat ramai dan hangat, sudah terlalu lama kedua orang tua Erick tidak singgah ke mansion Erick walau sekedar untuk makan siang atau makan malam dengan anak dan menantunya, baik waktu Erick masih beristrikan Agnes hingga menikahi Delila. Bisa di hitung dengan jari berapa kali Mama Danish dan Papa Bayu berkunjung ke mansion Erick.
__ADS_1
Rasa haru, hangat berselimut di hati pria itu, menatap Alya yang sedang tertawa renyah dengan kedua orang tuanya serta mama Yanti, begitu apa adanya Alya bersikap kepada mama dan papanya. Serta melihat kedua orang tuanya begitu sayang dengan Alya, berbeda jauh dengan sikap kepada Agnes dan Delila.
Makan malam panjang yang baru kali ini di rasakan oleh pria itu, menikmati sajian sambil berbincang hangat, dengan istri dan keluarganya. Moment yang jarang ditemuinya.
“Nak, kamu nanti tidur di kamar mana?” tanya mama Danish, ketika Erick pamit ke kamar mandi. Karena seingat Mama Danish, Erick tidur sendiri di kamar pribadinya, sedangkan para istri di kamar yang telah di siapkan oleh Erick.
“Di lantai dua mah, kamar utama,” jawab Alya.
Mama Danish langsung tercengang mendengarnya.”Kamar utama?”
“Kok Mama kaget,” heran Alya.
Mama Danish mencondongkan dirinya sedikit ke depan. “Kamu yakin itu kamar utama?” kembali bertanya.
“Yakin kok Mah, di kamarnya banyak barang milik Pak Erick, dan sangat luas kamarnya.”
“Alhamdulillah, akhirnya,” lega perasaan mama Danish, di sangka Alya akan di suruh di kamar tamu, atau di kamar bekas mantan istrinya.
“Memangnya ada apa, Mah?” penasaran Alya.
“Kamu tahu tidak Alya, kamar utama itu kamar pribadi Erick. Dan dulu kedua istri Erick, tidak boleh masuk ke dalam pribadinya. Masing-masing istri ada kamarnya, itu yang mama tahu. Dan berarti kamu adalah wanita yang pertama kali di ajak Erick masuk ke dalam kamar pribadinya,” ujar Mama Danish.
“Maksud mama, s-saya wanita yang pertama kali masuk ke kamar Pak Erick,” balas Alya sambil menunjukkan dirinya sendiri.
“Ho..oh....,” Mama Danish menganggukkan kepalanya.
Haruskan Alya berbangga hati mendengar cerita Mama Danish jika dia wanita yang pertama kali menginjak kamar Erick, yang jelas penuh tanda tanya, dengan kehidupan rumah tangga Erick.
“Alya, makannya mau nambah apalagi?” tanya pria yang sudah berdiri di sampingnya.
Wanita itu mendongakkan wajahnya, agar bisa melihat wajah pria itu. “Sudah cukup.....eh enggak deh...saya mau makan es cream coklat, tapi nanti dulu masih begah perutnya,” jawab Alya.
“Siap, mommy...,” Pria itu sedikit menundukkan kepalanya lalu mengecup ujung kepalanya.
Blush......
Pipi Alya merona, gara gara Erick.
Mama Danish dan Papa Bayu pura-pura tidak melihat, biasanya mereka suka melihat Agnes yang mesra dengan Erick, sekarang Erick yang menunjukkan cintanya ke Alya.
Bersambung......
__ADS_1