
“Alya, kamu sudah selesai meetingnya?” tanya Mama Danish, yang melihat Alya sedang berkutat dengan laptopnya di ruang belakang dekat kolam renang.
“Sudah mah, tadi selesai setengah jam yang lalu. Kenapa mah?” Alya menghentikan fokusnya ke layar laptop.
“Mama mau bilang di luar gerbang ada Erick. Jadi sementara kamu sembunyi di paviliun dulu, sesuai planning kita kalau Erick datang ke sini,” ujar Mama Danish.
“O-oh iya Mah, kalau begitu Alya sekarang ke paviliun,” Alya segera merapikan pekerjaannya.
“Tuti......!” panggil Mama Danish.
Tuti yang di panggil segera bergegas menghampiri mama Danish.
“Iya Nyonya Besar,” jawab Tuti.
“Tolong bantuin non Alya, dan antar ke paviliun, semua kebutuhan non Alya, kamu yang siapi ya. Soalnya ada anak saya ke sini. Kamu sudah pahamkan?” tanya Mama Danish kepada salah satu pelayannya.
"Baik, Nyonya," Tuti sudah paham.
Kenapa Alya di sembunyikan di paviliun tempat para pelayan beristirahat? Karena tempat yang paling aman di mansion utama, Erick tidak pernah menginjakkan kakinya ke paviliun. Dan jika Alya bersembunyi di kamar dalam mansion utama, akan ketahuan, karena Erick suka mengelilingi mansion utama.
Sesuai dengan perintah nyonya, Tuti membantu bawa barang Alya, dan mengantarnya ke paviliun.
“Silahkan masuk non Alya, ini kerjaannya mau di taruh di mana?” tanya Tuti.
“Makasih banyak ya, taruh di meja aja, mbak Tuti,” pinta Alya.
“Eh ada mbak Wiwin, sedang istirahatkah?” sapa Alya.
Wiwin yang sedang berbaring di sofa langsung duduk ketika melihat nona mudanya,” eh ada non Alya, iya non lagi lempengin badan......pada pegal,” ujar jujur Wiwin.
“Ya udah istirahat dulu mbak Wiwin,” balas Alya, ikutan duduk di sofa single.
Tidak ada hal yang sulit buat Alya untuk berbaur dengan para pelayan mansion, dan hal ini di sambut baik oleh semua pelayan. Dengan cara menyapa, kemudian berucap kepada pelayan, membuat mereka merasa di hargai dan di orangkan oleh nona mudanya.
🌹🌹
“Assalamualaikum, Pah,” sapa Erick yang sudah masuk ke dalam mansion utama.
“Walaikumsalam,” jawab Papa Bayu, sambil melirik kedatangan Erick kemudian melirik ke arah pintu tengah, untuk memastikan keadaan sudah aman.
“Pah, kok tumben Erick tidak boleh langsung masuk ke mansion. Di tahan di luar gerbang , kaya orang asing aja!” gerutu Erick, sambil menaruh bawaan yang di belinya, kemudian duduk di sofa.
__ADS_1
“Oooh kamu di tahan di luar, kasihan....,” jawab Papa Bayu dengan gaya santainya.
“Lagian kamu juga tumben hari sabtu datang ke mansion. Terus gak di ajak Agnes sama Delila ikut ke sini?” tanya Papa Bayu sambil membaca majalah bisnisnya.
“Erick lagi suntuk Pah. Mama ke mana, Pah?” tanya Erick, sambil melirik ke semua sudut ruangan.
“Mama lagi ada di dapur,” ujar Papa Bayu asal, karena papa Bayu juga tidak tahu Mama Danish ada di mana.
“Jadi sekarang kalau kamu suntuk baru ke sini, dulu aja mana mau kamu ke sini, susah....... mentang-mentang di mansion ada dua istri sampai lupa sama orang tua!” sindir Papa Bayu.
Dari kejauhan terlihat mama Danish datang ke ruang santai, “ck.....ngapain kamu ke sini!” tegur kasar Mama Danis dengan tatapan yang menyebalkan, lalu duduk di samping papa Bayu.
“Kangen sama mama dan papa?” jawab Erick pelan.
“Cih.......bisa-bisanya kamu bilang kangen sama mama dan papa,” berdecih lidah mama Danish, padahal hatinya udah ngeregetan sama Erick, pengen ngulek mulut putranya sendiri.
“Kamu bawa apa?” tanya Papa Bayu, melihat bungkusan yang tergeletak di atas meja.
“Erick beli masakan tomyam, sama kepiting saus padang buat makan malam, Erick pengen makan bareng sama mama dan papa. Jadi sengaja beli banyak.”
Mama Danish mendekati Papa Bayu, kemudian berbisik di telinga suaminya, “Pah, tadi Alya bilang ke mama pengen makan tomyam sama kepiting saus padang.....jangan-jangan.....!!”
Bawaan bayi, si calon mommy sama si calon daddy pengen makan yang sama......batin Papa Bayu seakan sedang telepati ke mama Danish.
“Ehmm........,” deheman Erick membuyarkan tatapan Mama Danish dan Papa Bayu.
“Kalau mau bermesraan di kamar aja Pah, Mah,” sindir Erick, agak gak enak melihatnya.
“Cih kayak kamu gak begitu, di depan mama...... kamu juga biasa bermesraan sama Agnes!” balas Mama Danish. Erick hanya menggarukkan kepalanya.
“Mana Agnes dan Delila? Kamu sendiri ke sini?” tanya Mama Danish dengan tatapan menyelidik.
“Iya mah, Erick datang sendiri.”
“Biasanya kedua pengawal kamu selalu mengikuti kamu, ini tumben,” celetuk mama Danish.
“Mereka ada di mansion, Erick sengaja datang ke sini sendiri karena ada yang ingin saya diskusikan sama papa dan mama.”
“Mau diskusi tentang apa?” tanya Papa Bayu.
“Tentang rumah tangga Pah.”
__ADS_1
“Oh rumah tangga, baru kali ini kamu mau diskusi masalah rumah tangga. Biasanya kamu tidak pernah membicarakannya, justru kamu sering menghindar jika mama atau papa memberikan nasehat buat kamu,” ujar Papa Bayu.
“Maafkan Erick sebelumnya Pah.”
“Sekarang katakan kamu ada masalah apa?” tanya Mama Danish.
“Pah, andaikan Erick memulangkan Delila ke rumah orang tuanya bagaimana menurut Papa dan Mama?”
“Masalah kamu memulangkan atau menceraikan Delila, itu urusan kamu nak. Kamu yang menjalan rumah tangga, kamu yang merasakan baik dan buruknya sendiri. Kami selaku orang tua tidak mau ikut campur,” imbuh Papa Bayu.
“Nanti akan ada masalahkah dengan pertemanan Papa dengan papanya Delila?” tanya Erick.
“Segala tindakan atau keputusan yang di ambil pasti ada dampak baik buruknya. Dan buat papa itu tidak masalah, jika hubungan pertemanan menjadi renggang itu wajar dalam kehidupan, karena tidak selamanya pertemanan itu akan abadi selalu.”
Erick sedikit bisa bernapas lega, mendapat tanggapan dari papa Bayu.
“Memangnya masalah kamu dengan Delila, sudah berat?” tanya mama Danish.
“Sebenarnya tidak ada masalah yang berat Mah, tapi pernikahan dengan Deli terasa hambar aja, jujur Erick tidak terlalu mencintai Deli, saya sudah belajar untuk mencintai dan menerimanya sebagai istri, tapi terus bertentangan di hati,” ujar jujur Erick.
“Ya semuanya karena hatimu hanya untuk Agnes seorang, istri pertama kamu.” Sindir mama Danish. ”Dan ya mungkin ini juga kesalahan mama dan papa yang telah memaksa menjodohkan kamu dengan Deli, jadi semuanya kembali lagi ke diri kamu. Jangan mengambil keputusan saat dalam keadaan emosi.”
Erick menyandarkan punggungnya ke sofa biar sedikit relaks sebelum melanjutnya perbincangan, kemudian pria itu menghirup oksigen dengan helaan napas yang panjang.
Deg
Kok kayak berasa ada wangi Alya.......batin Erick.
“Mama ganti parfum ya?” langsung bertanya Erick, gak mungkin bertanya dengan Papa Bayu, karena ini wangi perempuan.
“Iya mama lagi cobaiin parfum baru, kenapa wanginya gak enak ya?” tanya mama Danish.
“Wanginya mirip wangi Alya, mah,” jawab Erick. Wangi yang sangat dirindukan oleh Erick.
Alamak Mama Danish baru teringat, tadi pagi Mama Danish nyobaiin parfum Alya di kamar Alya.
Semoga Erick tidak tahu jika Alya ada di sini.....batin Mama Danish.
bersambung.....kira-kira Erick curiga gak sama wangi yang di ciumnya??
__ADS_1