
Erick sudah keluar dari kamarnya menuju dapur, sedangkan wanita itu mengganti bajunya dengan dress tidur berwarna putih tanpa lengan, dengan potongan lehernya begitu rendah, hingga terlihat belahan dadanya sedikit mengintip, bukan bermaksud ingin tampil seksi tapi karena setiap malam semenjak hamil sering mengalami kegerahan, terpaksa memilih dress tidur yang nyaman. Kemudian wanita itu terpaksa naik ke atas ranjang milik pria itu dengan perasaan campur aduk.
“Ya Allah...semoga malam ini tidak terjadi apa-apa,” gumam Alya dengan degup jantung yang kencang, lalu merebahkan tubuhnya.
Sebencinya hati Alya dengan Erick karena ada alasannya, bukan tiba-tiba begitu saja langsung benci. Sudah lama Alya menjaga hati agar tidak jatuh hati dengan pria ganteng itu, dan menghindarinya. Malam ini, wanita itu terpaksa harus berbagi ranjang dengan pria itu.
Dalam waktu sepuluh menit, pria yang berstatus suami Alya sudah kembali ke kamar, membawakan segelas susu coklat, dan beberapa cookies, persiapan jika saat tidur istrinya kelaparan, jadi tidak perlu ke dapur lagi.
“Alya....,” panggil Erick, sambil menyentuh lengan wanita itu. Hati pria itu berdesir, melihat istrinya menggunakan dress tanpa lengan, hingga terpampang kulit putih bersih dan mulus tanpa cela, begitu juga potongan leher dress tersebut begitu rendah, hingga terlihat ada sesuatu yang mengintip, dan menggoda hasrat pria itu untuk menyentuhnya. Pria itu menahan napasnya untuk sesat.
“Ya....”
“Diminum dulu susunya mumpung masih hangat,” tangan pria itu menyodorkan gelasnya.
“Makasih, Pak Erick,” diraihnya gelas tersebut, kemudian langsung meneguknya sampai tandas. Lalu memberikan gelas kosong ke pria.
Tumben kok susunya rasa enak......batin Alya.
Selama ini terbiasa membuat susu sendiri, hari ini dibuatkan susu oleh suami sendiri, pasti berbeda rasanya. Karena dibuat dengan rasa cinta dan sayang, bukan karena terpaksa.
“Enak susunya?”
“Mmm.....enak Pak Erick.”
Pria itu menaruh gelas tersebut ke atas nakas, kemudian naik ke atas ranjang di sisi lainnya.
Degup jantung kedua orang tersebut, mulai berdebar-debar. Tubuh pria itu masuk ke selimut yang sama dengan Alya, kemudian membaringkan tubuhnya dekat dengan Alya.
Alya yang sudah kembali berbaring telentang rasanya pengen pindah kamar setelah melihat dan merasakan posisi pembaringan Erick tidak ada jarak dengan wanita itu bahu mereka berdua saling bergesekan.
“Pak Erick, bisakah geser sedikit tidurnya. Ini terlalu dekat,” keluh Alya.
“Tidak bisa, saya mau tidur dekat istri dan anak saya,” jawab Erick, kemudian tangannya mengusap lembut perut bulat Alya.
__ADS_1
“Sudah terlalu lama, saya memimpikan hal seperti ini. Seranjang dengan istriku yang hamil ini,” lanjut Erick, pria itu memiringkan tubuhnya, lalu menarik dagu Alya agar turut menatapnya.
“Kamulah....Alya wanita berkacamata yang pertama kali masuk ke kamarku, dan tidur di atas ranjang ini.”
Mata Alya terkesiap. Pria itu menatap wajah istrinya dengan tatapan hangat penuh cinta.
“Jangan membuat saya tersanjung, Pak Erick,” Alya segera cepat tersadar dari rasa terkesiapnya.
“Rasanya bohong jika Agnes dan Delila tidak pernah masuk ke dalam kamar bapak dan tidur dengan di ranjang ini bersama bapak,” tukas Alya.
“Saya tidak mungkin berbohong di depan calon anak-anakku,” pungkas Erick sembari mengusap perut Alya. “Dan juga tidak bermaksud menyanjungmu, tapi bicara jujur. Jujur kepada istri dan mommy dari anak-anakku,” tangan yang tadinya mengusap perut bulat Alya, kini naik ke atas kemudian mengusap lembut pipi istrinya.
“Kamu wanita pertama yang berani mengataiku bos pembawa sial, ingat itu?”
“Ingat....,” jawab Alya, sekarang mereka berbicara sambil menatap dalam pembaringannya.
“Sungguh kamu, wanita bar-bar. Kamu juga wanita yang sering mengajakku bertengkar,” tukas Erick, mengingat awal pendekatan mereka berdua.
“Tapi memang Pak Erick mengesalkan,” jawab Alya.
Pillow talk, mereka berdua sedang berbicara sebelum tidur tanpa di sadari. Buat Erick ini sangat jarang dilakui di masa lalunya, dan entah mengapa bersama Alya, ada aja yang ingin dibicarakan, tak ingin Alya mendiamkan dirinya.
Kedua mata Alya sudah terasa berat, tapi sepertinya pria yang ada di sampingnya mengajaknya bicara.
“Bisakah hentikan gombalannya Pak Erick, mata saya sudah lima watt. Kalau mau ngobrol, ngobrol aja sama bantal tuh,” celetuk Alya, wanita itu sudah berapa kali kuap, menahan rasa kantuknya.
“Alya.....,” bisik Erick.
“Boleh minta sesuatu sebelum tidur,” ujar Erick.
Waduh tadi bilangnya gak bakal minta haknya, jangan bilang sekarang berubah pikiran nih......was was batin Alya.
“Minta apa?” mata yang sudah terpejam, kembali terbuka, lalu memiringkan tubuhnya hingga kembali berhadapan dengan pria berparas ganteng itu, yang sudah membuat hati Alya panas dingin karena tidur seranjang.
__ADS_1
Posisi mereka berdua terganjal dengan perut besar Alya, hingga Erick tidak bisa merapatkan tubuhnya, takut baby twin yang ada di dalam perut wanita itu ke gencet. Sungguh siksaan berat buat pria itu, tapi apa daya harus menahan hasrat yang sudah ingin meledak.
Jari besar pria itu menyentuh pelan bibir ranum Alya, kemudian pria itu memajukan wajahnya agar dekat dengan wajah Alya.”Saya minta ini,” pinta Erick, belum di setujui oleh Alya, bibir pria itu sudah menempel di bibir Alya.
Alya hanya bisa memejamkan matanya, pria itu mulai menyentuh dengan lembut bibir ranum itu. Melummatnya pelan-pelan, wanita itu tidak membalasnya hanya bisa terdiam. Sentuh bibir Erick yang begitu lembut, membuat wanita itu akhirnya terbuai dengan permainan bibir pria itu.
Akan tetapi pria itu menarik wajahnya sesaat.”Buka bibirmu sayang, biarkan saya menyentuh bibirmu, hanya ini yang saya minta,” bisik Erick dengan suara yang terdengar menggoda.
Alya tidak menjawab, apalagi berekspresi. Tapi pria itu kembali menyentuh bibir ranumnya dengan lembut, hingga wanita itu teringat akan mimpi yang penuh gairah dengan daddy anak-anaknya. Gemas dengan reaksi Alya, pria itu memberikan gigitan kecil di lipatan bawah, alhasil bibir ranum itu terbuka lebar.
“Iih....,”desis Alya ketika mendapat gigitan dari bibir Erick.
Belum ada pengalaman dalam berciuman, wanita itu hanya menerima sentuhan hangat dan basah dari pria itu. Tapi cukup membuat dirinya meremang. Lidah pria itu sudah menelusup ke rongga mulut wanita itu, dan mengabsennya. Saliva mereka berdua sudah menjadi satu, rasa manis dan hangat itulah yang dirasakan oleh Erick. Berulang kali lidah pria itu bergerak lincah di dalam rongga mulut wanita itu, dan sesekali membelit lidahnya dengan lidah istrinya.
“Mmm......,” rongga paru-paru Alya terasa sesak, hingga salah satu tangan wanita itu menepuk-nepuk bahu suaminya.
Erick melepas pagutannya dengan deru napas yang terengah-engah.
“G-gak.....bisa na-napas....Pak,” Alya mulai menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dengan semburat pipinya berwarna merah jambu.
Pria itu tersenyum bahagia melihat istrinya,”saya mencintaimu, Alya....istriku seorang,” ucap Erick.
Alya masih mengatur napasnya, tapi ujung ekor matanya melirik pria yang baru saja mencium bibirnya.
bersambung.....pelan-pelan Pak Erick, istrinya masih perawan 🤭
__ADS_1