
“Ayo nak, katanya kamu lapar. Ingat kata dokter harus banyak makan,” ucap Mama Daniah, udah eneg lihat Agnes yang menunjukkan kemesraannya.
Sedangkan Erick merasa salah tingkah, melihat tatapan Alya yang teduh, santai melihat dirinya dengan kedua istrinya.
“Ya mah.....cacing di perut udah mulai teriak-teriak nih!” celetuk Alya dengan senyum lebar ke mama Danish.
Mengabaikan tatapan mereka bertiga, Alya kembali menggandeng tangan mama Danish dengan nyamannya.
Erick melepaskan rangkulan tangan Agnes, “Kita mau ke mana Mas Erick?” tanya Delila. Agnes dan Delila mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah mendahului mereka berdua.
“Makan siang......” jawab Erick.
“Mas Erick, kita makan siang di restoran hotel ya....,” pinta Agnes.
Mulai lagi Erick geram mendengar permintaan Agnes. Pria itu tidak menanggapinya, justru berlari menuju luar lobby rumah sakit setelah melihat Alya dan Mama Danish masuk ke dalam mobil.
“Mah........tunggu!” teriak Erick dari kejauhan. Pria itu langsung mengetuk kaca mobil ketika sudah mendekat.
Mama Danish membuka kaca mobilnya “Mama, mau makan siang di mana?” tanya Erick, sambil menatap Alya yang sudah berada ke dalam mobil milik mamanya.
“Mama mengikuti kemauan calon mommy saja. Kalau kamu mau ikut, ikutin aja mobil mama.”
“Erick bisa satu mobil sama mama?” mohon Erick.
“Gak bisa, naik mobil kamu sendiri....lagi pula kamu bawa dua pengawalkan!” tolak Mama Danish. Kemudian mama Danish menutup jendela mobilnya.
Dapat penolakan dari mamanya, Erick langsung naik mobilnya, yang kebetulan sudah datang di luar lobby rumah sakit, pria itu segera masuk di susul Agnes dan Delila.
“Supri, cepat ikutin mobil mama,” titah Erick kepada sopir pribadinya.
“Baik Tuan,” Supri segera melajukan mobilnya, kemudian menyusul mobil mama Danish dari belakang.
“Loh Mas, kok kita ngikuti mobil mama. Bukannya mau makan siang di hotel?” tanya Agnes, heran.
“Siapa yang bilang akan makan siang di hotel! kita akan makan siang bersama mama dan Alya. Yang menentukan tempat makan itu mama!”
“Mas Erick kenapa Alya pakai di ajak segala? Sebaiknya Alya suruh pulang aja. Memangnya Mas Erick gak malu ajak Alya makan di tempat umum, secara dia kan tidak cantik?” ujar Delila dengan santainya.
“Agnes, Delila sebaiknya kalian turun, tidak usah ikut makan siang. Kalau kalian banyak komentar!!” suara Erick mulai meninggi.
“Saya kan hanya bertanya saja Mas Erick, sebagai istri bolehkan bertanya,” balas Delila, nada suaranya di buat lembut.
“Delila, kamu dari pagi sudah buat saya jengkel sebaiknya kamu turun tidak usah ikut!” ujar Erick.
“Supri, tolong berhenti di depan. Delila mau turun.”
__ADS_1
“Maaf Mas Erick, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tetap ikut ke mana mas Erick pergi.” Mana mau Delila dituruni di tengah jalan sama suaminya.
“Kalau tetap mau ikut, patuh jadi istri!!”
“Baik Mas,” pasrah sudah Delila.
“Jadi berhenti gak Tuan?” tanya Supri.
“Lanjut jalan Supri.”
Agnes melihat gelagat suaminya, wanita itu ingin ikut berkomentar, tapi takut kena damprat seperti Delila.
Kok Mas Erick agak aneh hari ini.....batin Agnes mulai curiga.
🌹🌹
Mobil Mama Danish memasuki restoran saung telaga. Alya memilih restoran yang ada saungnya dengan pemandangan alam yang indah serta saung tersebut berada di atas kolam ikan mas, gurame dan mujair.
Mobil Erick juga turut menyusul masuk dan sudah terparkir di samping mobil mama Danish.
Mama Danish dan Alya rupanya sudah duluan masuk, Erick buru-buru bergegas menyusul Alya.
Sedangkan Agnes dan Delila berusaha bersikap biasa saja, walau hatinya kesal tidak jadi makan siang di restoran yang berada di hotel bintang lima.
“Gak pa-pa nak, gak masalah,” jawab Mama Danish.
“Hemm.......,” deheman Erick terdengar membuat dua wanita yang mendengar, menoleh ke belakang. Tampaklah Erick di susul dua pengawalnya di belakang pria ganteng itu.
Alya langsung memalingkan wajahnya dari Erick.
“Mbak, masih ada saung yang kosong?” tanya Alya kepada pelayan restoran.
“Ada mbak, mari saya antar,” jawab pelayan.
“Makasih mbak,” ujar Alya.
“Ayuk mah,” Alya menggandeng tangan Mama Danish, dan mengikuti arahan pelayan.
Tiba di salah satu saung, wajah Alya terlihat cerah melihat pemandangan sekitar saung, lumayan bikin mata cerah.
Sekarang mereka berlima sudah duduk lesehan di dalam saung. Alya sengaja memilih duduk di sebelah mama Danish. Sedangkan Erick sudah di apit oleh kedua pengawal cantiknya.
“Silahkan mbak, ini menunya silahkan di pilih,” ujar pelayan, Agnes segera mengambil buku menu.
__ADS_1
Berhubung Agnes nyonya pertama, maka wanita itu yang memilih menu yang akan mereka makan.
Tapi sayangnya Alya tidak memperdulikan Agnes yang sedang memesan makanan. Alya tetap memesan makannya sendiri, lagi pula masih bisa membayar makannya sendiri.
“Mama mau pesan apa?” tanya Alya.
“Alya, kamu tidak perlu repot-repot bertanya sama mama. Makanan buat mama sudah aku pesan,” sela Agnes, tidak suka akan perhatian Alya ke mama Danish.
“Mama ikut kamu aja Alya,” jawab mama Danish.
Alya tetap menulis pesanan buat dirinya dan mama Danish. Wajah Agnes terlihat dongkol.
“Ini mbak, pesanannya,” ujar Agnes.
“Mbak ini pesanan saya ya!!” tegas Alya memberikan buku menunya ke pelayan restoran
“Baik mbak, di tunggu untuk pesanannya.” Ujar pelayan restoran.
Selama menunggu pesanan datang, Delila dan Agnes berusaha mengajak ngobrol Mama Danish, tapi hanya dibalas seadanya oleh mama Danish. Ya Basa Basi Busuk.
“Mah, kapan mengundang mama sama papa ke mansion utama buat makan malam bersama. Papa katanya mau ketemu sama Papa Bayu?” tanya Delila.
“Papa lagi sibuk, jadi belum sempat.........mungkin lain waktu aja,” jawab Mama Danish.
Terlihat Delila sedang memperlihatkan kepada Alya, jika kedua orang tua wanita itu akrab dengan orang tua Erick, itu yang Alya tangkap dari perbincangan Delila kepada mama Danish.
Alya terlihat sibuk memeriksa pesan masuk di handphonenya. Membalas semua pesan dari Lili dan Bram hingga tidak sadar dirinya sedang di perhatikan oleh pria ganteng itu.
Kalau Erick jangan di tanya lagi, pria itu kesal di acuhkan oleh Alya, apalagi posisi mereka berdua berhadapan, tapi tak sekali pun Alya menatap ke depan.
Beberapa menit kemudian makanan yang telah di pesan sudah datang, sebagai istri Agnes dan Delila langsung menyiapkan makan siang buat suami tercinta mereka serta mertuanya Mama Danish, begitu sangat perhatian.
Sedangkan Alya sibuk dengan makanan yang telah di pesannya sendiri, tidak mencolek makanan yang telah di pesan oleh Agnes.
“Silahkan di makan Alya, aku sengaja pesan banyak,” tawar Agnes.
“Terima kasih Bu Agnes, pesanan saya sudah cukup,” tolak halus Alya.
“Jangan malu-malu Alya, kamu harus banyak makan, biar program babynya berhasil,” sok ramah Delila.
“Ya mbak Delila,” jawab Alya.
bersambung.....
Kakak reader yang ganteng dan cantik jangan lupa tinggalin jejaknya ya.......makasih sebelumnya 😘😘😘😘
__ADS_1