Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Gala Fashion Week - 3


__ADS_3

Dari kejauhan Erick sudah melihat Alya bersama Bram dengan beberapa pria tampan dan terlihat berkelas  sedang beramah tamah, wanita itu terlihat semakin cantik ketika tersenyum. Denyut jantung Erick terasa teriris melihat pemandangan tersebut.


Pria ganteng itu menatap nanar sosok istri ketiganya, serpihan-serpihan penolakan dirinya atas Alya mulai bermunculan semua, kata kasar, kata hinaan mulai tergiang di kepalanya.


Tak di sangka pertemuan dirinya dengan wanita cantik itu di Restoran dekat rumah Alya, hari ini pria itu kembali bertemu dengan wanita yang memiliki nama yang sama dengan istri ketiganya. Akan tetapi dari ujung kaki sampai ujung rambut, sangat berbeda sekali.


Apakah selama ini kamu menyembunyikan indentitasmu, Alya? .....batin Erick.


Pria itu sungguh penasaran ingin bertanya tentang kebenaran itu.


“Mas Erick, lihat ada Pak Ridwan, sebaiknya kita menyapanya dulu,” Agnes mengalihkan perhatian Erick yang sedang menatap Alya dan itu tertangkap oleh kedua netra Agnes. Dan kebetulan rekan bisnis Erick, sudah menghampiri mereka. Dengan terpaksa Erick menyapa Ridwan beserta istrinya, dan tentunya Agnes the power of Nyonya Erick bersikap ramah kepada relasi suaminya, sedangkan Delila hanya bisa bermuka masam di samping Rio seperti tidak ada artinya. Akan tetapi Delila memperhatikan gerak gerik Alya. Tatapan iri hadir di kedua netra Delila.


Di saat menyapa relasi perusahaannya kedua netra Erick tetap tidak bisa teralihkan oleh apa pun, berulang kali pria itu melirik ke arah tempat Alya berdiri, sedangkan wanita yang sedang ditatap sepertinya tidak tahu, sibuk dengan lawan bicaranya.


Sakit....sakitkah rasanya melihat wanita yang telah di hina dengan mulut pedas dirinya, kini berdiri dengan penampilan anggunnya dan berdampingan dengan pria lain, pria yang katanya calon suami wanita cantik itu. Sedangkan dia sebagai suami sahnya tidak bisa berdiri di sana mendampingi istrinya, dan turut berbangga hati atas prestasi istrinya kepada semua orang. Susah payah Erick menelan salivanya dengan kasar, apalagi ketika Bram memberikan segelas air untuk Alya dengan tatapan penuh damba. Terkepallah kedua tangan Erick, jika keadaan memungkinkah mungkin dirinya akan mengumpat, merutuki sikapnya sendiri.


Kenapa hati saya sakit lihatnya!!


Pria itu terlihat melamun ketika di ajak bicara dengan rekan bisnisnya, ”Pak Erick, anda baik-baik sajakan? Saya perhatikan sedari tadi sedang memperhatikan sesuatu,” tegur Ridwan.


“O-oh maaf Pak Ridwan, saya selintas memikirkan pekerjaan di kantor saja,” jawab Erick, langsung melepaskan tatapannya.


“Kalau begitu saya beserta istri ke meja dulu, sepertinya acara akan di mulai,” pamit Ridwan.


“Silahkan Pak Ridwan, nanti kita lanjut obrolannya,” balas Erick.


“Sebaiknya kita juga duduk menepati tempat yang telah di sediakan, Pak Erick,” sambung Rio, sambil mengarahkan meja yang telah di siapkan panitia, Agnes dan Delila turut mengikutinya. Untungnya meja makan model bundar, jadi posisi Agnes dan Delila aman untuk duduk satu meja, walau tidak berada di sisi Erick, tapi tetap bisa satu meja makan dengan suaminya.


Siapa yang tidak senang bisa semeja dengan suami gantengnya, dan bisa menunjukkan dirinya sebagai salah satu istri CEO yang sangat sukses di khalayak orang banyak, itulah Agnes, sedangkan Delila masih dalam posisi tidak di ketahui oleh orang banyak kalau dirinya juga istri Erick.


Erick menelisik ke semua meja makan ternyata meja makan yang di tempati oleh Alya beserta kedua orang tuanya persis di depan meja yang di tempatinya, kesempatan untuk dia menatap istrinya yang sedang hamil itu, akan tetapi tetap hati pria itu nelangsa, rupanya Bram duduk di samping Alya, pria itu kembali terasa tertampar melihatnya.


“Huft.......,” Erick kembali menghela napas panjangnya dengan kasar ke udara.

__ADS_1


🌹🌹


“Mah, Alya ke toilet dulu ya,” bisik pamit Alya ke mama Danish, di sela-sela jamuan makan yang telah mulai.


“Ya nak, perlu mama temani gak?” tawar Mama Danish.


“Gak usah mah, bisa sendiri,” jawab Alya, kemudian wanita itu mulai beranjak dari duduknya.


Melihat Alya beranjak dari duduknya, Erick menghentikan aktivitas makannya. Kemudian ikut beranjak dari duduknya. Kesempatan untuk pria itu mengikuti Alya.


“Mas Erick, mau kemana?” tanya Agnes.


“Toilet,” jawab singkat Erick, lantas meninggalkan meja, dengan langkah terburu-buru agar tidak kehilangan jejak langkah Alya.


Sekarang Alya sudah keluar dari ballroom karena toilet adanya di luar ruang ballroom,  begitu pun juga Erick sudah keluar dari ballroom mengikuti Alya.


Alya tak menyadari jika dirinya telah di ikuti oleh Erick dari kejauhan. Sedangkan pria itu sangat berhati-hati biar tidak terlalu ketahuan.


Setelah Alya masuk ke dalam toilet, Erick sudah stand by di luar pintu toilet wanita.


Ceklek......bunyi salah satu pintu kamar mandi terbuka. Alya keluar dengan posisi menundukkan kepalanya karena sambil merapikan dress bagian bawahnya.


Tak lama kemudian......


DEG


Di hadapan Alya dan masih di dalam toilet khusus wanita, berdirilah pria ganteng itu, Erick.


Lantas mereka berdua saling bersitatap seketika itu juga.


“Alya Zafrina Sadekh,” sapa Erick.


Alya bergeming.........

__ADS_1


“Betulkah kamu, Alya Zafrina Sadekh, istri dari Erick Triyudha Pratama,” tanya Erick pelan, pria itu dapat mencium aroma tubuh yang sangat di kenalnya wangi wanita berkacamata.


Alya tak menjawab, justru melangkahkan kakinya ke arah wastafel, kemudian mencuci tangannya, serta  menghiraukan tatapan Erick.


“Bisakah kamu menjawabnya?” tanya Erick kembali, masih berusaha mencari jawabannya.


“Saya sedang mencari istri saya, tadi saya sempat mendengar nama kamu sama dengan nama istri saya saat di acara fashion week,” ujar Erick masih belum putus asa.


“Nama Alya Zafrina Sadekh itu banyak? Kalau boleh tahu seperti apa rupa istri anda?” Alya mulai membuka suaranya.


“I-istri saya pakai kacamata, kemudian wajahnya agak j----,” lidah Erick mulai terasa keluh, tidak sanggup menyebutkan ciri-ciri yang sering dia ucapkan ke Alya.


Tatapan Alya sedikit menajam terhadap pria yang berdiri di hadapannya.


“Istri anda berkacamata, sedangkan saya tidak menggunakan kaca mata. Tadi anda mau bilang apa wajah istri anda kenapa? Wajahnya je-jelekkah? Sedangkan saya wajahnya tidak jelekkan? Sepertinya anda salah orang, Pak. Nama boleh sama, tapi rupa berbeda,” jawab Alya dengan tenangnya dan terkesan dingin. Jawaban telak buat Erick.


Alya kembali melangkahkan kakinya, untuk keluar dari toilet. Akan tetapi Erick langsung meraih salah satu lengan Alya.


“Dari wangi dan suaramu, kamu persis dengan istri saya,” ujar Erick, masih menahan lengan Alya.


“Parfum bisa di beli oleh setiap orang, tidak hanya satu orang yang memilikinya, sedangkan suara bisa saja kebetulan mirip!” ujar tegas Alya tanpa  menoleh ke arah Erick. Kemudian wanita itu menghentakan tangan Erick yang memegang lengannya, hingga terlepas.


Semua ucapan Alya ada benarnya, tapi pria itu sangat yakin jika wanita cantik itu adalah istrinya yang sedang mengandung benihnya.


bersambung...........aduh si babang Erick, mengejar istri sampai masuk ke dalam toilet wanita 🤭


Halo Kakak Readers semuanya, selamat hari Senin, jangan lupa tinggalin jejaknya ya biar tambah semangat nulisnya. Buat yang masih punya vote jangan lupa lemparin buat Alya dan Erick ya.


Love you sekebon 🌹🌹🌹



Oh iya sekalian saya mau promo novel karya Author Watilaras, jangan lupa mampir ya Kakak Readers

__ADS_1



__ADS_2