
“Jangan asal menuduh Alya, Pak Erick itu sangat subur benihnya, saya tahu karena pernah menemaninya mengecek ke rumah sakit,” ujar Rio.
“Oh......terus kenapa istrinya selain Bu Agnes belum hamil?”
“Istri keduanya sempat inseminasi, tapi hasilnya negatif. Katanya sedikit trauma buat program inseminasi lagi.”
“Ooo....seperti itu.”
Ting.......lantai dua belas.
Antara semangat dan malas untuk ke ruangan CEO, mentang-mentang Bos harus di patuhi.
“Permisi Pak Bos, ada Alya.” Ujar Rio ketika membuka pintu.
“Suruh masuk, dan kamu boleh keluar,” jawab Erick.
“Jangan keluar Pak Rio, tetap di sini aja......nanti kalau ketahuan saya cuma berduaan di ruangan sama Pak CEO, nanti saya bisa di terkam sama dua singa betinanya........kan takut,” ejek Alya.
Kedua netra Erick melotot menatap Alya dan Rio yang masih berdiri di depan pintu.
“Sepertinya saya harus keluar Alya, kamu gak lihat singa jantannya sudah melotot.”
“Kalau begitu saya ikut keluar aja deh Pak Rio, dari pada di terkam sama singa jantan......,” spontan Alya memegang lengan Rio. Dan itu sangat terlihat oleh Erick.
Erick bangkit dari duduknya, menghampiri Alya kemudian menarik lengan Alya.
“Eeeh....eh.....,” ucap Alya, merasa lengannya di tarik.
“Keluar, Rio,” titah Erick, pria ganteng itu segera menutup pintu ruangannya, kemudian menguncinya.
Napas Erick mulai naik turun setelah melihat Alya sempat memegang tangan Rio.
Erick menarik tangan Alya, dan menghempaskan wanita berkacamata itu ke atas sofa.
__ADS_1
“Sampai berapa lama, kamu mau menghargai saya sebagai calon suami. Di depan mata saya, kamu berani pegang tangan pria lain!” sentak Erick, raut wajahnya bagaikan orang yang sedang cemburu.
“Ha.....ha.......ha.....” Alya tertawa kecil.
“Pak Erick, siang bolong gak usah ngelawak deh. Masih saja di bahas masalah calon suami. Ingat Pak.......istri cantiknya ada dua,” ejek Alya. “Jadi saya di suruh ke ruangan Bapak cuma buat ngelihat Bapak ngelawak aja ya!!”
“Kamu gak lihat, di meja ada apa!” balas Erick. Alya langsung memperhatikan meja sofa yang sudah tersaji beberapa makanan.
“Ada makanan,” ujar Alya.
“Temani saya makan siang, ini juga makanan di buat khusus demi persiapan---,”
“Inseminasi....,” sela Alya, sudah paham.
“Ini hanya kita berdua saja yang makan? Tidak mengajak kedua istri Pak CEO?”
“Hanya kita berdua,” balas Erick datar.
“Lain kali tidak perlu seperti ini, jagalah hati kedua istri Pak Erick. Saya tidak mau jadi bumerang di antara ke dua istri Pak Erick,” ujar serius Alya, wanita berkacamata itu refleks mengisi piring yang kosong dengan nasi dan lauk, dan memberikannya kepada Erick. Pria itu menerima piring yang telah di siapkan Alya.
“Dan ini makan siang bersama kita untuk terakhir kalinya, setelahnya saya harap kita tidak perlu sedekat ini. Saya hanyalah karyawan bapak dan bu Agnes sebagai mesin pencetak anak. Jadi saya harap Pak Erick bisa bekerja sama, karena persiapan untuk inseminasi bukan hanya fisik saja, tapi butuh ketenangan hati. Jika Bapak sungguh sungguh ingin memiliki anak dari saya melalui inseminasi, dukunglah saya, berikanlah ketenangan itu. Saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya!” wanita berkacamata itu berkata, tapi tak sedikit pun menatap Erick, dirinya sibuk menyendok nasi dan lauknya.
Hati Erick kembali berdenyut, dan ditambah sedikit nyeri, kenapa begitu mudah Alya berkata dengan tenangnya.
Alya melepas sepatu high heelsnya dan duduk di lantai sejajar dengan meja sofa yang pendek, tanpa rasa malu, wanita itu menyantap makan siangnya. Erick hanya bisa menatap teduh, melihat calon ibu anaknya. Wanita yang terkadang tidak memedulikan sikapnya, dan benar benar tidak menampakkan sikap anggunnya di depan Erick.
Bagaimana bisa pria ganteng ini ada perasaan nyaman jika berada di samping wanita itu, yang jelas-jelas sudah di tolak pria itu dari awal.
“Ayo di makan Pak CEO, bukannya tadi mengajak saya untuk makan bersama, jangan di lihatin aja piringnya, gak bakal kenyang,” ucap Alya, kedua pipinya sudah membulat karena mulutnya sudah penuh dengan nasi.
Erick mulai menyantap makan siangnya, dengan sesekali mencuri menatap calon ibu anaknya yang begitu lahap makannya.
“Tidak bisakah kamu membatalkan poin pelarangan saya untuk ke rumah kamu. Saya sudah menyetujui kamu tetap tinggal di rumahmu sendiri.”
__ADS_1
“Tidak bisa! ini perjanjian antara saya dengan Bu Agnes. Bapak cukup mematuhi dan tidak bisa ikut campur!” tegas Alya.
“Setiap istri pasti tidak suka melihat suaminya dekat dengan wanita lain walau tidak ada rasa atau hubungan apa pun, seharusnya Pak Erick memahami akan hal itu. Jagalah hati kedua istri Pak Erick, sekali lagi saya tidak membutuhkan perhatian Pak Erick baik itu untuk alasan inseminasi. Tolong biarkan kerja sama ini berjalan lancar mulai dari awal sampai kesepakatan ini berakhir,” pinta Alya.
Sambil mendengar ucapan Alya, Erick begitu mengamati wajah Alya, mulai dari mata turun ke hidung lalu ke bibir. Pria ganteng itu menatap lekat-lekat kedua netra Alya yang tertutup dengan kacamatanya. Dibalik kacamata yang tebal ada iris mata berwarna abu, bulu mata panjang dan lentik. Hidung mancung, bibir merah alami. Tapi kenapa wajahnya bisa tidak menarik?
Sendok dan garpu yang berada di genggaman Erick, hampir saja bengkok menahan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul akibat ucapan Alya wanita berkacamata itu.
“Berapa banyak lagi uang yang kamu butuhkan? agar kamu menarik poin pelarangan itu. Pastinya kamu mau menjadi ibu pengganti karena uang kan? Sebutkan kamu mau tambah berapa satu milyar, dua milyar atau lima milyar dan tarik poin itu!!” Erick coba bernegosiasi dengan Alya.
Wanita berkacamata itu meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya, langsung menyudahi makannya.
“Saya akui memang membutuhkan uang, tapi bukan dengan semena-menanya Bapak merendahkan diri saya dengan uang!!” sakit, pastilah sakit rasanya di rendahkan oleh seseorang.
Alya merapikan piring makannya, kemudian beranjak dari duduk di lantainya, dan memakai kembali sepatu high heelsnya.
“Alya mau ke mana?”
“Terima kasih atas makan siangnya, Pak Erick,” sambil membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormatnya.
“Tunggu pembicaraan kita belum selesai,” pinta Erick.
“Kesepakatan kita sudah jelas dan sudah di tanda tangani di ruang Bu Agnes!”
Pria ganteng itu meraup wajahnya dengan kasar, putar otak agar dirinya tetap bisa ke rumah Alya, tanpa larangan. Alya bergegas membuka pintu ruangan, untungnya kunci masih mencantol di kenop pintu. Hingga tidak ada drama cari kunci pintu.
Negosiasi tidak berhasil!!
Saya mungkin akan menjadi ibu pengganti, tapi saya tak ingin menjadi perebut suami orang....batin Alya.
bersambung......siap-siap kondangan
__ADS_1