Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Acuhnya Erick


__ADS_3

Rumah Sakit


Kepala Alya tertunduk ketika mendengar ceramah Mama Yanti dan Mama Danish, hati terasa sedih.


“Nak sebaik-sebaiknya seorang istri walau hanya di atas kertas, tidak pantas kamu bercerita tentang masalah rumah tangga kamu dengan pria lain, walau kamu dekat dengannya. Jika kamu ingin curhat cukup dengan mama atau dengan mertuamu.”


Kepulangan Andri dari rumah sakit, Alya sempat bercerita dengan Mama Yanti apa saja yang di bicarakan oleh Andri selain mengenai kerjasama mereka berdua. Akan tetapi wanita cantik itu mendapat teguran keras.


“Ini bukan maksud mama membela Erick suami kamu, tapi ini untuk kebaikan kamu sendiri. Mama paham pernikahan kamu dengan Erick memang tidak ada landasan yang kuat, hanya karena status seorang anak. Jadi bersabarlah, status kamu masih istri......belum menjadi janda,” tutur Mama Yanti, kecewa dengan sikap Alya.


Alya mengakui kesalahannya yang tidak dia sadari, bercerita walau sekilas kepada Andri mengenai statusnya. Tapi semua sudah terlanjur,  tidak mungkin di putar ulang bagaikan kaset, di putar mundur lalu menghapus ucapan wanita itu. Dan untungnya Alya tidak menceritakan ketika Andri mengecup pipinya, yang tak bisa di hindarinya, karena kejadiannya begitu cepat. Jika sampai terucap, mungkin Mama Yanti dan Mama Danish tambah marah.


“Sudah Bu Yanti, jangan di marahi Alya, tidak seratus persen kesalahannya. Ya seperti kita kalau bertemu teman, jika sudah ngobrol kadang kita lupa mengerem mulut kita, hingga tak di sadari membuka aib sendiri. Akan tetapi yang terpenting langsung menyadari jika hal itu salah, dan menjadi pelajaran untuk ke depannya. Dalam kehidupan tidak selamanya kita baik, pasti akan melakukan kesalahan walau kecil, baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Manusia tidak ada yang sempurna.”


Tentang berumah tangga, tidak sepenuhnya Alya merasakan berumah tangga. Alya hidup terpisah dengan suaminya Erick, menikah tapi tidak berasa punya suami........ini yang dilalui oleh Alya.


Tapi jujur hati kecil Alya tersudutkan, karena terkesan Mama Yanti membela Erick.


Mama Yanti sebenarnya juga merasa tidak enak hati setelah menegur Alya, dan menasehati masalah rumah tangganya dengan Erick, suami di atas kertasnya.


“Semoga kamu selalu ingat nasehat mama, nak,” ujar Mama Yanti.


“Ya....mah,” jawab pelan Alya.


Alya kembali membaringkan tubuhnya, sungguh hari ini jadi semakin berat......setelah tadi pagi kedatangan Agnes, siang Andri, sore dapat teguran dari mamanya.


Andaikan Mama Yanti dan Mama Danish tahu kedatangan Agnes tadi pagi, mungkin kedua mama ini tidak akan menegur terlalu keras kepada Alya.


Malang sekali nasibku kenapa begini........sedih batin Alya.


“Bu Yanti sebaiknya kita keluar dulu, biar tenang Alyanya,” ajak Mama Danish, kasihan juga melihat Alya yang tertunduk dengan wajah sedihnya.


Mama Yanti menerima ajakan Mama Danish untuk meninggalkan Alya sebentar di kamarnya, lagi pula sudah ajudan yang berjaga di luar ruangan. Jadi menurut mereka berdua pastilah aman.


Dalam pembaringannya, Alya hanya bisa meratapi hidupunya.Rasa lelah menyelusup di hati wanita itu, lelah yang selalu menghantam dirinya bertubi-tubi, setelah menjadi istri Erick.

__ADS_1


Bolehkah merasakan bahagia, walau hanya sehari........tapi sepertinya kebahagiaan itu tidak mau menghampiriku.........batin Alya.


Wanita cantik itu menaikkan selimutnya sampai ke leher, tubuhnya merasa dingin......dan semakin dingin, menusuk sampai ketulangnya. Mungkin wanita itu langsung mendapatkan hukuman dari Sang Maha Kuasa.


🌹🌹


Perusahaan Pratama


Kilatan api sudah mulai membara di kedua netra Erick, wajah pria itu mulai mengeras ketika melihat foto Andri mengecup pipi Alya.


Berhakkah pria itu marah, berhaklah karena pria itu masih berstatus suaminya. Tapi sebenarnya lucu pria itu marah pada wanita yang sering di hinanya.


BRAK!!!


Kedua tangan Erick menggebrak meja kerjanya.”Brengsek.......!!” umpat Erick, entah kepada siapa pria itu berkata. Tapi suara gebrakan Erick, lumayan membuat orang lain tersentak.


Erick melirik ke arah Agnes yang belum siuman, sekretarisnya sedang sibuk memberikan minyak angin ke hidung Agnes.


“Rio.....!” panggil Erick, melihat asistennya sudah selesai menelepon dokter.


“Hubungi HRD untuk buat surat pemecatan Fatur dan Agnes, hari ini juga! Dan jika dokter sudah datang dan mengecek Agnes, suruh sopir mengantarnya pulang,” titah Erick.


“Baik Pak Bos, memangnya Pak Bos mau ke mana?” tanya Rio heran, melihat Erick seperti orang yang sedang bersiap-siap pergi, dan kesannya membiarkan istrinya pingsan begitu saja. Tidak seperti biasanya.


“Saya mau ke rumah sakit, sekarang juga tidak bisa di tunda, jadi tolong urusi Agnes,” jawab Erick, kemudian pria itu bergegas meninggalkan ruangannya.


Salah satu mata Agnes terbuka sedikit, bagaikan orang mengintip.


Tega kamu Mas Erick, aku pingsan kamu biarkan saja......malah meninggalkan aku.........keterlaluan kamu Mas Erick...........geram batin Agnes.


Dengan kepura-puraannya dia menjatuhkan dirinya ke lantai, tidak membuat Erick tergugah seperti biasanya, mencemaskan atau mengkhawatirkan keadaannya. Wanita itu rasanya ingin langsung sadar dari kepura-puraannya, dan mengejar suaminya yang telah keluar dari ruangannya. Tapi ada daya, dirinya akan malu, karena banyak orang di ruangan Erick.


🌹🌹


Rumah Sakit

__ADS_1


Selama tiga puluh menit Erick mengendarai mobilnya sendiri tanpa sopir, bagaikan orang gila mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, untungnya selamat sampai lobby rumah sakit.


BRUK !!


Pintu mobil terbanting dengan kerasnya ketika ditutup oleh pria itu seperti sedang melampiaskan emosinya, wajah ganteng itu sudah terlihat garang. Kemudian dengan langkah besarnya, pria itu menuju kamar rawat Alya.


“Tuan Erick....,” sapa Rocky.


“Siapa yang ada di dalam kamar?” tanya Erick sebelum masuk ke dalam kamar.


“Nyonya Besar bersama Ibu Yanti sedang keluar. Tinggal Nyonya Alya sendiri di kamar,” lapor Erick.


“Saya mau masuk ke dalam, jangan ada siapa pun boleh masuk ke dalam kamar selama saya ada di dalam!!” titah Erick.


“Baik Tuan,” jawab patuh Rocky.


Erick membuka pintu kamar, lalu masuk dan mengunci pintu kamar. Kali ini pria itu tidak mengendap-endap masuknya, justru dengan sengaja agar suara sepatunya terdengar jelas di telinga Alya.


Dan benar saja, mendengar suara tapak sepatu, membuat Alya membuka kedua kelopak matanya.


“Ya Allah.....apalagi yang akan terjadi......bisakah sejenak saya istirahat,” gumam lemah Alya sendiri, melihat kedatangan Erick, dan pria itu sudah berdiri di samping ranjangnya.


bersambung..........Erick mau ngapain? Kenapa pintu di kunci? Ada yang mau requestkah Erick mau ngapain?


Hari ini tambah bab lagi khusus request Kak Ayumi, Kak Xena dan Kakak Reader yang lainnya. Jangan lupa besok hari senin, vote buat Alya dan Erick ya Kakak, biar semangat lanjutin ceritanya


Makasih Kakak Readers semuanya, love sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹.



 


 


 

__ADS_1


__ADS_2