Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Pagi yang indah


__ADS_3

Alya sudah terlelap pulas setelah pergumulannya dengan suaminya. Erick tersenyum melihatnya, pria itu dengan keterbatasan tangannya....membersihkan sisa pergumulannya di kedua paha bumil itu yang sudah menyerah karena kelelahan, tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya, padahal hanya satu ronde.


Pria itu kembali mengecup pipi istrinya, hatinya masih merasa bahagia telah memiliki istrinya dengan seutuhnya, dan terselip rasa yang paling terpuaskan dalam hidupnya. Kemudian ikut berbaring di samping istrinya dalam satu selimut.


Bibir pria itu masih saja membingkai senyumannya sendiri, masih tidak puas menatap istrinya. Boleh jadi buat pria itu malam ini bukanlah pengalaman pertama dalam berhubungan intim, tapi buat pria ini sungguh hubungan intim yang paling indah saat penyatuan dengan istrinya Alya, karena ada rasa cinta yang begitu menggelora.


🌹🌹


Esok hari..


TOK...TOK...TOK


Berulang kali kamar Erick di ketuk oleh Mama Danish, tapi masih saja belum ada yang menjawab atau membukakan pintu, padahal sudah jam delapan pagi. Tak biasanya Erick dan Alya bangun siang pikir Mama Danish, atau mungkin karena acara syukuran kemarin membuat mereka berdua kelelahan.


Rupanya pasangan lama yang baru saja melakukan  ritual malam pertama masih terlelap dalam tidurnya. Akan tetapi  sayup-sayup telinga Alya dan Erick mendengar suara ketukan pintu di kamarnya.


Wajah Alya masih menggusel di dada Erick yang masih belum menggunakan baju, begitupun Alya yang masih polos hanya tertutupkan selimut tebal.


Tangan kiri Erick refleks mengelus bahu Alya, yang entah berapa lama tangannya jadi bantal buat kepala istrinya.


Wanita itu mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, merasa berat matanya namun di paksa dibuka dan melihat dia sudah bersandar di dada suaminya.


“Dad...,” suaranya terdengar parau, sambil mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah ganteng suaminya.


“Mmm.......,” gumam Erick, sambil mencoba membuka matanya.


“Perut mommy lapar dad...,” lanjut Alya, kedua babynya sudah meronta-ronta di dalam perutnya.


Kedua netra Erick langsung melirik ke jam dinding, ternyata sudah jam delapan lewat, mereka berdua sudah bangun kesiangan. Pria itu menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir istrinya, wanita itu membalas kecupan suaminya. Hingga terjadilah saling berpagutan.


“Dad, mommy lapar,” ujar Alya terpaksa melepaskan pagutannya, yang mulai terbakar gairah.


“Ya....sayang, kita bangun dulu ya..,” pinta Erick, kalau tidak ingat istrinya lagi hamil dan kelaparan rasanya ingin mengulangi malam indah semalam, sungguh dirinya selalu berhasrat tinggi jika dekat istrinya ini.


Alya mencoba beringsut dari posisinya sambil menutupi dirinya dengan selimut tebalnya. Begitu pun Erick. “Agh........,” ringis pria itu merasakan tangan kanan agak sakit.


“Kenapa Dad, tangannya sakitkah?” tanya Alya, melihat ringisan di wajah Erick.


“Sedikit mom.”


“Mommy udah bilang dari semalam, daddy yakin tangan baik-baiknya, sekarang sakitkan......ngeyel sih,” celetuk Alya, wanita itu berdiri dari ranjang dan mengambil dress nya yang tergeletak di lantai, tanpa menggunakan dalaman, wanita itu langsung memakai drees rumahnya karena ingin mengurusi suaminya yang masih duduk di atas ranjang.


“Oouts........,” Alya merasa sakit di bagian feminimnya ketika berjalan.


Erick yang masih merasa sakit di tangan kanannya, langsung beranjak dari duduknya, lalu menahan tubuh  istrinya yang sedikit terhuyung. “Mommy....”

__ADS_1


“Hiks....hiks......sakit dad, gara itu daddy.......punya mommy sakit,” isak Alya, sambil menunjuk sesuatu yang bergelantungan di tubuh pria itu, aduh sungguh pria itu tidak menutupi tubuh gagahnya.


Pria itu terkekeh kecil melihat raut wajah istrinya yang kesakitan, di papahnya untuk kembali duduk di tepi ranjang. “Dad, pakai dulu boxer....gak enak lihatnya,” pinta Alya.


“Gak usah malu-malu lihatnya mommy, semalam mommy malah sampai menjerit-jerit enak kok,” balas Erick, sambil mengambil handuk. Wanitanitu mendesis jengkel.


“Bantuin pakai mom, daddy nanti mau langsung mandi aja, minta bantu sama perawat,” sambil menyodorkan handuk.


“Pantesan aja sakit banget semalam, ternyata besar banget,” gumam Alya  ketika memakaikan handuk ke bagian pinggang Erick.


“Sakit ya sayang?”


“Iya .....sakit banget.”


“Boleh nambah lagi gak?”


PUG


Tangan Alya sudah menepuk bahu sebelah kiri Erick, “punya mommy masih sakit, tangan daddy juga sakit.....jangan minta nambah deh. Daddy tega bikin mommy sakit,” ngambek Alya, wajahnya mulai cemberut.


“Cup...cup... sayang, daddy cuma bercanda tapi kalau di kasih beneran daddy gak nolak, habis mommy enak banget bikin daddy ketagihan,” goda Erick, sambil mengecup pipi istrinya.


“Udah daddy jangan cium terus, mommy lapar,” rengek Alya.


“Kalau tangan daddy gak patah, daddy pengen gendong mommy ke kamar mandi. Sekarang daddy bantu antar mommy ke kamar mandi ya, bersihkan diri dulu. Baru kita sarapan,” pinta Erick dengan lembutnya.


🌹🌹


Alya masih menahan rasa sakit serta gilu di bagian feminimnya, ketika mereka berdua sudah turun ke bawah untuk sarapan pagi yang telat.


“Tumben nak, kalian berdua baru turun?” tanya Mama Danish.


“Alya sedikit kecapean mah, jadi kami berdua bangunnya telat,” jawab Erick.


“Alya, kok wajah kamu kayak orang kesakitan. Kamu sakit nak, terus kok lehernya-?” Mama Danish tak sanggup buat melanjutkan omongannya, setelah melihat semua leher Alya sudah kayak totol macan.


Alya langsung menutup lehernya dengan  kedua lengan, wanita itu lupa jika hampir semua tubuhnya penuh dengan jejak suaminya.


“Erick, istrimu lagi hamil...mainnya jangan ganas-ganas. Ingat di jaga kandungannya,” celetuk Mama Danish.


Erick hanya bisa menggaruk kepalanya, sambil melihat wajah istrinya kembali cemberut.


“Alya, nanti mama belikan cream buat menghilangkan rasa perih dan sakitnya, ingat suami kamu jangan dituruti nafsunya.”


Rasanya wanita itu pengen kembali masuk ke kamar, malu sama Mama Danish, yang paham sekali apa yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


“Sudah jangan malu sama mama. Mama dulu juga begitu malah lebih parah sampai dua hari gak bisa jalan karena di tempur terus sama Papa,” tukas Mama Danish.


“HAH.....sampai gak bisa jalan!” terkejut Alya, lalu melirik ke arah suaminya.


“Awas kalau daddy buat mommy gak bisa jalan. Mommy gak kasih jatah lagi!!” ancam Alya.


Erick hanya bisa tergidik bahunya setelah dapat  ancaman dari Alya. Nasib deh kalau Mama Danish udah provokator istrinya, alamat puasa lagi.


“Sudah...sudah...sekarang sarapan dulu, kasihan bumil pasti lapar berat,” pinta Mama Danish.


Memang lapar berat si bumil, hingga menuangkan semua lauk ke piringnya sampai penuh, kemudian segera menyantapnya dan tak lupa menyuapi suaminya juga.


“Daddy, nanti coba terapi ke ahli patah tulang. Biar cepat sembuh tangannya,” pinta Alya.


“Rencananya begitu, nanti siang daddy mau ke sana. Mommy di sini sama mama saja ya, gak usah ke kantor dulu. Lagi pulakan—“ pria itu melirik kebagian bawah istrinya.


“Daddy gak usah pakai melirik ke bawah,” tegur Alya sembari  menyodori sendok makan ke mulut pria itu.


“Apa perlu kita ke dokter... mom,  daddy kasihan ngeliat mommy dari tadi meringis?”


“Kalu besok masih rasanya gak enak, baru ke dokter, dad, lagi pula mama mau beliin creamnya,” balas Alya.


“Ya sudah kita lihat besok.”


“Mmm...”gumam Alya.


Begitu telaten Alya mengurus suaminya, baik mengurus pakaian lalu makannya...seperti saat ini. Sungguh hal yang indah buat pria itu, berasa jadi suami yang sesungguhnya. Pria itu tak pernah bosan selalu menatap istri cantiknya, wanita yang mampu meluluh lantahkan hatinya sedalam-dalamnya


 


*bersambung.....


Mohon maaf telat upnya, harus bawa anak-anak ke dokter, dan lagi jadi perawat buat anak-anak. Jadi mohon di maklumi ya Kakak Readers, di usahakan tetap up walau tidak bisa maksimal.


Kakak Readers jangan lupa tinggalin jejaknya ya, like, komen, poin, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, buat yang punya vote mau dong buat Alya dan Erick. Terima kasih sebelumnya


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹*


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2