
Empat puluh lima menit mobil mewah yang membawa Erick dan Alya sudah sampai di luar lobby rumah sakit.
Penuh rasa hati-hati, pria itu membantu si bumil keluar dari mobilnya.
“Hati-hati sayang, jangan sampai ke jedot kepalanya,” salah satu tangan pria itu sudah bernaung diatas kepala si bumil agar tidak beradu dengan langit atas mobil saat mau keluar.
Mama Danish dan Mama Yanti rupanya sudah menunggu mereka berdua.
“Nak, kamu sudah bikin janji sama Dokter Dewi nya?” tanya Mama Danish.
“Semalam sudah daftar mam, dan menghubungi Dokter Dewi minta kontrol hari ini,” jawab Erick.
“Ya sudah sebaiknya kita menunggu di depan ruang prakteknya saja,” sambung Mama Yanti, sambil mengamit siku Alya, untuk di gandeng. Begitu pula Mama Danish, wajah Erick berubah masam melihat kedua mama sudah menguasai istrinya. Alya hanya bisa terkekeh melihat wajah masam pria itu.
“Begini banget punya istri, kalau udah ketemu sama mama, pasti langsung di kuasai....udah tahu mau gandengan tangan...huft,” gumam Erick, mulai bete.
“Sabar Pak Bos, maklumlah istri ketiganya, istri kesayangan mertua sama mamanya. Bagaimana kalau Pak Bos, gandeng tangan saya, biar kita semakin akrab,” ledek dan goda si Rio, dengan mengedipkan matanya.
“Astaga Rio, sepertinya kamu yang harus kontrol ke dokter jiwa. Amit-amit gandengan tangan sama batangan,” wajah Erick terlihat jijik lihat asistennya.
“Dari pada Pak Bos mukanya cemberut, makanya saya tawarin gandeng tangan saya. Dari pada Pak Bos gandeng wanita lain, bisa di hajar sama Nyonya Alya, malah bisa-bisa senjata Pak Bos di cincang abis sama Nyonya Alya,” tukas Rio, menakuti Bosnya sendiri.
“Udah sana ke bagian pendaftaran, cepat konfirmasi ulang,” Erick mendorong bahu asistennya, tapi kedua bahu pria itu mengedik mendengar senjatanya akan di cincang abis sama Alya. Jangan sampai terjadi, lagi pula cukup istrinya hanya Alya seorang, tidak ada cerita menambah istri lagi.
“Siap Pak Bos,” nyengir Rio.
🌹🌹
“Nyonya Alya Zafrina Sadekh, silahkan masuk,” ujar Suster Via sambil tersenyum tipis ketika memanggil nama wanita itu.
“Hai Suster Via,” sapa Alya sambil berbisik.
“Ada kue buat Suster Via,” ujar Alya sambil mengedipkan matanya, dan menyodorkan kotak kue yang sempat di belinya di coffe shop yang berada di rumah sakit.
“Makasih ya,” balas Suster Via.
“Sama-sama.”
“Ayo sayang, masuk ke dalam,” ujar Erick, sembari melihat Alya dan Suster Via berbincang sebentar di luar ruangan.
“Mari Nyonya Alya,” Suster Via mempersilahkan dan turut masuk ke dalam. Erick, Mama Danish, Mama Yanti ikut masuk ke ruang praktek Dokter Dewi.
Sedangkan Papa Bayu menunggu di luar.
“Assalamualaikum, Bu Dokter,” sapa Alya, wanita itu menghampiri, lalu memeluk Dokter Dewi.
__ADS_1
“Walaikumsalam,” Dokter Dewi menyambut pelukan Alya.
Erick terlihat heran dengan keakraban Alya bersama Dokter Dewi, sedangkan kedua wanita tersebut tersenyum dalam arti banyak rahasia di antara mereka berdua.
“Sudah lama kita tidak berjumpa, Pak Erick,” ujar Dokter Dewi.
“Iya Bu Dokter, sudah lama tidak bertemu. Saya baru bertemu dengan istri saya kemarin,” jawab Erick, sambil melirik istrinya.
“Alhamdulillah sudah bertemu kembali ya Pak Erick, sama istri cantiknya,” balas Dokter Dewi.
Dokter Dewi masih teringat bagaimana pria itu kalang kabut mencari Alya di rumah sakit, dan bagaimana pula pria itu mengobrak-abrik pihak rumah sakit karena satu wanita.
“Iya Bu Dokter, dan untuk kali ini tidak akan saya lepas. Akan saya ikat sekencang-kencangnya.”
“Iish.......sapi kali di ikat kencang biar gak kabur!” celetuk Alya.
Dokter Dewi hanya bisa tersenyum tipis.”Semoga tidak lepas lagi ikatannya Pak Erick. Kalau begitu silahkan Alya bisa naik ke atas brankar, kita mulai mengecek kandungannya,” pinta Dokter Dewi.
Mama Danish dan Mama Yanti hanya menyimak saja, tidak ikutan nimbrung.
Alya beranjak dari duduknya, tiba-tiba dengan sigapnya Erick mengangkat tubuh Alya, dan merebahkannya di atas brankar.
PUG
Erick hanya bisa nyengir kuda.
Kok di panggil Pak lagi, udah senang di panggil daddy waktu di mobil.....batin Erick.
Suster Via sudah mulai menyingkap dress Alya, tapi sebelumnya menutupi bagian bawahnya dengan kain, sedangkan bagian perut terbuka. Kedua netra Erick sangat kagum dengan perut bulat berwarna putih itu, ingin rasanya menyentuhnya langsung tanpa di terhalang kain.
Perut bulat itu sudah diolesi gel, dan Dokter Dewi mulai memegang alat transducernya, lalu menempelkannya ke bagian perut bulat itu.
Erick yang berdiri di samping brankar Alya mulai mengamati layar monitor begitu juga dengan Alya, melihat ke arah layar monitor yang ada di hadapan mereka berdua.
“Alya, Pak Erick bisa lihat ini calon baby twinnya berat badannya sudah 400 gram, ini kepalanya, ini tangan, lalu kakinya.....alhamdulillah lengkap,” ujar Dokter Dewi sambil menunjukkan raga calon baby twin dalam layar empat dimensinya.
Erick meraih tangan Alya, kemudian menggenggam erat tangan mungil wanita itu, rasa bahagia, rasa haru jadi menjadi satu ketika melihat calon baby twin milik pria itu.
“Baby twinnya panjang 27 cm, dan coba lihat hidungnya mancung loh,” ujar Dokter Dewi.
“Sayang, anak kita mancung hidungnya, kayak mommy,” ujar Erick.
“Pak Erick, hidungnya juga mancung kok,” balas Alya.
“Sekarang saya akan cek denyut jantungnya...,” ujar Dokter Dewi.
__ADS_1
Dug.....dug.....dug....dug
Irama dari calon baby twin terdengar jelas di dalam ruangan.
Kedua netra Alya mulai tergenang air mata, begitu pula kedua netra Erick. Sesuatu yang akan hadir ke dunia, sudah terdengar jelas denyut jantungnya, tanda ada kehidupan di dalam perut wanita itu. Alya meremas genggaman tangan Erick, dan disambut oleh Erick dengan mengecup kening wanita itu.
“Terima kasih untuk istri ku,” ujar lirih Erick. Wanita itu hanya bisa menatap hangat setelah mendapatkan sentuhan hangat di keningnya.
Mama Danish dan Mama Yanti ikut berbahagia melihat kondisi calon cucu mereka dari layar monitor.
“Pak Erick, sama Alya mau tahu jenis kelamin baby twinnya gak?” Tanya Dokter Dewi.
“Mau Bu Dokter,” jawab cepat Erick.
“Baik, kita sama sama cek jenis kelaminnya, semoga mereka berdua tidak menyembunyikannya,” imbuh Dokter Dewi, sembari menggerakkan transducer.
Tak butuh waktu lama. “Nah ketemu nih......,” ujar Dokter Dewi, buat orang awam gak paham dengan gambar usg, paling tidak mata mereka mengarah ke layar monitor.
“Wah....calon baby twinnya, dua-duanya punya tunas, Pak Erick, Alya.” ujar Dokter Dewi.
“T-tunas......berarti anak saya dua- duanya cowokkah?” tanya Erick.
“Betul sekali Pak Erick, jenis kelamin mereka berdua laki-laki, baby boy,” Dokter Dewi menjelaskan.
“Masya Allah, Alhamdulillah....,” Erick terlonjak kegirangan, hadiah yang terindah buat pria itu.
Lalu tanpa malu dan tanpa melihat tempat, pria itu menghunjami ciuman ke seluruh wajah Alya.
“Terima kasih istriku, mommy, sudah kasih hadiah yang terindah buat daddy,” ujar Erick setelah selesai menghunjami ciuman di seluruh wajah Alya.
Sedangkan wanita itu sudah menahan rasa malu, geram. ”Pak Erick.......Daddy, kebiasaan ya!!!” kedua netra Alya mulai melotot.
Erick hanya bisa menyeringai, dan pura-pura mengaruk kepalanya, sepertinya pria itu akan dapat hukuman lagi dari si bumil.
bersambung.....
Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng, hari senin jangan lupa ya masih punya vote, mau dong buat Erick dan Alya. Sebelumnya terima kasih ya kakak readers 🙏🤗😊.
__ADS_1