
Ruang Finance
“Fitri, kamu sudah kembali dari Bank. Mana uangnya?” tegur Fatur dari luar kubikel Fitri.
“Maaf Pak Fatur, untuk pengambilan uangnya, akan di konfirmasi ulang oleh pihak bank. Uangnya sedang di siapkan makanya saya kembali ke kantor terlebih dulu,” bohong Fitri, untuk mengelabui atasannya.
“Jam berapa kira-kira?”
“Kemungkinan sore.”
“Nanti kamu cek ulang ke Banknya, saya tidak mau tahu. Dana itu harus cair sore ini......hari ini juga! karena Pak Erick sangat membutuhkan dana itu,” sentak Fatur.
Waduh Pak Fatur, ternyata tukang bohong juga nih. Gue aja baru dari ruang CEO......ck..ck.....batin Fitri.
“Ehm.......,” di antara mereka berdua ada suara deheman pria. Fatur langsung memutar balik badannya.
“Pak Fatur di minta ke ruangan CEO, sekarang juga!!” ujar Rio dengan kata penuh penekanan.
“B-baik Pak Rio,” agak terkejut Fatur, melihat kehadiran Rio bak hantu datang tanpa suara, tahu-tahu sudah di belakangnya.
Manager finance itu mengikuti derap langkah kaki Rio yang gagah menuju ruang CEO. Fatur jalan tanpa beban, hatinya tidak bertanya-tanya kenapa dirinya di panggil.
“Siap-siap ya Pak Fatur, siapkan jantung sehat.......biar siap menghadapi kenyataan hidup yang perih ini!” celetuk Fitri, ketika Fatur sudah berlalu.
“Sudah waktunya Pak Erick tahu kinerja Fatur, mentang-mentang saudara sepupu istrinya Bu Agnes yang luar biasa angkuh. Suka semena-mena dengan bawahannya,” gumam Fitri sendiri.
Ruang CEO
“Pak Bos, sudah ada Pak Fatur.....,” lapor Rio, yang duluan masuk ke ruangan.
“Suruh masuk....,” pinta Erick.
“Pak Erick......,” sapa Fatur dengan wajah ramahnya.
“Silahkan duduk.....,” titah Erick dengan nada datarnya. Pria itu memperhatikan gerak gerik Fatur.
“Tumben saya di panggil ke sini, ada yang bisa saya bantu, Pak Erick,” ujar Fatur terkesan akrab.
“Bagaimana perasaan kamu selama bekerja di perusahaan saya ?” tanya Erick, masih menatap saudara sepupu Agnes.
“Perasaannya nyaman bisa bekerja di sini, kemudian para staf di sini sangat berkompeten jadi memudahkan saya dalam bekerja. Dan satu lagi, gaji saya lumayan besar,” ujar Fatur mengulas senyumnya.
__ADS_1
“Saking berkompeten, hingga kamu menyerahkan semua pekerjaan manager ke asisten manajer, begitukan!” sindir sinis Erick.
DEG
“B-bukan begitu maksudnya, mereka tidak mengerjakan pekerjaan level manager. Itu sudah tanggung jawab saya, semuanya masih terhandle oleh saya sendiri. Sampai asisten saya tidak mengerjakan apa pun, hanya bisa mengganggu staff yang sedang bekerja. Tapi untungnya asisten sudah mengundurkan diri, sayangkan kalau kita menggaji karyawan yang tidak becus, hanya makan gaji buta saja,” jawab Fatur tanpa dosa, senyumnya mulai pudar.
“Benar buat apa perusahaan mengaji karyawan yang tidak becus dalam kerjanya. Setuju dengan ucapan kamu,” Erick ikutan menyindir. Padahal sindiran Erick tertuju untuk Fatur.
Kurang aja, berani sekali menjelekkan Alya.......geram batin Erick.
“Oh ya.........sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan saya?” lanjut Erick bertanya.
“Kalau tidak salah sudah lebih dari tiga tahun.”
“Berarti sudah lama juga.....ya.”
“Iya sudah lama, berkat Agnes.......saya bisa bekerja di perusahaan sebesar ini. Terima kasih banyak Pak Erick.”
“Kalau begitu, selanjut kita ke inti masalahnya Fatur!!” Erick menggeser cek dan memo ke hadapan Fatur.
“Kamu bisa jelaskan maksud memo ini!!” suara Erick terdengar berat sekaligus tegas tanpa cela.
“Pak Bos, tadi saya sempat dengar kata Pak Fatur ke Fitri, hari ini Pak Erick membutuhkan dana dua milyar hari ini juga,” sela Rio, pria itu sudah gemas dengan ucapan Fatur saat dirinya memanggil sang manager finance.
“OOH.....seperti itukah Fatur? Kapan saya bilang ke kamu hari ini butuh uang cash sebanyak dua milyar!” sentak Erick, tangan pria itu memainkan pulpennya, ada rasa ingin melempar pulpen tersebut ke kening Fatur.
“A-anu.....,” Fatur mulai tergagap.
Kenapa cek dan memo bisa ada di tangan Pak Erick, bukankah harusnya ada di bank B........wah mampus deh........batin Fatur mulai gelisah.
“Anu...anu apa Fatur, jangan berbelit-belit.......langsung pada intinya. Cek senilai dua milyar, lalu memo ini siapa yang mengeluarkan dan siapa yang buat!!” gertak Erick, sorot mata tajamnya mulai menghunus ke mata Fatur yang terbelalak.
“Sepertinya selama tiga tahun kamu bekerja, dan menjabat sebagai manager finance di perusahaan saya, ketahuan tidak pernah bekerja, sampai tidak tahu prosedur penarikan uang di bank!!” sentak Erick sambil beranjak dari duduknya.
Keringat dingin mulai bercucuran di kening Fatur, padahal suhu ruangan sangat dingin. Tapi ucapan Erick, membuat pria itu gerah seketika, dan tubuhnya mulai bergetar.
“Dan ini......!” Erick menunjukkan anggaran yang di buat Alya.
Fatur kembali tersentak melihat berkas keuangan.
“Bekerja di divisi finance, selalu buat anggaran di awal bulan, untuk memonitor pendapatan dan pengeluaran perusahaan tiap bulannya. Hari ini kamu mengeluarkan cek senilai dua milyar, untuk pengeluaran apa? Atau jangan-jangan kamu tidak bisa baca anggaran yang dibuat asisten manager finance!!” sentak Erick kembali. Kesal melihat Fatur masih membungkam.
__ADS_1
Saya harus menyelamatkan diri nih.........masa saya yang kena getahnya. Gagal deh dapat duit 200 juta.....
“Jelaskan Fatur!!” suara Erick sudah meninggi.
Dilema untuk Fatur antara harus berkata jujur atau berbohong kepada suami saudara sepupunya. Kegelisahan mulai datang.
“A-Agnes meminta saya mengeluarkan uang perusahaan sebanyak dua milyar,” jawab pelan Fatur.
“Agnes, benarkah....atau hanya bisa-bisa kamu saja.....!!” ujar Erick, belum percaya.
“Benar saya tidak bohong Pak Erick, saya di minta oleh Agnes,” Fatur berusaha meyakinkan, walau tidak bisa memberikan bukti permintaan Agnes. Erick menghembuskan napasnya dengan kasar ke udara, masih belum percaya.
“Berarti memo ini kamu yang buat dan kamu yang meniru tanda tangan saya!!” tuduh Erick.
“Bukan saya yang buat, tapi Agnes, dan yang menanda tangani Agnes juga, ini juga memo baru di buat tadi pagi oleh Agnes,” jawab Fatur jujur.
Sorry Agnes, terpaksa harus berkata jujur ke suami kamu. Jangan saya aja yang kena getahnya.....enak aja. Kamu juga harus kena getahnya.......ngedumel batin Fatur.
Terduduk lemaslah Erick mendengarnya.
“Agnes......!” lirih Erick, raut wajah kecewa mulai terlukis.
“Agnes juga menjanjikan komisi sebanyak 200 juta jika cek dua milyarnya cair,” lanjut tutur Fatur.
Buat apa Agnes mengambil uang perusahaan sebanyak dua milyar, tanpa bilang ke saya! Keterlaluan kamu sudah di ambang batas, Agnes!!...... geram batin Erick.
“Perbuatan kamu sudah termasuk tindakan korupsi, yang harus di pertanggung jawabkan!”
“Saya tidak mau di bilang korupsi Pak Erick, yang mintakan Agnes, istri Pak Erick sendiri. Saya hanya ikuti perintah istri Pak Bos,” Fatur tidak terima, di katakan korupsi.
“Istri saya tidak berhak mengambil uang perusahaan tanpa sepengetahuan saya, karena Agnes bukan pemilik perusahaan pratama!!” ujar tegas Erick.
“Rio, panggilkan Agnes.....saya ingin masalah ini cepat tuntas!!” perintah Erick.
bersambung........yuk Agnes cantik, suamimu memanggil.
__ADS_1