
Mereka berdua diam sesaat, menurunkan emosinya agar tidak semakin memuncak.
Alya yang masih duduk bersandar di head board ranjang, melipat kedua tangannya ke dadanya.
“Katakan sebenarnya apa maksud kedatangan kamu ke sini sepertinya menjenguk itu alasan semata saja?” tanya Alya dengan tatapan mata seriusnya.
“Rupanya kamu tahu maksud kedatangan aku yang sebenarnya,” balas Agnes dengan nada sinisnya.
“Tidak perlu menunjukkan perhatianmu dengan saya atas anak yang sedang saya kandung, sepertinya kamu sama saja dengan Delila satu tipe, ingin melakukan sesuatu yang buruk terhadap saya!! Ya........hanya dugaan saja.......semoga saja tidak! Tapi karena mengingat dulu kamu saja berani menampar saya di lobby, di depan orang banyak. Kemungkinan kamu akan lebih berani melakukan hal yang buruk, karena di kamar ini hanya kita berdua, tidak ada orang lain!!” ujar Alya, langsung mematikan langkah Agnes.
“Wow luar biasa pikiran kamu, sudah sampai ke sana,” balas Agnes.
“Bukan luar biasa pikiran, tapi menganalisa dari setiap tindakan. Boleh jadi selama ini kamu menganggap saya bodoh, namun sayang saya tidak sebodoh yang kamu pikirkan......ck!” sahut Alya.
“Ayo segera katakan tujuan yang sesungguhnya, tidak usah basa basi. Karena kita bukanlah teman yang harus saling mengakrabkan diri!” perintah Alya.
Agnes mengatur napasnya sebelum mengutarakan maksud ke datangannya, sepertinya lawan bicara yang di hadapinya bukan lawan yang biasa, sangat berbeda. Bukan seperti menghadapi Delila yang masih bisa di setir dan di peralat.
Sejenak Agnes memperhatikan wajah cantik Alya, yang dia akui memang sangat cantik ketimbang dirinya sendiri dan Delila. Rupa wajah Alya sendiri bisa langsung membuat para pria terpesona, tanpa wanita itu harus bermake up, sudah cantik natural.........sempurna. Rasa ketar ketir di jiwa Agnes, sudah mulai menghentakan jiwa dia, akan rasa takut suaminya bakal tertarik dengan Alya, di tambah posisinya wanita itu sedang mengandung anak Erick.
Wanita pilihan Agnes, ternyata jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Dengan memasuki Alya dalam kehidupan rumah tangganya sebagai ibu pengganti di pikir akan berjalan lancar, ternyata di luar ekspetasinya. Rumah tangganya seakan terancam dengan kehadiran Alya, berbeda ketika Delila jadi madunya tidak ada perasaan terancam, akan kehilangan cinta dan perhatian Erick.
__ADS_1
“Aku minta dengan kamu secara baik-baik, segeralah bercerai dengan Mas Erick dalam waktu dekat ini tidak perlu menunggu kamu lahiran. Uang dua milyar yang pernah aku janjikan, besok akan aku antar, dan kesepakatan kita berakhir. Aku tidak mau bertindak gegabah seperti Delila, jadi tolong pahami posisi aku sebagai istri yang telah sepuluh tahun menemani Mas Erick. Jadi aku harap kamu bisa merasakannya dan menyadari posisi kamu yang sesungguhnya. Aku sudah tak sanggup lagi di madu, aku ingin menjadi istri satu-satunya Mas Erick, tidak ingin berbagi suami,” Agnes menurunkan sikap angkuh dan egonya sesaat, demi keinginan hatinya. Terdengar lemah nada suaranya.
Alya sangat memahami posisi dan perasaan Agnes sebagai istri pertama, yang sudah dinyatakan mandul, takut kehilangan suaminya tapi harus di hadapi dirinya di madu. Dan Alya tidak ada niatan untuk masuk ke dalam rumah tangga Agnes dan Erick.
“Saya tidak akan melanjutkan kesepakatan kita, sekarang kamu bisa bicarakan ke Pak Erick, untuk masalah perceraian saya dengan Pak Erick. Saya siap menerima perceraiannya,” jawab Alya mantap, wanita itu juga tidak ada keinginan mempertahankan pernikahannya dengan Erick. Karena sejatinya Alya tidak ingin menjadi madu, dan merusak rumah tangga orang.
“Terima kasih Alya, jika kamu memahami posisiku,” Agnes bernapas lega.
“Satu lagi Agnes yang perlu kamu ketahui, jika anak yang saya kandung ini lahir. Saya tidak bisa memberikan kepadamu, karena kesepakatan kita berakhir hari ini juga, saya sudah tidak perduli lagi dengan uang dua milyar yang kamu janjikan,” ujar Alya.
“Tapi anak yang kamu kandung anak dari suamiku, kamu tidak boleh egois!!”
“Saya tidak egois, karena sayalah yang mengandung anak ini bukan kamu........ingat itu Agnes!! kamu jangan egois, yang kamu baru saja minta suami kamu Pak Erick, bukan anak yang saya kandung. Jadi janganlah serakah, mau kedua-duanya!!” tegur Alya.
Tidak ada sedikit hatikah untukku Alya, sepertinya kamu memang benar-benar ingin bercerai denganku. Tak bisakah saya berjuang dulu untuk memperbaiki sikap burukku selama ini.....batin Erick.
Kembali ke rumah sakit....
“Ya.......tapi tetap saja anak itu benih dari suamiku, dan harus berada di bawah pengawasan dan di asuh oleh daddynya,” Agnes tidak terima jika anak yang di kandung Alya, tidak bisa di ambil dari tangan Alya.
“Perlu kamu ingat Agnes, anak yang masih di bawah umur 12 tahun korban dari perceraian dari kedua orang tuanya, hak asuh ada di tangan ibu kandungnya bukan ayahnya. Tapi saya tidak akan melarang jika kalian berdua untuk menengoknya. Jadi seharusnya kamu paham......intinya suami kamu memiliki keturunan tapi tanpa harus mengurusnya dan turut memilikinya. Dan sepertinya kita sudah panjang lebar bicara, saya mau istirahat. Bukan maksud saya mengusir. Tapi jadi orang harus tahu dirilah!!” ujar Alya dengan tatapan sinisnya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu aku pamit untuk membicarakan perceraianmu dengan Mas Erick,” pamit Agnes, yang merasa dirinya di usir secara terang-terangan.
“Ya....silahkan, saya tunggu surat perceraiannya,” sahut Alya.
Sebelum Agnes meninggalkan ruang rawat inap, ajudan yang bertugas mengintai langsung bersembunyi di kamar mandi, agar tidak ketahuan.
Sepeninggalnya Agnes dari kamar, membuat Alya bernapas lega untuk sementara. Paling tidak saat ini Agnes tidak berbuat buruk terhadap dia serta kandungannya.
“Kalian berdua milik mommy, kalian tetap bersama mommy......,” gumam Alya seorang diri, sambil mengelus perut buncitnya. Hati kecilnya tidak rela jika harus memberikan anak yang di kandungnya di berikan ke Agnes.
“Sekarang boleh kamu bernapas lega Alya, tapi yang jelas anakmu harus bisa ada di tanganku jika sudah lahir nanti. Untuk sekarang akan kubiarkan dulu!!” gumam Agnes ketika keluar dari ruang rawat Alya.
🌹🌹
Perusahaan Pratama
Seusai video call dengan ajudan yang bertugas menjaga Alya di rumah sakit. Erick kembali ke ruang meeting untuk melanjutkan meetingnya, akan tetapi pikirannya melayang ke rumah sakit, dan perbincangan antara Alya dan Agnes masih nyata terdengar di telinganya padahal sudah usai.
Dan untungnya klien Erick tidak terlalu memperhatikan perubahan raut wajah Erick sekembalinya dari ruang kerjanya. Selama satu jam, akhirnya pria itu bisa bernapas lega, meeting sudah selesai, berarti pria itu bisa kembali ke rumah sakit.
“Pak Bos, ada telepon dari Pak Alex Bank B,” ujar Rio, sambil menyerahkan ponselnya. Erick langsung meraih handphone Rio.
__ADS_1
bersambung.........waduh orang Bank telepon 🤔