
“Mbak Alya badannya demam, sudah saya kasih injeksi obat penurun panas. Nanti setelah makan malam, minum obat lagi. Tolong jangan banyak pikiran, banyak minum. Sekarang perutnya ada yang di rasa tidak semacam kram atau sakit?” tanya Dokter Dewi, sambil menyentuh perut Alya.
“Tidak terlalu sakit perutnya Bu Dokter, hanya badan terasa dingin dan kepala pusing,” keluh Alya.
“Syukurlah tidak ada keluhan di bagian perutnya, karena tadi pagi hasil usgnya bagus. Kalau begitu mbak Alya istirahat, nanti obat yang harus di minum akan di antar oleh perawat.”
“Terima kasih Bu Dokter,” balas Alya.
“Pak Erick, saya minta tolong jangan bikin mbak Alya stress. Jika ingin kandungannya sehat,” tegur Dokter Dewi kembali mengingatkan sebelum meninggalkan ruangan.
“B-baik Bu Dokter,” jawab pelan Erick.
Dokter Dewi telah meninggalkan ruang rawat Alya, tinggallah Alya dan Erick berdua di kamar tersebut.
Tapi tak lama kemudian perawat datang membawa makan malam untuk pasien serta obat yang akan di minum.
“Mau di langsung di makan, Bu?” tanya perawat, sembari menaruh nampan makanan ke meja yang tersambung dengan ranjang pasien.
“Langsung saya makan aja, Suster,” pinta Alya. Perawat mendorong meja tersebut hingga pas di posisi Alya duduk di atas ranjangnya.
“Setelah selesai makan, ini obatnya segera di minum ya, Bu,” ujar perawat menunjukkan obat yang di bawanya.
“Iya Suster, terima kasih....,” jawab Alya, setelahnya perawat tersebut pamit.
Alya langsung menyantap makan malamnya tanpa menawari Erick yang sedang menatapnya.
“Jika Bapak ingin makan, pergilah ke bawah.....ada kantin dan coffe shop. Tidak perlu menatap makanan saya, karena tidak mungkin saya berbagi dengan bapak, ini hanya untuk saya dengan kedua anak saya yang ada di perut,” celetuk Alya sambil mengunyah tanpa menatap Erick.
“Makanlah dengan tenang, saya tidak akan meminta makanan itu. Saya sudah menyuruh orang untuk mengantar makanan untuk kita berdua,” jawab Erick, kemudian pria itu duduk di tepi ranjang, dan terus menatap Alya yang begitu lahap makannya.
TOK......TOK......TOK
“Permisi Tuan, ada Pak Arif,” lapor Rocky.
“Suruh masuk,” pinta Erick.
“Selamat malam, Pak Erick,” sapa Pak Arif, yang datang membawa beberapa bungkusan.
__ADS_1
“Ya.......,” jawab singkat Erick.
“Ini pesanan yang Pak Erick minta, sudah saya bawakan. Dan itu Pak-----,”
“Mas Erick......” sela suara Agnes terdengar sangat dekat.
“Maaf Pak Erick, Nyonya Agnes menanyakan saya mau hendak ke mana, dan Nyonya Agnes turut ikut ke sini,” sambung Pak Arif, sambil meletakkan bawaannya ke atas meja.
Erick hanya bisa menatap kedatangan Agnes yang datang tiba-tiba ke ruang rawat Alya. Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian Agnes langsung menghampiri Erick, dan memeluk pria itu.
“Mas Erick tega di saat aku pingsan, kamu meninggalkan aku begitu saja. Aku sedang sakit, Mas Erick,” Agnes mulai mengeluarkan air mata.
“Ternyata Mas Erick ada di sini, apakah aku tidak berarti lagi buat Mas Erick!......hiks.....hiks..” isak tangis Agnes mulai terdengar.
Alya berusaha menulikan telinganya, membutakan matanya.......cukup fokus kepada makan malamnya. Tidak perlu memperhatikan drama rumah tangga yang terjadi di hadapannya.
Erick melirik Alya yang nampak tidak terpengaruh. Pria itu merasa tidak enak hati dengan Alya atas kehadiran Agnes yang tak di duga.
Pria itu mengurai pelukan Agnes, “ sebaiknya kamu istirahat di mansion, lebih baik ikut balik dengan Pak Arif,” pinta Erick.
“Jika Mas Erick, tidak pulang....aku juga tidak akan pulang.......hiks...hiks,” jawab Agnes dengan suara lemahnya.
Kemudian kembali menatap Alya yang sudah menyelesaikan makan malamnya. Benar-benar wanita itu tidak menatap ke arah Erick dan Agnes.
“Maaf Alya, jika mengganggu waktu makan malamnya. Aku hanya ingin mengajak suamiku pulang bersamaku,” ujar lembut Agnes, disela isak tangisnya.
Wanita itu mendongakkan wajahnya.“Tidak mengganggu, silahkan,” jawab santai Alya.
Mendengar jawab santai Alya, Erick merasa seperti tidak berarti untuk Alya, kesannya biasa saja.
“Kalau saya bilang pulang, pulanglah Agnes. Saya akan menginap di sini, mengurus Alya, harusnya kamu mengerti.....kalau Alya juga sedang sakit!” tukas Erick.
“Tapi aku juga sedang sakit Mas!! kenapa kamu berubah mas....dulu mas orangnya perhatian, menunjukkan kasih sayang kepadaku, tidak seperti ini. Kenapa sekarang berubah! Apakah mentang-mentang Alya berubah menjadi cantik, mas berpaling padaku. Apa aku sekarang kurang cantik Mas Erick........hiks.....hiks..!” tangisan Agnes semakin menjadi.
Inilah yang tidak di sukai oleh Alya, wanita itu akan menjadi kambing hitam pertengkaran suami istri di hadapannya. Andai dirinya sedang tidak bedrest, tangannya tidak di infus, lebih baik dirinyalah yang keluar dari kamar tersebut.
“Bisakah kalian berdua tidak bertengkar di kamar ini, saya ingin beristirahat. Jadi saya mohon keluarlah dari kamar ini, selesaikanlah masalah Pak Erick dan Agnes di luar sana,” pinta Alya mengusir secara halus.
__ADS_1
“Pak Arif, tolong ajak Agnes pulang......sekarang juga!” perintah Erick.
Terlihat wajah Pak Arif sedikit bingung akan perintah tuannya.
Agnes justru duduk di sofa, kemudian menyeka air matanya “ jika Mas Erick menginap di sini, maka aku akan menginap di sini juga!!” balas Agnes.
“Pak Erick dengarkanlah istri bapak, dia kondisinya sedang sakit , apalagi habis pingsan. Dan pasti sangat membutuhkan suami di sampingnya. Jadi sebaiknya pulanglah dan temani Agnes, tidak perlu menginap di sini, saya tidak butuh di temani, di sini banyak perawat,” tutur Alya.
Dilema buat Erick, dengan kondisi kedua-duanya adalah istri sahnya, yang masih tanggung jawab pria itu.
Alya teringat sesuatu.“O-oh mumpung Agnes ada di sini, mungkin Agnes ingin menyampaikan dan memperjelas pembicaraan kita berdua tadi pagi kepada Pak Erick,” ujar Alya.
“Apakah kamu ingin berbohong padaku Agnes, jika Alya menerormu masalah uang dua milyar dan Alya memintamu agar bercerai dengan saya, begitukah?” ujar Erick, dengan lirikan mata tajamnya.
“Bu-bukan begitu Mas Erick,” Agnes mulai gelagapan, maksud hati menyusul ke rumah sakit, hanya ingin mengajak Erick pulang, bukan membongkar omong kosong yang sempat di ucapkan ke Erick.
“Ayo Pak Arif, sebaiknya kita pulang sekarang. Aku akan beristirahat di mansion,” Agnes beranjak dari duduk, kemudian keluar dari kamar begitu saja. Erick hanya menatap datar kepergian Agnes dan Pak Arif
.
Sedangkan Alya menghiraukannya, justru wanita itu beranjak dari duduk di ranjangnya, kemudian mendorong tiang infusnya.
“Mau kemana, biar saya bantu?” tanya Erick, melihat Alya sudah berdiri dan berjalan sambil mendorong tiang infusnya.
“Mau ke kamar mandi, tidak perlu di bantu......saya bisa sendiri,” tolak Alya dingin, kemudian melanjutkan langkah kakinya. Erick tidak bisa berbuat apa-apa jika reaksi Alya sudah mulai dingin.
Cukup lama Erick menunggu Alya di depan pintu kamar mandi. Ingin rasanya mengetuk pintu kamar mandi, karena sudah terlalu lama wanita itu berada di dalam kamar mandi, cemas dan khawatir jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan.
Ceklek......
Alya terjingkat kaget, melihat Erick pas sekali berada di depan pintu kamar mandi. Pria itu langsung mengambil alih tiang infus yang di dorong Alya.
“Sebaiknya kita harus bicara, Pak Erick,” pinta Alya.
bersambung.......
Aduh ternyata tidak terjadi apa-apa, maaf ya Kakak Readers di luar dugaan, ternyata Agnes datang nyusul suaminya....
__ADS_1