
Rumah Sakit SM
Erick dan Pak Arif, sedang duduk di luar ruangan IGD. Setelah Pak Ari memberikan kabar mengenai Agnes, mereka bergegas ke rumah sakit SM, tempat Agnes di bawa oleh mobil ambulance.
Sekarang kondisi Agnes dalam penanganan dokter, isi perutnya sedang di kuras untuk membersihkan dari sisa obat yang di konsumsi secara overdosis, Agnes menegak obat tidur dalam jumlah yang banyak.
Pria itu ada sedikit rasa khawatir dengan keadaan Agnes, dia tidak menyangka istri pertamanya akan melakukan hal yang senekat ini.
Beberapa kali pria itu menyugarkan rambut tebalnya, dan beberapa kali juga meraup wajahnya dengan kasar dengan kedua tangannya. Kegelisahan itu datang tanpa mengetuk terlebih dahulu, pikiran pria itu bercabang antara Agnes dan Alya, yang sama-sama berada di rumah sakit. Mana yang lebih berat, di pikiran Erick, Agneskah atau Alyakah??
Sedangkan di rumah sakit B, ajudan Rocky terlihat bolak balik di depan ruang rawat Alya bagaikan setrikaan yang belum kelar. Dari pagi hingga menjelang mau sore, Nyonya yang di jaganya belum juga kembali dari ruang praktek dokter, setiap bertanya kepada perawat jaga, selalu mendapatkan jawaban masih di ruang praktek dokter kandungan.
Apa iya kalau kontrol kandungan memakan waktu lama, dari pagi sampai menjelang sore.......batin Rocky.
🌹🌹
Mansion Utama
Mendapat kabar dari Alya mengenai kepergiannya tiba-tiba langsung dari rumah sakit, dengan alasan ingin menjauh dari Erick dan Agnes, mama Yanti memutuskan untuk berkunjung ke mansion utama.
Mama Danish terlihat termenung setelah mendapatkan kabar mengenai kepergian Alya.
“Saya tidak bisa mencegah kepergian Alya yang mendadak, Bu Danish,” ujar Mama Yanti.
“Iya Bu Yanti, saya juga memahaminya. Tapi sangat di sayangkan kenapa tidak di diskusikan dulu bersama kita, setidaknya kita sebagai orang tua bisa memberikan solusinya.”
“Tadi Alya juga bilang seperti itu, jika di utarakan sebelumnya, pasti kita akan menentangnya. Tapi menurut saya, anak saya butuh ketenangan saat ini. Jadi saya menyetujui keputusan Alya. Saya harap Bu Danish bisa memaklumi keputusan Alya.”
“Ya Bu Yanti, saya juga tidak bisa melarangnya. Karena apa yang di hadapinya sekarang, hanya dia sendiri yang merasakan. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan dan menasehatinya.”
“Permisi Nyonya.....,” ujar Tini, tiba-tiba salah satu pelayan menghampiri Mama Danish yang ada di ruang tamu.
“Ya Tini, ada apa?” tanya Mama Danish.
“Tadi Pak Arif titip pesan buat Nyonya dan Tuan, katanya istri Tuan Erick, Nyonya Agnes masuk rumah sakit SM karena over dosis obat tidur,” lapor Tini.
“Astaga.......apalagi ini! Ya udah makasih Tini,” Mama Danish hari ini olah raga jantung. Setelah dapat kabar kepergian Alya, sekarang menantu pertamanya masuk rumah sakit.
__ADS_1
Mama Danish mengelus dadanya, berusaha menerima kabar buruk dengan hati yang tenang.
“Semoga keadaan Agnes tidak kenapa-napa, segera tertangani oleh Dokter, Bu Danish,” ujar Mama Yanti yang turut mendengar kabar yang kurang menyenangkan.
“Berharap seperti itu Bu Yanti,” balas Mama Danish mengambil cangkir tehnya, kemudian menyesapnya....agar sedikit tenang hatinya. Seburuk-buruknya menantu pertamanya, Mama Danish tidak menginginkan hal yang buruk terjadi kepada Agnes.
🌹🌹
Menjelang malam
Rumah Sakit SM
“Coba sekali lagi kamu bilang istri saya dari pagi sampai menjelang malam belum kembali ke ruang rawatnya!!” suara Erick meninggi ketika menelepon Rocky, untuk mengetahui keadaan Alya.
“Kamu itu selama jaga istri saya........tidur ya!! Cepat cari istri saya di setiap sudut rumah sakit!! Saya tidak mau tahu cari sampai ketemu!!” perintah Erick, dan sudah pasti suaranya naik tiga oktaf.
“B-baik Tuan.....,” jawab Rocky.
Kegelisahan sejak dari pagi, terjawab sudah, pria itu baru tahu jika sejak pagi Alya belum kembali ke ruang rawatnya, hingga menjelang malam.
“Damn!!” Erick menarik rambut belakangnya dengan rasa frustasinya.
“Dengan suami Bu Agnes,” ujar pria yang mengenakan jas putih.
“Iya, saya suami Agnes.”
“Istri Bapak sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Untuk saat ini pasien masih di bawah pengaruh obat yang di konsumsi, akan tetapi masih bisa kami selamatkan.”
Erick terlihat biasa saja mendengar laporan sang dokter mengenai kondisi istri pertamanya.
“Terima kasih Dok, kalau begitu pindahkan ke ruang rawat inap VIP,” pinta Erick.
“Baik Pak, kami akan segera memindahkannya,” jawab sang dokter.
“Pak Arif tolong minta salah satu pelayan wanita untuk ke rumah sakit, menemani Agnes. Saya harus kembali menemani istri saya yang lain di rumah sakit B,” pinta Erick, dengan rasa cemas yang tak terkira mulai menguasai dirinya.
“Baik Tuan,” Pak Arif segera menghubungi Yuni untuk segera datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Sebelum kembali ke rumah sakit B, Erick menyempatkan masuk ke ruang rawat Agnes, terlihat wajah pucat Agnes dalam pembaringannya. Pria itu mendesah melihat keadaan istri pertamanya, di hati pria itu hanya ada rasa kasihan ketika menatap Agnes.
“Mas Erick.......mas...,” racau Agnes dalam keadaan mata terpejamnya.
“Saya......ada di sini, Agnes,” jawab Erick, sembari memegang tangan Agnes.
Kedua kelopak mata Agnes mulai mengerjap, “Mas.........kamu ada di sini....Mas.....,” lirih Agnes, dirinya terlihat lemas.
“Ya saya ada di sini........istirahatlah.....biar kamu cepat sehat.”
Agnes semakin erat menggenggam tangan Erick,” temanin aku di sini, Mas Erick."
Dilema buat Erick, pria itu hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa berkata. Harus bagaimana dia sekarang! dirinya ingin segera ke rumah sakit B, akhirnya tertahan dengan keadaan Agnes di rumah sakit SM.
Agnes menatap wajah suaminya, hatinya bahagia melihat Erick berada di sampingnya, tidak sia-sia dia melakukan hal bodoh. Setidaknya bisa menarik perhatian suaminya kembali. Akan tetapi pria itu tampak gusar dalam duduknya, memikirkan Alya, yang belum ada kabar terbaru dari Rocky.
Derrt....Derrt....Derrt
Ajudan Rocky Calling.
“Saya keluar sebentar, mau terima telepon,” pamit Erick
“Ya.....Mas.”
Erick segera keluar dari ruang rawat,”bagaimana Rocky, istri saya sudah kembali ke kamarnya?”
“Maaf Tuan, tadi saya sudah mencari informasi. Ternyata Nyonya sudah keluar dari rumah sakit sejak tadi siang,” lapor Rocky.
“Sudah keluar dari rumah sakit, kenapa saya tidak tahu. Siapa yang menjemput Alya, mamanya atau mama saya, Rocky,”
“Maaf Tuan, saya tidak melihat kepergiannya. Nyonya besar serta Bu Yanti hari ini juga tidak datang ke rumah sakit.”
DEG
“Astaga.....pulang kemana istri saya!” pria itu menghela napas panjang.
“Kamu segera ke rumah istri saya dan ke mansion utama, cek keberadaan istri saya. Dan segera lapor ke saya!!” titah Erick.
__ADS_1
“Baik Tuan...” Rocky memutuskan sambungan telepon Tuannya.
bersambung......