Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Erick tidak menyukai


__ADS_3

Meninggalkan Agnes dan Delila begitu saja, pria itu memilih pergi ke salah satu mini market yang ada di luar rumah sakit tapi masih di area rumah sakit. Di carinya susu promil yang siap di minum, diambilnya berbagai rasa, serta beberapa cookies buat Alya. Kemudian segera membayarnya.


Dengan kantong belanja di tangannya, pria itu mencari keberadaan istri ketiganya di dalam rumah sakit , akhirnya pria itu melihat keberadaan istri ketiganya di dalam coffe shop.


Dari kejauhan pria itu bisa melihat istri ketiganya tampak tertawa geli dengan mama Danish, terlihat bahagia. Erick yang jarang melihat mamanya tertawa, tanpa disadari pria itu tersenyum tipis.


Dengan langkah cepat Erick masuk ke dalam coffe shop, dan mendekati meja Alya dan Mama Danish.


“Sepertinya ada yang lucu ya, Mah,” ucap Erick tiba-tiba. Mama Danish dan Alya mendongakkan wajahnya melihat siapa yang datang. Seketika itu juga tawa Alya dan Mama Danish berhenti.


“Oh kamu.......ada apa menyusul ke sini,” ketus Mama Danish. Erick langsung mendaratkan bokongnya duduk di samping Alya.


Alya dengan gaya santainya menyesap coklat hangatnya dan makan crosaintnya.



“Ke mana kedua istri kamu? Kenapa tidak bersama-sama, nanti kamu di cariin lagi kalau tidak ada di sisi mereka berdua?” tanya Mama Danish.


“Erick lagi kecewa dengan mereka berdua mah,” ujar Erick.


“Ck....tumben kecewa!!” lidah mama Danish berdecak.


Erick menoleh ke arah Alya, yang terlihat sibuk dengan minumannya.


“Ini saya belikan susu promil diminum susunya...,” Erick menyodorkan kantong belanjanya ke hadapan Alya. Kedua netra Alya hanya melirik sesaat, tanpa menyentuh kantong tersebut.


“Mah, saya ke kamar mandi dulu sebentar ya,” pamit Alya ke mama Danish, menghiraukan Erick.


“Saya ada di sini, kenapa hanya pamit dengan mama!!” tegur Erick merasa tidak terima Alya tidak berpamitan padanya, Alya hanya menatap pria itu sesaat, lantas beranjak dari duduknya, dan pergi. Erick juga turut beranjak dari duduknya.


“Erick duduk......!” balik tegur Mama Danish. Pria itu kembali duduk, tidak jadi mengejar Alya.


“Jaga sikap kamu, kalau kamu kecewa dengan kedua istri kamu, jangan jadikan Alya tempat pelampiasan kamu!!”

__ADS_1


“Ingat Alya saat ini butuh hati yang tenang, nyaman, dan dukungan, hari ini dia akan menghadapi sesuatu hal yang baru di dirinya. Kalau kamu ke sini hanya ingin membuat Alya kesal dan marah, lebih baik kamu kembali ke kantor atau urus kedua istri kamu. Kehadiran kamu tidak dibutuhkan oleh Alya, cepat pergi dari sini. Biar mama yang mendampingi Alya, dan  mengurus kebutuhannya.”


Pria ganteng itu menghela napas panjang, mengelola emosinya agar tidak meluap keluar begitu saja.


“Tapi mah, Erick gak suka di acuhkan seperti ini oleh Alya. Dan saya sudah berjanji pada diri sendiri akan menemani Alya selama proses inseminasi ini berjalan!!” lepas juga mengutarakan isi hatinya.


“Kamu bilang tidak suka di acuhkan Alya, lalu waktu kamu menghina Alya....apakah Alya suka!! Masalah kamu janji pada diri sendiri, mama tidak perduli. Intinya jika dari awal kamu tidak menyukai Alya, bersikaplah sewajarnya!!”


“Sekarang mama tanya sama kamu, kamu suka dengan Alya?” tanya mama Danish dengan tatapan menyelidik.


Sungguh sulit buat Erick jika sudah berhadapan dengan mamanya sendiri. Baru kali ini mama Danish tidak dukungan pria itu. Sedangkan waktu perjodohan dengan Delila, mama Danish sangat berusaha agar Erick dekat dengan Delila.


Pria ganteng itu tampak berpikir sesaat, “E-erick tidak menyukai Alya,” suara pria itu terdengar pelan.


“Nah jika kamu tidak suka, kenapa harus kesal dengan Alya!”


 “Mama tidak mau membuat kesalahan lagi, cukup waktu dulu mama memaksakan kamu dengan Delila saat itu, akan tetapi anak teman papa kamu ternyata sangat mengecewakan, berbeda di awal mengenalnya. Dan untuk Alya, mama rasa dia tidak pantas buat kamu, apalagi kamu sudah mengakui tidak suka, Alya kelak bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari kamu setelah urusan ini selesai."


Apa!! Saya tidak pantas jadi suami Alya!!.....batin Erick mengeram.


Pantas saja Erick melihat  Alya dan Mama Danish cepat akrab dari awal bertemu, ternyata ada sesuatu hal yang membuat Mama Danish sukai. Sedangkan selama Agnes menjadi menantu, jarang atau hampir di bilang tidak pernah melihat Mama Danish dan Agnes terlihat akrab. Bicara saja juga seadanya.


Mulut Erick sudah memberikan pernyataan tidak suka dengan Alya. Membuat mama Danish bersikap protektif dengan Alya agar menjauh dari Erick. Mama Danish tidak berharap lagi jika Erick akan menyukai Alya. Cukup pernikahan Alya dan Erick hanya sekedar di atas kertas.


Erick masih saja duduk belum juga beranjak dari duduknya. Sedangkan Alya sudah kembali dari kamar mandi.


“Alya, habiskan minum dan makanannya,” pinta Mama Danish.


“Iya....mah,” Alya memilih duduk di samping mama Danish, tidak duduk di bangku semulanya.


Alya kelihatan tenang saat Erick menatap dirinya, seakan tidak ada keberadaan Erick di hadapannya.


Acuh dan menghiraukan, sikap Alya ada dasarnya yaitu menjaga kedua hati istri Erick, serta menjaga hati dirinya sendiri. Wanita berkacamata itu sadar akan posisinya, dan cukup dia menjalankan tugasnya dengan baik yaitu melahirkan anak untuk Agnes dan Erick.

__ADS_1


“Permisi Tuan Erick, Nyonya Alya,” sapa suster Via, yang menghampiri mereka di coffe shop. Ternyata suster Via mencari keberadaan mereka berdua atas permintaan Dokter Dewi.


“Eh iya suster Via, wah sampai nyamperin ke sini,” balas Alya.


“Gak pa-pa mbak Alya sudah tugas saya. Ini Dokter Dewi minta mbak Alya kembali ke ruangan. Sudah waktu sesi selanjutnya,” ujar suster Via.


“O-oh iya.......baik suster, saya segera ke sana.” Jantung Alya mulai berdegup cepat.


Sudah waktunya......batin Alya.


Erick beranjak dari duduknya, dan mengambil tas bahu Alya yang ada di meja serta kantong belanja untuk di bawanya.


“Pak Erick, biar saya saja yang bawa,” Alya bergegas meraih tasnya, tapi pria itu langsung menepisnya. Justru pria itu langsung jalan, mau tidak mau Alya menyusul langkah Erick.


Alya kembali menarik tas bahunya dari Erick.....


BUG...


Jantung Erick berdegup kencang, tubuh Alya sudah berada di pelukannya, akibat tarikan pria itu yang menahan tas bahu milik wanita berkacamata itu. Mereka berdua sesaat saling mengunci tatapannya. Erick dengan sengaja mengeratkan rangkulannya, hingga kedua badan mereka menempel.


“Tidak perlu repot membawakan tas saya, kedua tangan saya masih bisa membawanya, tangan saya tidak lumpuh,” tegur pelan Alya, dilihatnya dari kejauhan sudah ada Agnes dan Delila yang berjalan menuju ke arah mereka berdua. Wanita berkacamata itu segera melepaskan kedua tangan Erick yang masih merangkul pinggangnya.


“Ayo Alya, kamu sudah di tunggu dokter,” ujar Mama Danish, di raihnya tangan Alya.


Erick.....Erick di mulut bilang tidak suka, tapi kamu memeluk tubuh Alya......batin mama Danish sebal.


Erick meraup wajahnya dengan kasar, baru saja pria itu memeluk Alya, kini pria itu melihat kedatangan kedua istrinya. Dirinya mendengus kesal, dan kembali mengejar Alya yang sudah jalan duluan.


*bersambung.


Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng, kalau masih punya vote mau dong lemparin buat Alya dan Erick ya. Makasih sebelumnya 🤗


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹*

__ADS_1



__ADS_2