Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Nasehat Mama Yanti


__ADS_3

Setelah selesai menikmati makan malam bersama. Mama Danish , Papa Bayu dan Mama Yanti memutuskan untuk menginap di mansion Erick, karena sudah terlalu malam untuk pulang sangking keasikan ngobrol.


Sekarang Mama Danish dan Papa Bayu sudah beristirahat di kamar tamu. Sedangkan Mama Yanti juga sudah berada di kamar tamu yang telah di siapkan oleh pelayan Erick, di temani oleh Alya.


Wanita itu duduk bersandar di headboard ranjang dengan Mama Yanti.


“Nak, apapun keputusan kamu tentang rumah tangga kamu, semua ada di tangan kamu sendiri. Dan kamu berhak untuk bahagia, serta menikmati hidup kamu,” tutur Mama Yanti, sambil mengusap perut bulat Alya.


“Ya...Alya juga berpikir seperti itu Mah, makanya sedari itu Alya memilih untuk berpisah dengan Pak Erick, dan menerima persyaratannya untuk tinggal bersama sampai Alya melahirkan,” imbuh Alya.


“Alya, kamu masih istri sah Erick secara agama dan negara, setidak sukanya kamu sama Erick cobalah bersikap baik sebagai istri. Mama bukannya sedang membela Erick, mama hanya mengingatkan posisi kamu selama masih jadi istri sah Erick dan belum ada ucapan talak dari suami kamu,  jadilah istri seutuhnya untuk suami kamu. Jika kamu keberatan tolaklah secara halus, sebenarnya sebagai istri dosa jika menolak permintaan suami, tapi tergantung suaminya seperti apa. Jika suaminya kejam ya patutlah seorang istri tidak  mematuhi suaminya,” imbuh Mama Yanti.


Setelah apa yang telah di lalui oleh Alya, wanita tua itu sangat berharap rumah tangga anaknya utuh tidak ada perceraian, apalagi adanya calon anak. Tapi hati orang tidak bisa di paksakan, namun bolehlah Mama Yanti berharap selama Alya tinggal serumah dengan Erick, hubungan Alya dan Erick ada kemajuan.


“Yang di maksud mama menjadi istri seutuhnya, itu—,” pikiran Alya langsung teringat mimpi panasnya dengan Erick, kemudian membungkam mulutnya yang sudah menganga dengan salah satu tangannya.


“Salah satunya,” jawab Mama Yanti.


“OOH MY GOD!!” bibir ranum wanita hamil itu, kembali menganga.


“Tapi tidak harus di paksakan juga, Nak. Semuanya berawal dari hati, jika hati kamu tidak ada untuk Erick, maka jangan di paksakan, yang ada akan terasa menyakitkan. Namun setelah mama melihat sendiri kegigihan Erick selama kamu bersembunyi mencari keberadaan kamu, mama akhirnya percaya jika Erick sangat mencintai anak mama, bukan karena kamu sedang hamil anaknya. Tapi karena diri kamu sendiri.”


“Pria itu sangat mencintaimu padahal belum pernah merasakan hubungan suami istri ketika kalian sudah menikah atau sentuhan yang lainnya, itu tandanya pria itu mencintaimu bukan karena fisik. Tapi karena pribadimu yang membuat dia jatuh cinta padamu. Cobalah buka hatimu nak untuk ayah anak-anakmu, lihatlah sosok suamimu sebelum mengambil keputusan yang lebih jauh lagi,” tutur Mama Yanti.


Alya hanya bisa termenung mendengar nasehat dari Mama Yanti.


Belum usai ibu dan anak berbincang, tiba-tiba saja.....

__ADS_1


TOK.....TOK....TOK...


“Alya......,” suara bariton pria itu terdengar jelas di luar kamar tamu, memanggil si bumil.


“Lihatlah Nak, suami kamu saja sampai samperin ke kamar,” ujar Mama Yanti.


“Yaa...ada apa, Pak?” balas sahut Alya, sembari beranjak bangun dari ranjang.


“Tunggu ya, Mah...Alya lihat dulu,” kata Alya, ketika akan membukakan pintu kamar.


“Sudah malam Alya, waktunya tidur,” jawab Erick dari balik pintu.


Ceklek.....


“Saya mau tidur sama mama, Pak Erick,” jawab Alya, ketika membuka pintu kamar.


“Bu Yanti, Alya istirahat dulu ya. Ngobrolnya lanjut besok lagi,” ucap Erick dari depan pintu, sambil meraih lengan Alya agar wanita itu tidak masuk ke dalam lagi.


“Iya, nak Erick,” balas Mama Yanti sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gimana sih orang masih kangen sama mama, malah pakai di samperin segala. Emangnya Pak Erick gak bisa apa tidur sendiri,” gerutu Alya, sambil mengikuti langkah kaki Erick karena tangannya sudah di pegang Erick. Di sentak berapa kali genggaman Erick, justru semakin erat.


“Kamu tidak ingat persyaratan saya, tidur seranjang tidak ada kata pisah ranjang. Jadi kemana kamu berada, saya jemput. Lagi pula ini sudah larut malam, tidak baik ibu hamil begadang,” tukas Erick.


Wajah Alya sudah bertekuk, dan masam. Membuat pria itu semakin gemas melihat wajah istrinya.


Sekarang meraka berdua sudah ada di kamar utama. Alya hanya melirik ranjang yang ada di dalam kamar utama, tapi belum berani merebahkan dirinya ke atas ranjang, ada rasa canggung, padahal tubuhnya juga sudah minta haknya untuk istirahat.

__ADS_1


“Pak Erick, di kamar ini tidak ada bantal gulingkah?” tanya Alya ketika menelisik semua sisi ranjang yang berukuran sangat besar, hanya ada dua bantal, tanpa guling.


Hal yang sempat dipikirkan oleh pria itu, ternyata terjadi. Pria itu menaikkan salah satu alisnya.


“Sudah dibuang  bantal gulingnya, kalau ada pasti kamu bakal buat batas kita tidurkan! Tidak ada ceritanya pembatas di atas ranjang, buang pikiran kamu itu. Kita tidur seranjang, dan tidak boleh ada yang di tidur di sofa atau di bawa lantai, dengan alasan apapun!” tegas Erick.


“Baru aja mau begitu, apes banget deh malam ini,” gumam Alya pelan, biar tidak kedengaran oleh Erick.


“Gak usah ngedumel, gomong langsung sama orangnya,” sambung Erick.


Wanita itu mengerucutkan bibirnya.“Bapakkan biasa tidur sama wanita, kalau saya kan belum pernah tidur sama laki-laki, jadi rasanya aneh aja,” jawab Alya.


Erick mengikis jaraknya, lalu meraih dagu Alya dan sedikit menundukkan kepalanya. "Mulai malam ini kamu harus terbiasa tidur dengan laki-laki, dan laki-laki itu saya bukan Bram atau Andri, suami dari Alya Zafrina Sadekh. Dan kamu tidak usah khawatir saya tidak akan minta hak saya sebagai suami untuk malam ini, saya tidak akan memaksa kamu.”


Tak lama pria itu memajukan wajahnya ke wajah Alya. “Saya menunggu kamu menerima saya sebagai suami, dan kita making love menggunakan hati bukan karena dipaksa,” bisik Erick dengan lembutnya, pas di daun telinga wanita itu, kemudian pria itu mengecup daun telinga wanita itu, membuat wanita itu merinding ketika dapat sentuhan lembut itu.


“Istirahatlah di ranjang, saya ke dapur dulu, mau bikin susu buat kamu...,” ucap Erick sembari mengulas senyum hangatnya.


“Mmm......iya Pak,” kikuk Alya dibuat, melihat perhatian Erick, apalagi wajah gantengnya semakin dekat semakin memesona.


Begitu pula Erick semakin dekat dengan Alya, semakin bergejolak hati dan hasratnya, harus kuat menahan jika sudah dekat dengan Alya, apalagi kelaki-lakiannya baru kecup daun telinga Alya saja sudah mengeras dan menegang.


Namun sebagai awal memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan wanita itu, harus dilakukan pelan-pelan. Tidak bisa langsung di paksakan, yang ada semuanya akan berakhir dengan cepat.


bersambung......kira-kira si babang Erick tahan gak ya, seranjang sama Alya 🤭


__ADS_1


__ADS_2