
Cerai........batin Erick.
Hari ini baru saja Erick mengucapkan talak ke istri keduanya, dan sekarang pria itu mendengar kata cerai dari istri ketiga, sangat lengkaplah masalah yang di hadapi pria itu di hari yang sama.
“Alya, tidak akan ada kata perceraian antara kita berdua. Masalah Delila sudah di urus oleh pihak berwajib, dan saya juga sudah menceraikan Delila. Jadi kamu jangan khawatir, saya akan menjaga dan melindungi kamu serta calon anak kita,” ujar Erick berusaha menyakinkan Alya.
“Sepertinya Bapak lupa, kita menikah hanya di atas kertas. Dan tentunya kita akan bercerai nantinya, saya hanya minta di percepat waktu perceraiannya. Itu saja kok, lagian masalah Bapak menceraikan Delila, saya tidak perlu tahu, itu urusan Bapak!!” balas Alya.
“Yang Bapak butuhkan dari saya hanya anakkan!! Anak akan tetap saya berikan ke Bapak kok, tidak usah khawatir!” lanjut Alya, wanita itu hanya ingin semuanya berjalan sesuai tracknya tidak ingin berbelok ke kanan atau belok ke kiri. Cukup jalan lurus ke depan walau ada rintangan di depannya.
Teriris kesekian kali hati pria itu, hal yang sama di rasakan oleh Alya jika mulut pria itu berkata pedas pada Alya. Inilah rasanya!
Erick menyugarkan rambutnya ke belakang, bingung juga apa yang ingin di ucapkannya agar Alya mengerti, jika dia tidak akan atau tidak ada niat menceraikan wanita itu. Apalagi hubungan antara Erick dan Alya memang dari awal kurang menyenangkan, selalu saja ada kekesalan antara mereka berdua.
“Nak, saat ini mungkin kamu lagi banyak yang di pikirkan dan kondisi kamu juga sedang kurang sehat. Sebaiknya pembahasan tentang cerai di tunda dulu. Tunggu kesehatan kamu pulih, dan masalah keamanan kamu, nanti papa akan menyiapkan ajudan untuk berjaga-jaga. Jangan gegabah mengambil keputusan dalam keadaan emosi, nanti yang ada penyesalan,” pinta Mama Danish penuh kelembutan, paham mood si bumil lagi berubah.
“Tapi tetap mah, Erick tidak akan menceraikan Alya, sampai kapan pun!” seru Erick, sambil kembali menatap wajah Alya.
“Ck......pede sekali Bapak ini, baca lagi sana kesepakatan yang di buat sama istrinya Bu Agnes!!” lidah Alya berdecak kesal, menghadapi pria yang berada di samping ranjangnya.
“Persetan dengan kesepakatan!! Tidak ada lagi namanya surat kesepakatan, atau istilah ibu pengganti, pinjam rahim. Semuanya di batalkan! Kamu istri saya!!” ujar Erick geram.
“Ck ........coba bilang seperti itu ketika wajah saya jelek. Yang ada selalu bilang ....saya benci kamu! udah jelek....suka selingkuh lagi.....terus apalagi bilang saya matre!!” cemooh Alya, bibir wanita itu mencebik melihat Erick.
“Saat kamu berwajah buruk, saya sudah mengakui kamu istri saya pada semua karyawan. Apa perlu saya kasih rekaman CCTV waktu kejadian di lobby waktu itu, sebagai bukti nyata,” balas Erick, sambil berusaha menahan agar suaranya tidak meninggi terhadap Alya.
“Sekarang juga Pak Erick keluar dari sini, saya benci lihat bapak di sini!!” jerit Alya, sudah cukup rasanya beradu mulut dengan pria yang masih berstatus suami.
Pria itu tersentak mendengar jeritan Alya.
__ADS_1
“Erick, sebaiknya kamu keluarlah, sepertinya Alya memang tidak suka dengan kehadiran kamu di sini, ingatlah kondisi Alya juga pasti sedang trauma,” pinta Mama Yanti, sambil menepuk bahu Erick.
Pria ganteng itu tertunduk lesu, mau menjawab apalagi, sudah di skak mati, segala ucapannya di balik oleh Alya. Salah siapa? Ya salah dirinya.......kenapa dulu menghina Alya. Hinaan itu masih membekas di hati si bumil.
Wanita itu melihat Erick tertunduk lemas ketika keluar dari ruang rawat inap, andai saja pria itu tidak menghina dirinya sedari dulu, mungkin wanita itu mau menerima kehadiran daddy dari anak yang di kandungnya di ruang tersebut.
“Tenangkan dirimu, Nak. Jangan mengambil keputusan di saat kamu emosi. Jika sudah tenang, baru di bicarakan secara baik-baik. Istirahatlah biar kamu cepat pulih,” pinta Mama Yanti, sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Alya.
“Alya tidak emosi mah, hanya memberikan solusi yang terbaik buat saya dan Pak Erick serta anak yang di kandung Alya, mengingat kejadian di ballroom tadi, sudah sepatutnya Alya lebih waspada lagi. Anak yang di kandung Alya tidak berdosa Mah, tapi ternyata ada orang yang ingin melenyapkannya, bukankah itu hal yang mengerikan.”
“Iya Nak, mama paham. Tapi dengan bercerai pun, apakah masalah akan selesai, tidakkan! Lagi pula secara agama kita, dalam kondisi hamil tidak dapat bercerai, harus menunggu anak ini lahir lalu menunggu masa nifas. Jadi bersabarlah, nak,” balas mama Yanti.
“Baiklah Mah,” Alya coba memahaminya.
🌹🌹
“Hey Erick.....,” sapa seseorang. Erick langsung mengangkat wajahnya.
“Edward, apakabar bro,” balas Erick, melihat teman karibnya. Mereka saling berjabat tangan, dan berpelukan, kemudian kembali duduk bersama.
“Wah saya gak nyangka ketemu sama kamu di sini,” ujar Edward.
“Sudah lama ya kita gak ketemu, kamu habis jenguk atau ada yang sakit nih?” tanya Erick.
“Istri saya kemarin lahiran, sekarang masih di rawat di sini,” jawab Edward.
“Wah selamat Bro, kamu ama Kiren sudah punya anak,” ucap selamat Erick.
__ADS_1
“Kiren bukan istri saya Rick, saya udah lama bercerai dengannya.”
“Ooh sorry, saya pikir Kiren yang melahirkan. Jadi kamu udah menikah lagi?”
“Ceritanya panjang bro, yang lahiran ini adalah istri pertama gue, dan sudah jadi istri saya satu-satunya.”
“O-oh istri pertama, jadi Kiren istri kedua?”
Edward mulai menceritakan kisah cinta dengan Ghina, Erick benar benar menyimak kisahnya dari awal sampai akhir cerita.
“Sedangkan kamu duduk di sini, ada keluarga yang sakit atau Agnes sedang sakit?” balik tanya Edward.
“Bukan Agnes yang sakit, tapi istri saya yang lain harus di rawat di sini. Istri saya mengalami pendarahan, hampir saja keguguran.” Setelahnya Erick menceritakan kisah dirinya dengan Alya kepada Edward, teman karibnya.
“Penyesalan itu selalu datang belakangan, begitu juga dengan saya di masa lalu. Saya tidak menyadari secara cepat jika saya sudah jatuh cinta dengan istri saya Ghina. Saya berharap kamu jangan sampai menyesal seperti saya yang benar-benar di tinggal jauh oleh wanita yang sudah bersinggah di hati. Tapi kamu juga harus bijak dengan istri pertama kamu Agnes, apakah harus tetap menjalankan poligami atau tidalnya, jika kamu bisa bersikap adil ya di jalankan. Tapi jika berat sebelah sebaiknya jangan di paksakan, pilihlah yang terbaik. Awal dulu saya juga bimbang, tapi setelah Ghina meninggalkan saya, akhir saya tahu wanita mana yang saya cintai,” nasihat Edward akan masa lalunya. Erick hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Buat saya menjalankan pernikahan dengan istri lebih dari satu itu berat, dan tidak membuat hati bahagia pula. Lebih baik memiliki satu istri tapi penuh kebahagiaan, karena sejatinya seorang istri tidak mau di duakan,” ujar Edward, sembari menepuk bahu Erick.
*bersambung.....
Kakak readers yang cantik dan ganteng, terima kasih atas tanggapan dan komentar di BAB MINTA CERAI, untuk pengumaman komentar terbaik nanti di bab berikutnya ya. Soalnya masih di pilih, banyak komentar yang bagus, sampai bingung mau pilih yang mana.
Tapi yang jelas terima kasih banyak atas masukkan dan idenya, insyaallah bisa jadi tambahan di cerita Alya dan Erick.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹*
"Masihkah ada kesempatan untuk saya memperbaiki segalanya, Alya?"
__ADS_1
"Setiap waktu itu adalah kesempatan, tapi selalu Pak Erick sia-siakan. Kini bapak minta kesempatan saat saya sudah berubah, andaikan saat saya belum berubah, bapak meminta kesempatan mungkin masih bisa di pikirkan kembali."