
Alya, Erick serta mama Danish masuk ke ruang praktek Dokter kandungan.
“Selamat pagi mbak Alya, Pak Erick, Ibu..... silahkan duduk,” sapa ramah Dokter Dewi.
“Pagi juga Bu Dokter Dewi,” jawab Alya, bergantian dengan Erick.
“Maaf Bu Dokter, mama saya ikut mendampingi saya,” ujar sopan Alya.
“Oh iya justru lebih bagus ada dukungan dari mamanya,” jawab Dokter Dewi.
Alya, Mama Danish, lalu Erick, beginilah posisi mereka duduk di hadapan Dokter Dewi.
“Hari ini sudah siap ya mbak Alya?” tanya Dokter Dewi, untuk memastikan keadaan Alya.
“Insya Allah, Bu Dokter,” berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya siap lahir batin.
“Maaf Bu Dokter, sebelum di mulai inseminasi.....anak saya sebenarnya kondisinya bagaimana?” tanya mama Danish, yang memang belum tahu.
“Baik Bu, saya jelaskan mengenai kondisi anak ibu. Mbak Alya kondisi rahimnya sangat subur, dan saya sudah menyarankan tidak perlu inseminasi, coba terlebih dahulu dengan cara natural melalui hubungan intim. Tapi sudah di tolak duluan oleh--- maaf dengan istri Pak Erick yang sempat menemani waktu awal kedatangan.” Dokter Dewi sangat ingat kondisi setiap pasiennya lagi.
Ujung ekor mata Mama Danish melirik ke Erick.
“Mah, ini sudah kesepakatan dengan Bu Agnes dan Pak Erick,” ucap pelan Alya.
Mama Danish kembali menoleh ke Erick, dengan tatapan kecewanya. Pria itu masih bungkam.
“Kalau begitu bisa kita mulai ya?” kembali bertanya Dokter Dewi.
“Silahkan Bu Dokter,” jawab Erick.
“Baik terlebih dahulu saya bertanya dulu kepada Pak Erick, sebelumnya selama seminggu ini ada hubungan intim tidak dengan pasangan?” tanya Dokter Dewi.
__ADS_1
“Selama satu minggu, saya tidak melakukannya,” jujur Erick, belum berhubungan intim baik dengan Agnes mau pun Delila.
“Syukurlah kalau begitu, karena untuk mendapatkan benih yang terbaik, di sarankan selama seminggu tidak melakukan hubungan intim. Untungnya Pak Erick tidak melakukannya jadi bisa kita proses cepat inseminasi ke mbak Alyanya. Jadi sekarang Pak Erick bisa menampung sper*manya di sini. Nanti ada suster yang akan mengantarkan ke ruangan yang sudah di siapkan untuk calon sang ayah,” ujar Dokter Dewi, sambil memberikan wadah kecil.
“Baik Bu Dokter,” Erick sangat paham maksud Dokter Dewi.
Dokter Dewi meminta suster mengantarkan Erick ke ruangan tersebut, dan pria itu tidak minta bantuan kepada salah satu istrinya untuk mengeluarkan sper*manya. Cukup bersolo karir.
Sedangkan Alya di cek kembali masa suburnya, lalu melakukan USG ulang.....mama Danish setia menemani Alya, sejatinya seorang ibu menemani akan perempuannya.
Melihat Erick keluar dari ruang praktek, Agnes segera beranjak dari duduknya, akan tetapi langsung diberi tanda oleh Erick untuk tidak mengikuti dirinya.
Dalam waktu tiga puluh menit, Erick sudah kembali masuk ruang dokter. Lalu memberikan wadah yang sudah berisi.
“Sekarang Pak Erick dan Mbak Alya, harus menunggu selama dua jam dulu. Karena kami akan melakukan pencucian sper*ma milik Pak Erick, sambil menunggu saya sarankan mbak Alya bisa mengisi perutnya dulu dan jangan lupa minum susu promilnya. Nanti kami akan menghubungi kembali lagi jika sudah selesai,” pinta Dokter Dewi.
“Kami permisi dulu Dokter,” ujar Mama Danish langsung menggandeng tangan Alya.
“Silahkan Bu.”
Lagi dan lagi Alya seakan menjaga jarak dengan Erick. Mama Danish seakan mendukungnya, membantu agar Alya dan Erick tidak berdekatan, demi kenyamanan hati Alya bukan putranya sendiri.
“Alya, kata dokter kamu harus isi perut dulu. Bagaimana kalau kita ngemil di coffe shop yang ada di dalam rumah sakit,” ujar Mama Danish, sambil melirik Erick yang sudah di hampiri Agnes dan Delila.
“Boleh Mah, ide yang bagus,” mereka berdua lantas pergi tanpa mengajak Erick, Agnes dan Delila. Hanya berdua.....mama Danish dan Alya.
Alya sudah bergelayut manja di lengan mama Danish, dan mama Danish terlihat sangat menyukainya berasa punya anak perempuan. Tidak seperti Agnes dan Delila, yang selalu menjaga sikap agar terlihat anggun di depan mama Danish.
Erick menatap dua wanita yang telah pergi tanpa berucap sepatah kata pun pada dirinya.
__ADS_1
“Mas Erick sudah selesai inseminasinya?” tanya Agnes.
“Belum, ini masih menunggu selama dua jam lagi. Nanti akan di hubungi kembali sama Dokter Dewi."
“Kalau begitu dari pada menunggu lama di rumah sakit, bagaimana kalau mas Erick ajak kita jalan-jalan ke mall yang gak jauh dari rumah sakit ini,” ujar Delila seenak mulutnya dengan nada suara lembutnya.
“Kayaknya ide Delila boleh juga mas, lagi pula kita bertiga sudah lama tidak di ajak shopping mas,” Agnes sangat mendukung ide Delila.
“Kalian berdua memang tidak punya pikiran, saya datang ke sini untuk menemani Alya inseminasi, tapi kalian berdua minta shopping. Wanita lain sedang berjuang memberikan keturunan. Tapi kalian pikirannya hanya shopping. Kalau kalian jenuh menunggu silahkan pergi, dari pagi kalian berdua memaksa untuk ikut, sekarang ujung-ujungnya minta ke mall!!” bentak Erick, hati pria itu sudah menahan emosi akibat di acuhkan oleh Alya, akan tetapi membuncah juga gara-gara Agnes dan Delila.
Agnes dan Delila langsung tersentak, dan terdiam kemudian saling bersitatap. Tak biasanya Erick menolak permintaan mereka berdua, dan membentak Agnes dan Delila.
“Agnes, kamu telah memilih wanita lain untuk hamil anak saya.......tapi kamu tidak berusaha bersikap baik dengan wanita yang kamu pilih. Tidak berusaha menjadi teman, atau memberikan perhatian kamu kepada calon ibu, yang kamu inginkan anak darinya. Justru kamu menjaga saya antara Alya agar tidak dekat, memangnya saya tidak bisa baca sikap kamu!! Saya sangat kecewa dengan sikap kamu Agnes!!”
“Juga kamu Delila, kalau tidak ada kepentingan di sini sebaiknya kamu kembali pulang ke mansion atau ke kantor untuk bekerja. Bukannya kamu sendiri minta bekerja karena keinginan dan permintaan kamu, tapi nyatanya kamu sering lalai!!”
Seketika itu juga wanita yang berbeda usia tertunduk, setelah mendapat teguran dari suaminya.
“Tolong Mas Erick, jangan marah,” bujuk Agnes, di raihnya tangan Erick, akan tetapi di tepis oleh pria itu.
“Maafkan saya Mas Erick, ide itu tiba-tiba saja muncul begitu saja," ujar Delila pelan.
Permohonan maaf dari Agnes dan Delila, sepertinya tidak berlaku buat Erick. Pria ganteng itu justru meninggalkan para istrinya begitu saja. Agnes dan Delila menahan dirinya untuk tidak mengejar suaminya, agar amarah pria itu tidak meledak-ledak.
bersambung
Kakak Readers yang cantik dan ganteng jangan lupa hari Senin besok kirimin VOTE buat Alya dan Erick ya......biar tambah semangat nulisnya. Makasih sebelumnya 🙏🤗😘😘
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1