Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tidak tertarik


__ADS_3

Dalam mobil....


“Cih.....siapa juga mau perkosa dia, ngelihat mukanya aja udah gak nafsu, Ge-er amat, lebih baik saya perkosa Agnes.....istri sendiri!” gumam Erick.


Ingat Pak CEO, kita menikah nanti bukan untuk menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Pria ganteng itu kembali teringat kalimat yang di ucapkan Alya. Memang betul adanya mereka menikah bukan untuk menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya, lantas kenapa hatinya tidak terima!


Ah konyol rasanya, seharusnya saya tidak perlu memikirkan hal itu. Saya menikahinya memang tidak akan menganggapnya sebagai istri, hanya untuk prosedur inseminasi saja. Lagi pula saya juga tidak tertarik dengan Alya. Buang-buang waktu saja memikirkan hal yang tidak penting.


Pria itu bergulat dengan hatinya sendiri, akan tetapi bayangan Bram dan Alya yang berada di dalam kamar Alya terbesit di pelupuk matanya tiba-tiba.


“Sialan!!!” umpat Erick, ketika mengingat kedekatan Bram dan Alya.


Mendengar kata umpatan Erick, Rio langsung menoleh ke belakang. “Pak Bos sekarang kita mau ke mana?”


“Balik ke kantor....... Rio, kamu sudah beli motor untuk Alya?”


“Sudah Pak Bos, kemungkinan besok baru di antar motornya.”


Erick menganggukkan kepalanya. “Besok kamu pastikan lagi motornya sudah di antar,” pinta Erick.


“Siap Pak Bos.”


Satu jam perjalanan menuju kantor, akhirnya sampai juga. Langkah Erick terlihat tidak semangat ketika memasuki lobby perusahaannya. Pikirannya bercabang-cabang.


Pria ganteng itu tidak langsung masuk ke dalam ruangannya, tapi justru menuju ke ruangan istrinya Agnes yang berada di lantai sepuluh.


“Loh Mas Erick, tumben ke ruanganku.” Agnes beringsut dari duduknya dan langsung menghampiri suaminya yang baru saja masuk ke dalam.


“Ada yang ini saya tanyakan padamu,” ujar Erick, sambil mendudukkan bokongnya ke sofa.


“Ingin tanya apa mas?”


“Saya ingin tahu persyaratan apa yang di ajukan Alya sebagai ibu pengganti?” rasa penasaran sejak Alya berucap tentang persyaratannya sampai detik sekarang, masih jadi pikiran pria itu ternyata.


“Ooh persyaratan itu, bukankah tadi aku bilang, akan di bicarakan saat kita bertemu bertiga.”


“Katakan sekarang juga, tidak perlu menunggu saat kita bertemu dengan Alya,” suara Erick sudah terdengar agak meninggi. Sebagai istri yang baik dan penurut, membuat marah suami, sangat di hindarkan oleh Agnes.


“Baiklah mas, persyaratan yang dia ajukan Alya, pertama minta  pembayaran di muka senilai satu milyar. Kedua selama kesepakatan Alya minta tetap bekerja di perusahaan kita, tidak boleh di pecat. Ketiga minta di nikahkan secara resmi agama dan  negara, dan itu hanya menikah saja bukan menjadi istri dalam arti sebenarnya. Dan yang terakhir Alya minta tetap tinggal di rumahnya sendiri, dan kita berdua di larang untuk mencampuri kehidupan dia.”

__ADS_1


Wajah Erick sudah terlihat sinis “ternyata wanita yang kamu pilih jadi ibu pengganti, matre juga ya!!” ujar sinis Erick.


“Sebenarnya wajar Mas, tidak semua wanita bersedia meminjamkan rahimnya untuk suami orang lain. Bukan suaminya sendiri, dan itu sudah harga pantas kok.”


“Mmm.......” gumam Erick, menyetujui ucapan Agnes, tapi di satu sisi Erick sedang memainkan tangannya dari yang terbuka sampai terkepal.


Cih......Minta tetap tinggal di rumahnya sendiri, biar kamu bebas bertemu dengan kekasihmu ya Alya!!!.........geram batin Erick.


“Kapan acara pernikahan mas Erick dengan Alya?”


“Mama sama Papa sudah menetapkan hari minggu ini.”


“Mas kalau bisa acaranya, akad nikah saja. Jangan ada resepsi mewah seperti acara nikah mas sama Delila. Tolong hargai perasaan aku mas?” pinta Agnes.


“Ya....nanti saya akan bicarakan sama mama dan papa,” Erick menyetujui permintaan istri tercintanya.


“Makasih ya Mas.”


“Oh ya Mas Erick, aku hampir lupa. Nanti aku akan mengajak Alya untuk cek up kesehatan, buat persiapan inseminasinya. Karena kalau ternyata hasil kesehatannya kurang baik, alias rahim dan kandungannya tidak sehat. Maka kesepakatan ini batal, dan Mas Erick tidak jadi menikah dengan Alya.”


DEG


Apa batal nikah.......batin Erick


“Maksud kamu, kalau kandungan Alya tidak sehat, jadi saya tidak jadi menikah dengan Alya, betul seperti itu?”


“Iya Mas Erick, otomatis batal menikah. Kalau rahimnya tidak sehat, berarti program inseminasinya sudah dipastikan gagal Mas. Jadi buat apa Mas Erick menikah dengan Alya, istri mas juga sudah dua, ada aku dan Delila.”


Antara senang dan kecewa ketika mendengar kata batal menikah dengan Alya di hati Erick.


“Ya sudah kalau begitu di segerakan saja untuk cek kesehatannya, saya balik ke ruangan dulu,” Erick sudah tidak semangat melanjutkan pembicaraannya.


“Iya Mas,” Agnes mengantar suaminya keluar dari ruang kerjanya.


Erick yang keluar dari ruang kerja istrinya, wajahnya terlihat masam. Pria itu bergegas menuju lantai dua belas, di mana ruangannya berada.


“Rio....ke ruangan!!” titah Erick ketika melewati ruang kerja asistennya. Rio yang namanya di panggil, segera beranjak dari kursi kerja, mengikuti langkah Pak Bosnya.


“Rio, sekarang juga kamu cari dokter kandungan yang terbaik yang bisa mengecek kesehatan rahim calon istri saya. Jangan sampai ada hasil buruk di rahimnya, harus bagus hasilnya!!” ucap Erick dengan suara bergetarnya.


“Maksud Pak Bos apa ya? Bukankah hasil  kesehatan memang harus sesuai apa  yang di periksa, tidak mungkin di lebihkan dan atau di kurangi.”

__ADS_1


BRAK


Erick menggebrak meja kerjanya,” kamu gak paham, jika hasilnya buruk. Maka saya batal menikah dengan Alya!!” suaranya terdengar meninggi.


“Ooh, ya bagus dong Pak Bos, berarti masih ada peluang mencari wanita yang lebih baik dari Alya,” jawab Rio enteng.


“Astaga Rio, sebaiknya kamu keluar....dan langsung cari dokter tersebut!!” seru Erick.


“Siap Pak Bos.” Rio keluar dari ruang CEO.


“Katanya gak suka sama Alya, dan hanya terpaksa menikahinya. Lalu kenapa sekarang kayak orang ketakutan kalau bakal batal nikah sama Alya.” Gumam Rio sendiri, tak habis pikir dengan sikap Erick, beda di mulut beda di hatinya.


🌹🌹


Malam hari


Mansion Erick.


Dua wanita cantik terlihat sexy malam ini, sengaja ke dua wanita itu berdandan cantik untuk menyambut kepulangan suami gantengnya.


Agnes sengaja pulang duluan ke mansion, tidak menunggu suaminya. Karena Erick beralasan masih banyak kerjaan jadi tidak bisa bareng pulangnya.


“Mbak Agnes, tumben Mas Erick belum pulang kerja juga?” tanya Delila sambil menengok jam dinding sudah menunjukkan jam delapan malam.


“Tadi Mas Erick bilang lagi banyak kerjaan, jadi pulangnya agak telat.”


“Ooh.......padahalkan pekerjaan bisa dilanjut besok hari, ya kan Mbak?”


“Ya...mungkin pekerjaannya penting jadi tidak bisa di tunda.”


“Mbak Agnes, Mas Erick jadi menikah lagi dengan wanita yang mbak pilih itu?”


“Jadi menikah, tapi kalau hasil kesehatannya tidak baik, ya terpaksa mbak cari yang lain, buat pengganti Alya.”


“Ya semoga aja hasilnya bagus, biar mbak gak cari lagi penggantinya.”


“Amin, semoga aja seperti itu.”


Kedua istri ini terlihat akur, tinggal seatap. Tapi tidak ada yang tahu isi hati sebenarnya, rasa saling cemburu dan ingin memiliki atau menguasai suami ganteng untuk seorang diri, itu pasti ada.


bersambung

__ADS_1




__ADS_2