Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Menuju rumah sakit


__ADS_3

Mulut bisa saja berkata iya, tapi hati sesungguhnya menolak, setelah harga dirinya di hina mentah-mentah oleh pria yang akan menjadi suaminya. Entah suami apa!!


Setelah sempat menjawab pertanyaan Erick, Alya kembali terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.


Sedangkan Erick merematkan kedua tangannya, tapi tidak juga menggeser posisi duduknya. Lengan pria itu masih bersentuhan dengan lengan Alya.


“Pak Rio....,” panggil Alya dari duduknya.


Rio langsung menoleh ke belakang “Iya, Alya.......,” jawab Rio sang asisten Erick.


“Bisa sampaikan ke Pak Bosnya, kalau duduknya jangan dekat-dekat dengan wanita jelek. Takutnya nanti ketularan jelek!!”


Rio langsung melirik ke arah Pak Bos, benar kata Alya, duduknya begitu dempet.


“Rio tolong bilang sama wanita berkacamata itu, ini mobil saya......jadi bebas mau duduk seperti apa!!” balas Erick tidak mau kalah.


Rio kembali melirik ke arah Alya. “Pak Rio, tolong bilang ke Pak sopir berhenti di sini. Saya akan turun di depan, lebih baik saya naik taxi. Dan tolong sebutkan nama rumah sakitnya. Saya juga udah muak naik mobil ini!!” Alya mulai memakai tas bahunya.


Rio jadi bingung sendiri, tanpa pria itu bantu bicara, mereka berdua udah sahut-sahutan.


“ALYA......,” panggil Erick.


“Pak Rio, tolong stop mobilnya,” pinta Alya dengan menepuk bahu Rio dari belakang.


“Jalan terus mobilnya, tidak ada yang boleh memberhentikan mobil ini sebelum sampai ke tujuan!!” titah Erick.


 “Pak Rio, berhenti. Saya bilang berhenti ya berhenti!!” pinta Alya.


Mendengar kegaduhan di bangku belakang, pak sopir sedikit hilang konsentrasi dalam mengemudinya, hingga.....


CIIIIITTTT


“Aaww....” teriak Alya, Erick langsung meraih pinggang Alya, yang hampir saja tubuh wanita itu kelempar ke arah bagian depan , akibat pak sopir mengerem mendadak. Pria itu langsung mendekap tubuh Alya dari belakang.


“Maaf Pak Bos, saya mengerem mendadak. Tuan sama ibu gak pa-pa kan?” tanya pak sopir yang masih menghentikan kemudinya, dan mengecek kondisi penumpang di belakang.


Alya mengatup tangannya ke dada dan mengatur debaran jantungnya, kaget saat mobil berjalan cepat tiba-tiba mengerem mendadak, seakan-akan mau terjadi kecelakaan. Sedangkan Erick yang masih memeluk Alya dari belakang, berusaha menenangkan Alya dengan mengelus punggung wanita berkacamata itu.


“Kamu gak pa-pa kan, sudah tenangkan?” tanya pelan Erick. Alya berjingkat kaget kalau tubuhnya sudah di dekap oleh Erick. Pria itu pun mengurai pelukannya, dan mengatur posisi duduknya agak menjauh dari Alya.


 “Pak sopir jangan jalan dulu,” pinta Alya. Wanita itu mencoba buka pintu mobil.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana Alya?” agak cemas Erick, melihat Alya mukai membuka pintu mobil.


“Pak Rio apa nama rumah sakitnya?” tanya Alya, menghiraukan pertanyaan Alya.


“Rumah sakit Bunda,” jawab Rio.


“Alya.....,” panggil Erick kembali. Wanita itu sudah keluar dari mobilnya. Erick ikut turut dari mobilnya.


“Alya, masuk ke dalam mobil.....!!!” seru Erick.


Nasib beruntung berpihak kepada Alya, mobil taxi tanpa penumpang berhenti di depan Alya, wanita berkacamata itu masuk ke dalam taxi, akan tetapi Erick langsung menarik salah satu tangan Alya. Tapi wanita itu segera menepis tangan Erick, “jangan pernah mengatur saya, Pak Erick,” ujar lantang Alya dengan tatapan tajamnya.


BRAK


Pintu taxi tertutup dengan kencangnya, dan langsung dikunci oleh Alya agar Erick tidak bisa membuka pintu mobilnya.


“Segera jalan, Pak. Rumah sakit bunda....”


“Tapi Bu, suaminya masih mengetuk-ngetuk kaca mobil Bu,” ujar sopir taxi.


“Dia bukan suami saya, tinggalkan saja.”


“Baik Bu..” Sopir taxi akhirnya melajukan mobilnya, menuju rumah sakit bunda.


“Kejar taxi itu, CEPAT!!” perintah Erick. Pak sopir langsung melajukan mobilnya, menyusul taxi yang membawa Alya.


Drrett.....Drrett.......Drrett


Handphone Erick berdering, pria itu langsung merogoh saku celananya.


Agnes calling


“Halo Mas Erick....”


“Iya Agnes, ada apa?”


“Mas Erick kok tumben pagi-pagi sudah berangkat, tapi pas di kantor, aku cari kamu tidak ada di ruangan. Sekarang Mas Erick lagi ada di mana? Gak biasanya Mas Erick kayak begini, biasanya pamit sama aku!”


“Maaf Agnes, tadi pagi saya harus mengantar motor ke rumah Alya. Dan sekarang saya sama Alya mau ke rumah sakit, buat cek kesehatan.”


“Loh kok tidak kasih tahu aku dulu mas. Mas Erick ke rumah sakit mana? Aku juga sudah pilihkan rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan Alya, kenapa Mas Erick jadi ikut mengurusinya?” dari nada suara Agnes, terdengar kecewa dengan Erick.

__ADS_1


“Saya juga punya pilihan rumah sakit, Agnes. Sekarang saya sedang menuju rumah sakit Bunda.”


“Aku menyusul ke sana Mas Erick, aku tidak mau hanya kamu berduaan saja dengan Alya. Apa kata orang, jika ada yang mengenal mas Erick berduaan dengan wanita selain aku.”


“Terserah kamu,” di satu sisi Erick lagi kecewa dengan Alya yang sedang mengacuhkannya. Sekarang di tambah istrinya akan menyusul ke rumah sakit.


Erick langsung mematikan handphonenya. Pria itu menghembuskan napas panjangnya, kenapa hatinya tidak terima istrinya Agnes mau menyusul ke rumah sakit.


Empat puluh lima menit taxi yang membawa Alya dan mobil Erick sudah berhenti di luar lobby rumah sakit. Erick langsung keluar dari mobilnya, dan bergegas menghampiri taxi, lalu membuka pintu mobil. Terlihat wajah dingin Alya, yang baru saja akan keluar dari taxi. Erick langsung mengeluarkan dua lembar uang kertas merah dan memberikannya ke sopir taxi.


“Terima kasih banyak Pak, tapi ini kebanyakan,” ujar sopir taxi.


“Ambil saja Pak, terima kasih sudah membawa istri saya ke rumah sakit dengan selamat,” entah sadar atau sedang mabuk, Erick menyebut Alya sebagai istrinya.


Alya tidak ada rasa tergugah untuk menyangkal kata ‘istri’, justru hal itu membuat dirinya akan di tertawakan oleh sopir taxi. Sungguh malang sekali suaminya sudah ganteng tapi kok istrinya jelek, mungkin seperti itu pikiran orang lain.


“Mas Erick,” dari kejauhan Agnes melangkah cepat ke arah Erick yang sedang memegang pintu taxi. Berpasan Alya keluar dari taxi.


“Bu Agnes,” sapa ramah Alya.


“Alya,” sapa balik Agnes. Wanita cantik itu langsung merangkul lengan Erick, suaminya.


“Mas Erick, baru tiba?” tanya Agnes dengan suara lembutnya.


“Ya kami baru saja sampai, sebaiknya kita segera masuk ke dalam,” pinta Erick.


Kebetulan Rio datang dan menghampiri mereka bertiga. Alya yang melihat anak tangga, langsung melirik ke arah Rio.


“Pak Rio, saya minta tolong ya,” ujar pelan Alya. Tapi masih terdengar jelas di telinga Erick.


“Tolong apa Alya?” tanya Rio.


“Pinjam lengannya, buat pegangan. Kaki saya masih agak sakit kalau naik tangga.”


“Boleh, silahkan” ujar  Rio dengan merenggangkan lengannya agar bisa Alya menyelipkan tangannya, dan berpegangan kuat di lengan kekarnya.


“Makasih Pak Rio,” senyum manis mengular di bibirnya.


Rahang Erick yang membentuk wajah gantengnya mengeras seketika, hatinya dongkol melihat Alya bisa bertutur kata lembut kepada Rio pria yang termasuk tampan.


bersambung

__ADS_1



__ADS_2