Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Tidur bersama


__ADS_3

Sejenak Alya masih terpaku dalam duduknya sepeninggal Erick yang sudah keluar dari ruang rawat inapnya. Pelupuk matanya masih teringat jelas bagaimana seorang pria bersimpuh di hadapannya, merendahkan dirinya sebagai laki-laki untuk seorang wanita. Bibir ranum itu hanya bisa tersenyum tipis, dengan kedua netranya berembun ketika mengingatnya. Masih ada rasa tak di sangka, pria itu mau bersimpuh di hadapannya.


TING.........bunyi pesan masuk.


Alya beranjak dari duduknya, dengan mendorong tiang infusnya. Wanita itu berjalan menuju nakas di samping ranjangnya, kemudian mengambil handphonenya, untuk mengecek pesan masuk.


✅Agnes


Alya, entah apa yang harus aku ucapkan padamu. Jujur malam ini aku sangat sakit sekali melihat suamiku tak mau di ajak pulang, mengacuhkan diriku, lebih memilih berada disana bersamamu.


Aku tahu kamu juga istri sah Mas Erick yang sedang mengandung anak mas Erick. Sungguh aku menyesal atas keputusanku memilihmu untuk jadi ibu pengganti, ternyata Mas Erick menjadi berubah terhadapku. Kamu tahukan jika Delila sudah di ceraikan oleh Mas Erick karena telah mencelakai dirimu. Kini nasibku sebagai istri sekarang seakan di ujung tanduk, aku takut seperti Delila, akan di ceraikan oleh Mas Erick.


Alya, aku sangat mencintai suamiku Mas Erick, kami berdua sudah menjalankan biduk rumah tangga selama 10 tahun. Sudah melalui masa suka dan duka bersama. Aku takut.........


Bolehkah aku egois Alya, aku menginginkan suamiku kembali seperti dulu, suami yang sangat mencintaiku, suami yang selalu ada di sampingku. Aku mohon Alya jangan rebut suamiku, kembalikan lah Mas Erick kepadaku.


Aku mohon pergilah jauh Alya, jangan perlihatkan dirimu lagi di depan suamiku lagi. Aku mohon kerelaan hatimu, kembalikan suamiku seperti dulu 🙏🙏.


Setelah membaca pesan dari Agnes, lagi dan lagi wanita itu hanya bisa tersenyum tipis, mau bagaimana lagi........haruskan wanita itu menangis, tentu tidak justru dia harus berlapang dada.


Wanita itu tidak menjawab pesan dari istri pertama Erick, di letakkannya kembali handphonenya di atas nakas, kemudian mengambil obat yang diberikan oleh perawat serta botol minum, lalu menegaknya.


Jawaban atas pesan yang di sampaikan oleh Agnes, sudah terjawab ketika dia berbicara dengan Erick.


“Waktunya kita tidur nak, semoga malam ini kita mimpi indah....... mommy berharap bisa tidur pulas, tanpa beban pikiran,” gumam Alya sambil mengelus perutnya, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang.


Jam 23.00 wib


Erick dengan langkah tergontai masuk kembali ke kamar rawat Alya. Kedua mata pria itu terlihat sembab dan merah, akibat pria itu begitu lama meratapi dirinya.

__ADS_1


Bungkusan yang di bawa Pak Arif masih tergeletak rapi di atas meja, belum dibuka. Perut pria itu juga belum terisi dengan makanan sejak dari siang, dengan terpaksa Erick membuka bungkusan tersebut pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, kemudian mengisi perutnya walau hanya beberapa suap, sambil menatap wajah Alya yang sudah terlelap.


Setelah mengisi perutnya, pria itu membersihkan dirinya. Lalu pria itu kembali berdiri di tepi ranjang.....menatap Alya sebentar, kemudian naik ke atas ranjang, dan merebahkan dirinya di samping Alya berbaring.


Alya terlihat pulas tidurnya, hingga tidak menyadari jika ada seorang pria di sampingnya. Pria itu memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah pujaan hatinya, istri yang di cintainya.


Tangan besar pria itu mulai menyentuh pipi Alya, “aku tidak sanggup jika harus berpisah denganmu, Alya,” gumam Erick pelan.


“A-aku benar benar tidak sanggup, sakit rasanya ketika kamu minta berpisah, Alya.....,” kedua netra pria itu kembali mengeluarkan buliran bening......setetes demi setetes, sambil menatap wajah Alya.


“Katakan aku harus bagaimana, agar kamu tidak minta berpisah, Alya....,” gumam Erick kepada wanita yang tertidur pulas.


Pria itu merapatkan dirinya, di dekatinya wajahnya ke wajah Alya, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir ranum Alya, dengan penuh perasaan pria itu menyesap bibir Alya penuh kelembutan tapi dengan linangan air mata yang sudah mulai berjatuhan di pipi pria itu.


“Aku mencintaimu, Alya....,” lirih Erick, kemudian dirangkulnya pinggang Alya. Dan entah kenapa kepala Alya bergerak menyelusup ke dada bidang Erick, seakan ada kehangatan.


Di balik hati yang sedih ada rasa hangat yang Erick rasakan, melihat pergerakan kepala Alya yang menyelusup ke dadanya. Pria itu mengecup pucuk rambut Alya berulang kali.


Sedangkan Alya seakan terbuai dan hangat dalam dekapan Erick, membuat wanita itu semakin pulas tidurnya.


🌹🌹


Pagi hari


Cahaya matahari mulai mengintip di tirai jendela ruang rawat, seakan sedang menyapa wanita cantik yang masih tertidur pulas.


Kedua kelopak wanita itu mulai mengerjap-ngerjap, dan tubuhnya mulai menggeliat. Ketika membuka matanya, wanita itu sedikit memicingkan matanya, merasa silau karena pantulan cahaya matahari yang masuk dari jendela.


Pagi ini wanita itu merasakan tubuhnya agak segar, dan merasa semalam dirinya pulas. Di liriklah keseluruhan ruangan rawat inap, tidak ada satu pun di ruangannya. Mungkin itu penyebab wanita itu bisa pulas tidurnya, pikir Alya. Padahal kenyataannya semalam dia tidur dengan Erick, seranjang.

__ADS_1


“Selamat Pagi, mbak Alya,” sapa Suster Via.


“Pagi juga, Suster Via,” balas Alya.


“Kita cek suhu ya mbak, sama tensinya,” ujar Suster Via, sambil mengeluarkan alat termometer dan alat tensinya.


“Ya ......Suster,” jawab Alya, Suster Via melakukan pekerjaannya.


“Suhunya sudah turun ya 37 Celsius, tekanan darah normal 120/80. Ada keluhankah pagi ini mbak Alya?”


“Tidak ada Suster.”


“Baik kalau begitu, mbak Alya pagi ini mau di seka atau mandi. Biar saya bantu,” tawar Suster Via.


“Kalau begitu mandi saja, saya minta tolong ya suster Via,” pinta Alya.


“Siap mbak Alya,” pagi ini di bantu suster Via, Alya membersihkan dirinya.


🌹🌹


Di kamar sebelah......


Pak Arif sedang menyiapkan baju ganti tuannya, dan mensajikan sarapan pagi yang di bawanya dari mansion untuk tuan dan nyonya-nya.


Pagi ini di kamar mandi, Erick terlihat bahagia dan senyum senyum sendiri ketika sedang membersihkan dirinya, setelah semalam pria itu tidur seranjang dengan Alya, dengan sesekali mencuri kecupan hangat di bibir ranum Alya, sungguh tidurnya terasa nyenyak ketika tidur seranjang dengan Alya, sudah lama pria itu tidak merasakan hal tersebut.


 Dan untungnya Erick tidak kebablasan bangun siang saking pulas tidurnya, yang ada Alya akan emosi kembali jika melihat Erick tidur seranjang dengannya. Jadi pria itu segera bangun dan meninggalkan Alya sendiri di ranjang, walau hati tidak rela melepaskan rangkulannya.


“Pak Arif, makanan untuk nyonya langsung di antar saja ke kamar sebelah,” pinta Erick.

__ADS_1


“Baik Tuan, kalau begitu saya antar sekarang saja ke kamar sebelah. Makanan untuk Tuan sudah siap, silahkan menikmati,” ujar Pak Arif.


“Terima kasih,” jawab Erick, pria itu langsung mendaratkan bokongnya di kursi, kemudian segera menyantap sarapannya dengan semangat untuk mengejar hati Alya.


__ADS_2