
Alya terjingkat kaget, melihat Erick pas sekali berada di depan pintu kamar mandi. Pria itu langsung mengambil alih tiang infus yang di dorong Alya.
“Sebaiknya kita harus bicara, Pak Erick,” pinta Alya.
“Baiklah apa yang ingin kamu bicarakan,” jawab Erick pelan.
“Kita duduk di sofa, agar lebih nyaman bicaranya, Pak Erick,” pinta Alya. Pria itu ingin membantu memapah Alya, akan tetapi tubuh wanita itu menolaknya. Sekarang mereka berdua duduk saling berhadapan di sofa. Sesaat Erick dan Alya sama-sama terdiam dalam duduknya.
“Bicaralah, saya akan mendengarnya,” pinta Erick.
“Pak Erick, kita tidak selamanya akan hidup seperti ini. Alasan kita menikah karena di awali oleh sebuah kesepakatan karena Agnes ingin memiliki keturunan dari bapak, tidak ada perasaan apapun antara kita berdua. Hari ini kesepakatan saya dengan Agnes sudah berakhir. Tidak ada lagi kerja sama pinjam rahim atau menjadi ibu pengganti. Jadi alangkah bijaknya jika pernikahan kita akhiri sampai di sini,” tutur Alya dengan lembutnya, mengawali pembicaraan.
“Sepertinya dari kemarin kamu bersikukuh untuk berpisah dengan saya?” pernyataan dan pertanyaan Erick dengan nada kecewanya.
Alya mengulas senyum tipis. “YA.....memang saya bersikukuh ingin berpisah dari Pak Erick, berpisah secara baik-baik. Sedangkan untuk masalah anak, jangan khawatir Pak Erick bisa menjenguknya jika anak ini sudah lahir, saya tidak akan membatasinya. Walau bagaimana pun anak yang saya kandung, anak Pak Erick.”
Alya telah membangun tembok yang sangat tinggi di hatinya dari awal pernikahan dengan Erick, sebagai istri ketiga karena tahu pernikahan itu semata karena kesepakatan, bukan di dasari atas saling rasa suka atau cinta. Apalagi wanita itu tahu jika pria yang menikahinya sudah memiliki dua istri.
Dari awal pernikahan, wanita itu tidak ada niatan untuk mendekati atau mencari perhatian kepada pria yang berstatus suami. Tapi kenyataannya semakin hari semakin rumit, sebagai wanita......Alya merasakan apa yang di rasakan oleh Agnes, rasa takut kehilangan suami, rasa takut rumah tangganya hancur karena kehadiran dirinya yang telah diajak masuk oleh Agnes dengan sengaja. Alya tidak ingin menghancurkan rumah tangga Agnes dengan Erick.
Wanita itu menatap wajah Erick yang begitu ganteng, setiap wanita yang bisa sedekat ini pasti rasanya bahagia, pasti jantungnya berdegup kencang. Tapi apa daya wanita itu sering menekan perasaannya dan segera mematikan, layaknya percikan api kecil langsung di tiupnya, agar tidak semakin membesar apinya.
“Seorang istri pastinya ingin menjadi wanita satu-satunya untuk suaminya, tidak ada yang mau di poligami oleh suaminya, walau tidak di larang dalam agama kita. Saya bisa merasakan hati Agnes, yang sebenarnya hancur karena di poligami atas dasar kekurangannya tidak bisa memberikan keturunan. Seperti saat ini jika saya di posisi seperti Agnes, saya juga akan mencari keberadaan suami dan memintanya pulang bersama malam ini, tidak membiarkan seorang suami dengan wanita lain walau wanita itu istri dari suaminya,” tutur Alya sambil mengelus perut buncitnya.
“Seorang istri yang awalnya baik bisa menjadi buruk karena keadaan yang mendorong dia menjadi berubah jahat, padahal dia tidak jahat atau buruk. Itulah yang sekarang yang mendera Agnes, seharusnya Pak Erick peka dan paham akan perubahan itu.”
Erick bergeming, tidak mampu berkata untuk saat ini. Hanya menyimak saja.
“Dan bapak tahu kenapa selama ini saya berpenampilan buruk, tidak menunjukkan wajah asli saya! Mungkin Pak Erick sudah tahu jawabannya, para pria akan langsung jatuh cinta karena rupa bukan karena hati. Itu sudah jelas!” ujar Alya kembali dengan mengulas senyum tipis.
__ADS_1
DEG
Hati Erick tersindir dengan ucapan Alya.
“Jujur saya tidak suka melihat pria tiba-tiba sikapnya berubah menjadi baik karena berubahnya penampilan wanita itu, tapi itulah kebanyakan pria melihat wanita karena rupa bukan karena sikap dan hati wanita itu. Perkataan ini bukan bermaksud menyindir Pak Erick,” tutur Alya, dengan tenangnya. “Anggap saja saya sedang meluapkan isi hati.”
Erick beranjak dari duduknya, berdiri lalu menghampiri Alya, kemudian bersimpuh di hadapan wanita itu. Wanita itu langsung menundukkan kepalanya melihat pria yang bersimpuh di hadapannya.
“Alya, maafkan saya atas semua kata kasar yang pernah saya ucapkan,” mohon Erick, sembari meraih salah satu tangan Alya yang tidak ada jarum infusnya, akan tetapi wanita itu langsung menarik tangannya.
“Memaafkan itu mudah Pak Erick, tapi untuk melupakannya butuh waktu, karena ucapan Pak Erick sangat menyakitkan hati saya.”
“Saya menyesal Alya, saya sungguh menyesal.....,”
“Saya mohon maafkan, berikan saya kesempatan untuk memperbaikinya,” mohon Erick.
“Maksud kamu apa, Alya?”
“Kita berpisah secara baik-baik Pak Erick, dan kembalilah Pak Erick hidup harmonis dengan Agnes, seperti sebelum adanya kesepakatan pinjam rahim," pinta Alya, dengan tatapan memohonnya.
“Saya ingin kembali hidup tenang, tentram seperti ketika saya belum menikah dengan Pak Erick.”
Pria itu menatap lekat-lekat wajah wanita yang ada di hadapannya. Menahan emosi dan perasaan campur aduk yang sudah ada di ubun-ubun, setelah kesekian kali mendengar istri yang ada di hadapannya selalu minta berpisah.
Erick mencondongkan wajahnya ke bagian perut Alya, kemudian kedua tangannya langsung merangkul pinggang Alya, membuat wanita itu terkesiap.
“Beri saya kesempatan untuk memperbaikinya, saya sangat mencintaimu Alya dan juga anak yang kamu kandung........buanglah pikiran ingin berpisah dengan saya, Alya,” pinta Erick, terdengar suaranya begitu serak. Kepala Erick masih berada di atas paha Alya, membuat wanita itu terasa geli, tapi hatinya sedikit terasa hangat.
“Pak Erick.......!!” Alya berusaha melepaskan rangkulan tangan Erick, akan tetapi tenaga pria itu sangatlah kuat.
__ADS_1
“Saya sangat mencintaimu Alya, saya cemburu ketika kamu dekat dengan Andri di mall, dengan Bram ketika kamu di jemput menggunakan motor. Saya cemburu. Dan saya sangat bahagia saat kamu positif hamil anak saya.......saya bahagia...,” ungkap Erick ketika mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah istrinya, Alya, dengan kedua mata yang mulai terlihat basah.
Tergugahkah Alya dengan pengakuan cinta Erick, tentu saja tidak......tembok di hati Alya masih berdiri kokoh.
“Terima kasih atas pernyataan Pak Erick, tapi maaf saya tidak bisa membalasnya. Saya di sini menghargai Agnes sebagai istri Bapak,” jawab Alya.
“Saya tidak butuh balasan cinta dari kamu, Alya. Saya hanya ingin kamu tahu perasaan saya selama ini, saya tahu sudah banyak kesalahan yang saya lakukan kepadamu. Pasti kamu sangat membenci saya saat ini.”
Cup.......
Erick mengecup perut buncit Alya.
“Daddy sangat mencintai kalian, nak dan mencintai mommy kalian.”
Pria itu mengurai rangkulannya di perut Alya, lalu beringsut dari bersimpuhnya. Kemudian berlalu, keluar dari ruang rawat dengan hati yang terasa sesak.
Alya hanya bisa mengelus perutnya, “kali ini biarkanlah saya egois......maafkan mommy, nak. Bukan bermaksud memisahkan kalian dengan daddy. Tapi saat ini keputusan berpisah adalah yang terbaik buat kesehatan mental mommy,” tak terasa mata Alya mulai berkaca-kaca.
Sedangkan di kamar sebelah.......
“AARGH......!” teriak Erick begitu menggelegar di ruang rawat tempat dia beristirahat semalam. Linang air mata sudah membasahi kedua pipi pria itu.
BUG
Salah satu kepalan tangannya sudah melayang ke salah satu tembok, rasa sakit akibat pukulan tersebut tidak di rasakan oleh pria itu. Karena lebih sakit ketika mendengar permintaan berpisah dari Alya, istri di atas kertasnya.
Tubuh pria itu akhirnya melorot ke lantai, kedua kakinya tertekuk. Di kedua netra pria itu tak kuasa lagi membendung air mata mengalir begitu deras.
__ADS_1