Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Ingin merawat Alya


__ADS_3

“Pasien, badannya panas tinggi Bu Dokter......suhu 39c...." Lapor Suster Via.


Erick hanya bisa menatap cemas dan merutuki dirinya sendiri.


“Tolong ambilkan obat penurun panas, suster Via” pinta Dokter Dewi.


“Baik Dokter,” Suster Via bergegas keluar.


“Bagaimana istri saya, Bu Dokter?” tanya Erick terlihat cemas, kembali berdiri di tepi ranjang Alya.


“Mbak Alya, mengalami demam tinggi......nanti saya akan berikan obat penurun panas.”


“Apakah mbak Alya, sedang dalam tekanan?” to the point Dokter Dewi bertanya.


“Kami baru saja bertengkar,” jawab pelan Erick.


“Sebaiknya saat sedang kondisi masa pemulihan akibat pendarahan, ibu hamil..... kesehatan mentalnya harus di jaga. Sepertinya berada di posisi mbak Alya, sangat berat. Semoga saja tidak berpengaruh buruk dengan kandungannya,” penjelasan Dokter Dewi.


Suster Via kembali datang membawa obat injeksi penurun panas, Dokter Dewi langsung menyuntikkan melalui infus.


“Sekali lagi saya mohon Pak Erick, tolong dijaga kesehatan mental istrinya, sangat tidak mudah berada di posisi mbak Alya. Jika tidak bisa meredam emosi, sebaiknya menjauh dari mbak Alya, mood ibu hamil itu sangat sensitif, bisa berubah sewaktu-waktu.” tukas Dokter Dewi, yang tahu sejarah mereka bertiga.....Erick, Alya, Agnes, program inseminasi.


“Baik Bu Dokter.”


“Jika mbak Alya sadar, panggil saya kembali,” pinta Dokter Dewi.


“Ya Bu Dokter, nanti akan saya beritahukan jika Alya sudah siuman."


Erick hanya bisa terduduk lemas melihat keadaan Alya di tepi ranjang. Lalu menatap wajah wanita itu yang masih memejamkan matanya.


Selang sepuluh menit Mama Yanti dan Mama Danish masuk ke dalam ruang rawat inap.


“Erick.......sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Mama Danish.


“Sejam yang lalu, Mah.” jawab Erick.


“Alya, sedang tidurkah?” tanya Mama Yanti.


“Alya......bukan tidur, tapi pingsan....Bu Yanti. Dokter Dewi sudah memeriksanya, badan Alya panas tinggi,” ujar Erick.


Mama Yanti menghela napas panjangnya, setelah baru tahu anaknya pingsan dan demam.

__ADS_1


“Apakah kalian berdua habis bertengkar?” tebak Mama Danish, melihat raut wajah Erick yang terlihat menyesal.


“Iya mah.......” jawab pelan Erick


“Buat apa kamu datang ke sini jika hanya buat bertengkar dengan Alya, sebaiknya kamu mengurus istri kamu Agnes, tadi dia menelepon mama mencari keberadaan kamu, karena handphone kamu tidak bisa di hubungi. Katanya dia pingsan di kantor, tapi kamu meninggalkan begitu saja. Mana tanggung jawab kamu sebagai suami,” tegur Mama Danish, gemas dengan putranya.


“Tapi Alya juga istri Erick, Mah. Dan jelas Alya lebih membutuhkan Erick ada di sini, ketimbang Agnes," tukas Erick.


“Maaf Erick, bukan bermaksud ibu ikut campur. Sebenarnya sebelum kedatangan kamu, Ibu menegur Alya masalah temannya Andri......akhirnya ibu dan mama kamu memutuskan untuk meninggalkan Alya agar sedikit tenang. Yang ibu ingin tanyakan apakah pertengkaran kamu dengan Alya berhubungan tentang temannya?” tanya Bu Yanti.


“Iya Bu Yanti....,maaf jika saya emosi dengan Alya,” jawab Erick menyesal .......pasti hari ini, hari yang berat untuk Alya, pria itu baru tahu kedatangan dia yang penuh emosi, menambah beban pikiran Alya.


“Mah, Bu Yanti........untuk kali ini Erick mohon, bisa tinggalkan Erick berdua saja dengan Alya. Biarkan Erick merawat Alya selama di rumah sakit tanpa ada ikut campur siapa pun. Biarkan saya menjalankan tugas sebagai suami!” mohon Erick dengan tegasnya.


“Tapi bagaimana mama mau meninggalkan kamu berdua saja dengan Alya. Bertemu sebentar saja, kalian bertengkar,” jawab Mama Danish.


“Itu hanya praduga mama saja. Tidak mungkin kami berdua bertengkar seharian,” balas Erick, berusaha menyakinkan Mama Danish dan Bu Yanti.


 “Lalu....Agnes?” tanya Mama Danish.


“Agnes itu hanya pura-pura pingsan, setelah saya pecat di kantor,” jawab santai Erick


“Dipecat, kamu pecat Agnes.........tumben bukannya Agnes istri kesayangan kamu?” ejek Mama Danish.


“Baiklah Bu Yanti, bagaimana kalau untuk hari ini kita percayakan Erick untuk mengurus dan menemani Alya. Biar kita bisa istirahat di rumah sejenak?” Mama Danish menanyakan pendapat Bu Yanti.


Sebenarnya Mama Danish dan Mama Yanti masih belum percaya dengan Erick, tapi apa salahnya kalau tidak mencobanya. Lagi pula Erick suami Alya, yang berhak penuh menemani dan mengurus Alya.


“Baiklah untuk malam ini saja,” mama Yanti menyetujuinya.


“Terima kasih mah, Bu Yanti,” ujar Erick, kegirangan bisa berduaan dengan Alya.


Mama Danish dan Mama Yanti mengambil tas mereka masing-masing, kemudian meninggalkan Erick dan Alya.


Sekarang tinggallah Erick dengan Alya hanya berdua, pria itu membuka jas kerjanya, kemudian menyingsingkan kedua lengan kemejanya ke atas, lalu membuka dua kancing kemejanya.


Semoga saya bisa menaklukkan Alya......batin Erick.


Sebelum mengecek kondisi Alya, pria itu menghubungi Pak Arif lewat sambungan telepon untuk membawakan makan malam buat dirinya dan Alya, dan pastinya masakan sesuai pesanan Erick.


Setelahnya, Erick mengecek  kondisi Alya, dengan menempelkan punggung tangan ke kening Alya. “syukurlah, tidak sepanas tadi,” gumam Erick.

__ADS_1


“Alya.........bangun sayang,” ujar Erick dengan lembutnya, sambil mengusap lembut pipi Alya.


“Eugh.......,” lenguhan Alya terdengar, kemudian kedua kelopak matanya mulai mengerjap-ngerjap.


Wajah Erick nampak jelas di kedua netra Alya, pria yang baru saja mencium bibirnya dengan kasar.


“Mah........,” panggil Alya.


“Mama sudah pulang, sebentar saya harus panggil dokter Dewi dulu,” Erick kembali memencet tombol yang ada di dekat ranjang Alya.


Alya kembali diam, tidak mengeluarkan suaranya.


“Kamu mau minum? Biar saya bantu ambilkan?” tawar Erick.


Alya hanya menggelengkan kepalanya, tidak menerima tawaran Erick.


Erick mengambil botol minum di atas nakas, “ Minum dulu, badan kamu masih panas, butuh banyak minum,” ujar Erick, tanpa aba-aba pria itu membantu mengangkat punggung Alya dari pembaringan agar duduk bersandar headboard ranjang. Membuat bibir mereka berdua kembali menyapa, dan saling menyentuh, akan tetapi tidak ada yang bergerak. Kedua netra Alya membelalak, sedangkan Erick juga terkejut.


Erick menahan dirinya untuk tidak menyesap bibir ranum Alya, yang begitu menggoda.


“Maaf.......bukan maksud saya menciummu lagi,” ucap pelan Erick, ketika menarik wajahnya. “Ini minumlah....,” Erick menyodorkan botol air mineral.


“Kebiasaan........sudah berani cium segala, tidak ingat apa yang tadi!!" gerutu kesal Alya sambil menerima botol air mineral dari tangan Erick, kemudian meminumnya. Untuk ketiga kalinya Alya menerima ciuman dari Erick menurut hitungan wanita itu, pria yang pertama mencuri ciuman pertamanya.


Pria itu kembali memajukan wajahnya, “tamparlah wajahku, biar hatimu tidak marah lagi,” pinta Erick dengan pelan.


Alya berhenti minum. “Bapak yang minta, jangan salahkan saya!!” jawab Alya, kembali mendaratkan tangannya ke salah satu pipi Erick.


PLAK!!


Kali ini wajah Erick tampak meringis kesakitan.”Sakit ya.......tapi bapak yang memperbolehkannya tadi,” tanya Alya, dengan wajah tanpa berdosa.


“Ya.......,” Erick mengelus pipinya yang mulai memerah, bekas di tampar Alya. Pria itu rela pipinya kembali menerima tamparan dari istrinya.


Di sela mereka bicara, Dokter Dewi berkunjung kembali.


“Permisi Pak Erick, saya mau mengecek kondisi istrinya,” pinta Dokter Dewi. Erick menyingkir sementara, agar Dokter Dewi bisa memeriksa.


“Mbak Alya badannya demam, sudah saya kasih injeksi obat penurun panas. Nanti setelah makan malam, minum obat lagi. Tolong jangan banyak pikiran, banyak minum air putih. Sekarang perutnya ada yang  di rasa tidak  semacam kram atau sakit?” tanya Dokter Dewi, sambil menyentuh perut Alya.


 bersambung..........apa yang akan terjadi di saat malam hari, hanya berdua saja 🙈🙈

__ADS_1


 


__ADS_2