Pinjam Rahim - Istri Ketiga

Pinjam Rahim - Istri Ketiga
Ada yang berulah


__ADS_3

Erick yang mendengarkan kalimat perhatian dari kedua istrinya, hanya melirik sesaat kepada kedua istrinya.


“Kalian berdua tidak perlu repot-repot menyiapkan makan malam buat saya. Lagi pula selama ini yang menyiapkan kebutuhan saya, itu Pak Arif, kalian berdua hanya sekedar menaruhnya dalam piring!” ujar Erick, memang kenyataan seperti itu. Agnes dan Delila tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur, walau sekedar untuk membuat omellet buat suaminya, karena semua sudah di urus oleh Pak Arif serta para pelayan untuk kebutuhan tuan dan nyonya-nya.


Tuan kenapa bisa bilang seperti itu sekarang?......batin Pak Arif.


Agnes dan Delila tidak berkutik. Sebagai istri Erick, pria itu tidak pernah menuntut kedua istrinya menyiapkan makannya, terutama memasak untuk pria itu. Dan buat kedua istrinya itu hal yang sangat menggembirakan, tidak perlu repot masak untuk suaminya. Tapi sungguh di sayangkan kedua istrinya benar-benar tidak memanjakan lidah suaminya dengan masakkan buatan mereka masing-masing. Bukankah dari makanan buatan istri, seorang suami bisa semakin mencintai istrinya. Sepertinya Agnes dan Delila tidak memahami!


“Pak Arif, tolong buatkan saya makan malam, pakai ayam bakar, sama sambal terasi. Dan buatkan saya minuman jeruk peras hangat. Antar ke kamar saya,” perintah Erick. Pria itu tumben ke pengen makan ayam bakar dengan sambal terasi.


“Baik Tuan, segera saya masakkan,” Pak Arif bergegas ke ruang kerja tuannya untuk menaruh tas kerja, lalu ke dapur.


“Mas Erick, malam ini tidak lupakan.......jatah tidur di kamar saya,” ujar manja Delila.


Pria itu kembali menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh ke arah Delila dan Agnes, yang masih mengikuti langkahnya. “Sepertinya kali ini saya tidak bisa tidur di kamar kalian berdua, untuk berdekatan dengan kalian saja, membuat perut saya mual dan ingin muntah,” jujur Erick.


“Mas Erick, sebaiknya periksa ke dokter. Biar rasa mual dan muntahnya bisa terobati. Saya tidak mau begini terus, berjauhan dengan Mas Erick, saya kangen sama mas Erick,” ujar manja Delila.


“Iya Mas Erick, aku juga kangen sama Mas Erick,” sambung Agnes.


Agnes dan Delila rindu kehangatan di ranjang masing-masing, haus belaian bersama suami gantengnya, Erick.


Mendengar kata kangen dari mulut Agnes dan Delila, Erick terasa jijik.......entah kenapa.


“Memangnya Mas Erick tidak merindukan aku?” goda Agnes dari jarak dua meter, di bukanya belahan rok sepannya hingga terlihat paha mulusnya.


Pria itu hanya tersenyum tipis, melihat Agnes berusaha menggoda hasrat dirinya. Akan tetapi tiba-tiba wajah Alya berkacamata muncul di pelupuk matanya.


Alya......


Tanpa menjawab dan merespons, pria itu kembali melangkahkan kakinya, dan masuk ke dalam kamar pribadinya.


“Sialan!!” umpat Agnes, tidak berhasil menggoda Erick.


Harus cari cara lain kalau begini....batin Agnes.


Di satu sisi Delila ingin tertawa melihat Agnes gagal.


Akhirnya Agnes masuk ke kamarnya, sedangkan Delila dengan senyum smirknya melangkahkan kakinya ke dapur.


🌹🌹

__ADS_1


TOK......TOK......TOK


“Permisi Tuan, saya mau antar makan malamnya,” ujar Pak Arif dari luar pintu kamar.


“Masuk, Pak Arif,” sahut Erick dari dalam kamar.


Terlihat Erick sudah menggunakan baju santainya dan duduk santai di sofa, Pak Arif segera meletakkan pesanan makan malam di atas meja,”selamat menikmati, Tuan.” Ujar Pak Arif.


“Terima kasih,” jawab Erick, sang  kepala pelayan keluar dari kamar.


 Saat menikmati makan malamnya seorang diri, Erick tiba-tiba teringat ketika makan siang dengan Alya, wanita berkacamata begitu lahap kalau makan, menghiraukan pria ganteng yang berada di sampingnya. Sumpah wanita berkacamata itu kalau makan tidak anggun. Erick tersenyum mengingatnya, akan tetapi kembali murung.


“Bisakah kita bertemu Alya.......walau hanya sebentar. Saya ingin menyapa anakku,” gumam Erick sendiri dengan tatapan sedihnya.


Selepas Erick menghabiskan nasi ayam bakarnya, pria itu menghabiskan jeruk peras hangatnya.


Lima belas menit kemudian, Erick merasakan keganjilan di tubuhnya, terasa panas serta benda pusakanya terasa mengeras akibat tegang.


Sepertinya ada yang memasukkan obat perangsang ke dalam makanan atau minuman!!.......geram batin Erick.


Ceklek......


Wanita yang menggunakan kimono masuk ke kamar Erick. Kemudian wanita itu mengendap-endap mencari Erick. Melihat pria yang di cari sedang berada di balkon, di bukanya kimono yang di pakainya hingga terjatuh ke lantai.


“Egh........,” Erick tersentak kaget, ketika dirinya merasa ada yang memeluknya dari belakang.


Wanita itu langsung memeluk tubuh Erick, dan tangannya menyentuh benda pusaka Erick. Tanpa menunggu waktu lama pria itu langsung membalikkan tubuhnya.


“DELILA APA APAAN KAMU!!” pekik Erick, melihat tubuh Delila sudah tampak polos, tidak menggunakan kain sehelai pun.


“Huek....huek......huek,” isi makan malam Erick keluar dan mengenai tubuh polos Delila.


“Uek........,” Delila ikutan muntah juga, jijik melihat muntahan Erick mengenai tubuh polosnya.


“KURANG AJA KAMU DELILA, BERANINYA MASUK KE KAMAR SAYA!! DAN KAMU PASTI YANG MEMBERIKAN OBAT PERANGSANG....HEM!!” amarah Erick meluap, dagu Delila sudah dicengkeram oleh pria itu dengan sekuat tenaga. Sudah tahu Erick melarang keras kedua istrinya masuk ke dalam kamar pribadinya, tidak satu pun di izinkan, dan malam ini Delila melanggar.


“Ampun mas.....sakit.....mas.....,” ringis Delila kesakitan.


“Saya kangen sama Mas Erick.....,”


“Kamu bilang kangen sama saya, tapi tindakan kamu sudah keterlaluan,” wajah ganteng Erick terlihat sangar.

__ADS_1


“Huek.........huek...,” Erick kembali mengeluar isi perutnya, dan sudah pasti mengenai tubuh polos Delila, benar-benar pria itu tidak bisa berdekatan dengan Delila, membuat perutnya bergejolak.


Erick merenggangkan cengkeraman di dagu Delila, “KELUAR KAMU DARI KAMAR SAYA!!” pekik Erick.


Delila dengan wajah ketakutannya, langsung mengambil kimononya lalu memakainya, kemudian keluar kamar Erick.


“Sialan, gue gagal.....mana kena muntahan!!” umpat kesal Delila, setelah keluar kamar Erick.


“Arrghh........!!” teriak kesal Erick, pria itu segera ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya, sekaligus menuntaskan hasratnya.


🌹🌹


Esok hari.....


Mansion utama


Mama Danish menangis tersedu-sedu di ruang makan. “Mama, sudah jangan menangis lagi,” bujuk Papa Bayu.....sambil mengelus punggung tangan istrinya di meja makan.


Di hari sabtu, pagi hari yang cerah, tapi diselimuti kesedihan ketika Alya, Mama Danish dan Papa Bayu baru akan menikmati sarapan paginya.


“Mah, sudah jangan bersedih lagi....,” ujar Alya.


“Hiks.....hiks.......malang benar nasib kamu nak, kenapa kamu tabah sekali. Mama gak kuasa lihatnya.......hiks.....hiks.”


Pagi ini Papa Bayu dan Mama Danish dapat kabar dari asisten mengenai artikel yang berkaitan dengan Erick dan Alya.


“Papa akan lihat apa yang di lakukan oleh Erick, jika tidak ada tindakan. Berarti anak kita benar benar bodoh!!” geram Papa Bayu.


*bersambung....


Halo Kakak Readers yang cantik dan ganteng selamat hari senin, selamat beraktivitas kembali. Jangan lupa yang masih punya Vote mau dong di lemparin buat Alya dan Erick 🙏🤗, biar Erick segera tahu wajah asli Alya 😁😁. Terima kasih sebelumnya 🙏🙏🙏


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹


"Saya ingin bertemu denganmu Alya*!!!"



"Tapi saya tidak ingin bertemu denganmu, Pak Erick!!"


__ADS_1


__ADS_2