
Masih di resto
Pria dengan rupa yang ganteng, masih berdiri dan terpaku, melihat kepergian wanita yang sangat cantik melebihi kedua istrinya.
“Kenapa suaranya mirip dengan seseorang!!” gumam Erick sendiri.
Rio melihat kejadian Erick yang sempat memeluk Alya, langsung beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Pak Bosnya.
“Pak Bos ada apa? Gak jadi ke toilet?” tegur Rio.
“E-eh.......jadi,” buyar tatapan Erick yang sempat terpaku. Pria itu lupa dengan tujuannya jika ingin ke toilet. Setelah diingatkan oleh asistennya, pria itu kembali melanjutkan langkahnya ke toilet, sedangkan Rio kembali ke meja nya.
Ketika akan masuk ke dalam toilet khusus pria, Erick dan Alya kembali berpas-pasan......yang kebetulan Alya baru saja keluar dari toilet khusus wanita.
Tanpa sengaja Erick dan Alya kembali bersitatap tanpa berbicara, tatapan Alya begitu menajam ketika Erick menatapnya. Sedangkan tatapan Erick seperti mencari sesuatu....
Wanginya sama persis dengan wangi Alya.........batin Erick. Ketika Alya berlalu begitu saja dari Erick.
“Ah......mungkin hanya kebetulan saja wanginya sama, mungkin parfumnya sama. Lagi pula wajah mereka berbeda walau suaranya agak mirip,” gumam Erick sendiri di toilet. Pikiran yang ada di hati dan di otaknya segera di tepisnya.
Sedangkan Alya yang sudah keluar dari toilet, dan kembali ke mejanya langsung memanggil pelayan resto. “Mbak, pesenan saya di bungkus saja ya, tidak jadi makan di sini,” pinta Alya, niat untuk makan di tempat di batalkan karena ada Erick dan Rio di resto wanita itu berada.
“Baik mbak, di tunggu sebentar,” jawab pelayan resto.
“Oke mbak,” Alya kembali fokus dengan handphonenya.
Tak selang berapa lama, Erick keluar dari toilet dan kembali ke mejanya. Saat menuju mejanya, pria itu sengaja memperlambat langkah kakinya, dan memperhatikan kembali wanita yang sempat di peluknya. Ingin mendengar suara wanita itu, memastikan kembali apakah suaranya benar mirip atau hanya sekedar mirip.
“Permisi mbak, boleh saya duduk di sini?” tanya Erick dengan sopannya.
Alya yang masih fokus dengan handphonenya, mendongakkan wajahnya.
__ADS_1
Ternyata Pak Erick sama saja dengan pria yang lain, lihat wanita cantik........langsung mendekati. Nasib....nasib kamu Alya yang buruk rupa........lihatlah pria yang baru saja kamu terima benihnya. Kenyataannya sama saja untung hanya suami di atas kertas....batin Alya.
Tidak ada respon dari Alya, wanita cantik itu tidak menjawab hanya menatap pria ganteng yang masih berdiri dekat mejanya.
Sedangkan pria ganteng itu berpikir pasti wanita itu memperbolehkan dirinya untuk duduk bersama, apalagi wanita mana yang menolak diri Erick yang begitu ganteng, pastilah mau. Selama menunggu jawaban dari Alya, Erick kembali memperhatikan wanita itu mulai dari wajahnya kemudian lengannya, mencari barang yang di pakai oleh wanita itu yaitu gelang waktu lamaran jika memang wanita itu adalah Alya sesuai praduganya, akan tetapi tidak ada. Wajah Erick sedikit kecewa atas praduga yang salah.
Dari kejauhan kedua netra Alya sudah melihat pelayan resto yang sempat di panggilnya menuju mejanya dengan membawa bungkusan, sepertinya milik wanita itu.
Wanita itu segera beranjak dari duduknya, menghiraukan keberadaan Erick. Kemudian wanita itu langsung menghampiri pelayan tersebut.
Erick hanya bisa bengong saja, dirinya yang begitu ganteng di acuhkan dan di tinggalkan oleh wanita cantik itu.
“Huft...........,” pria itu hanya bisa menghela napas panjang, misinya gagal, dan kembali duduk di mejanya.
“Kenapa Pak Bos? Jangan bilang Pak Bos lagi jatuh cinta dengan wanita cantik yang tadi duduk di sana?” tanya Rio.
“Bukan jatuh cinta Rio, tapi penasaran saja, wanita tadi suaranya mirip dengan Alya. Terus wangi tubuhnya juga sama dengan Alya. Makanya tadi saya memastikan lagi. Tapi wajahnya berbeda kalau Alya jelek, sedangkan yang wanita yang barusan sangat cantik,” Erick masih terpesona.
“Lebih cantik dari pada Nyonya Agnes dan Nyonya Delila, ya Pak Bos.”
“Andaikan saya jadi suami wanita cantik itu, saya akan melarang dia pergi ke resto sendiri. Kalau perlu saya larang untuk keluar dari rumah,” ujar Rio, sambil mengambil makanannya yang telah datang.
“Saya juga akan melarang wanita cantik itu keluar dari mansion, kalau bisa saya kurung di kamar pribadi saya. Di larang keluar!” balas Erick tiba-tiba berkhayal.
Andaikan Pak Bos tahu, jika wanita yang barusan dihadapi adalah istri bos sendiri......untung tidak mengenalinya.......batin Rio.
“Pak Bos, gak usah berkhayal.....istri Pak Bos sudah ada tiga, memangnya mau nambah lagi jadi empat. Kali ini jatah saya,” jawab Rio.
“Iya Rio, istri saya memang ada tiga. Tapi entah kenapa hati saya ketika memeluk wanita tadi.......seperti memeluk Alya. Dan matanya mirip sekali dengan Alya, Itu yang membuat saya makin penasaran.”
“Sudah Pak Bos.....jangan penasaran lagi, mungkin hanya kebetulan saja. Masalah wangi.....semua orang bisa pakai parfum yang sama. Sedangkan ketika memeluk, mungkin karena prostur tubuhnya yang kebetulan sama. Jadi tidak usah di pikirkan lagi. Lagi pula hanya ketemu sesaat,” Rio berusaha agar Pak Bosnya tidak mengingat-ingat wanita cantik itu.
Erick hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ada benarnya ucapan sang asisten hanya pertemuan sesaat dengan wanita yang tak di kenal.
__ADS_1
“Lagi pula mana mungkin Alya bisa secantik seperti wanita tadi,” lanjut Rio mendoktrin pikiran Erick.
“Iya mana mungkin juga Alya bisa secantik seperti itu, harus operasi plastik baru bisa cantik,” cemooh Erick sambil mengingat wajah jeleknya Alya.
Semoga aja Pak Bos tidak kena serangan jantung melihat wajah Alya yang sebenarnya......batin Rio.
Puas membicarakan wanita cantik itu, Erick dan Rio kembali menyantap makan malamnya yang sudah di pesan. Erick pun mulai melupakan tentang wanita cantik itu, yang dikiranya Alya.
🌹🌹
Mansion Utama.
Setelah menyelesaikan makan malam di resto, Erick memutuskan untuk menginap di mansion utama.
“Assalamualaikum Mah, Pah?” sapa Erick ketika masuk ke ruang keluarga.
“Walaikumsalam....loh tumben kamu ke sini lagi?” tanya Papa Bayu.
Pria itu mendudukkan bokong di sofa, bergabung dengan mama dan papanya.
“Lagi pengen menginap di sini, Pah.”
“Lalu kedua istri kamu?” tanya papa Bayu.
“Nanti Erick kasih kabar ke mereka berdua,” Erick menghela napas panjang. “Mah, tadi sore Erick ke rumah Alya, dia marah dan mengancam akan minum pil KB. Mama bisa bujuk Alya untuk tidak melakukannya,” pinta Erick dengan nada memelasnya.
BRAK
Mama Danish melemparkan majalah yang sedang di bacanya ke atas meja sofa.
“Suruh istri kedua kamu ikut program bayi tabung!! Dan jika Alya dua minggu lagi hasilnya negatif. Maka kamu ceraikan Alya saat itu juga. Kalian bertiga itu memang sama saja, mama menyesal meminta Alya mau menikah dengan kamu!! Sudah berulang kali jangan mendekati Alya, beri dia rasa nyaman dan tenang, tapi masih saja kamu melanggarnya!” naik pitam Mama Danish.
bersambung.........
__ADS_1