
Bik Sur memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menuju dapur untuk membuatkan teh untuk tamu.
“Maaf ya Pak Erick, agak lama bikin minumnya. Tadi bibi habis terima telepon dari Nyonya,” ujar Bik Sur, sembari meletakkan gelas teh ke meja.
“Silahkan di minum Pak, Ibu.” Bik Sur mempersilahkan kepada tamu yang datang.
“Alya sedang perjalanan pulang ke rumahkan, Bik?” tanya Erick, sambil menahan napas, karena tidak tahan dengan wangi kedua istrinya.
“Maaf Pak Erick, tadi bibi sudah tanya.......ternyata Non Alya tidak pulang ke rumah, katanya langsung menginap ke rumah saudaranya yang ada di puncak,” ujar bohong Bik Sur.
“Menginap di puncak! Bisa minta alamatnya?” perut Erick mulai bergejolak kembali, aroma wangi kedua istrinya mulai menusuk-nusuk hidungnya. Selama mereka bertiga di ruang tamu, Erick sudah cukup lama menahan rasa mualnya.
Alya lagi hamil, kenapa menginap di puncak??Dan kenapa tidak izin ke saya!! Batin Erick kesal dan kecewa.
“Maaf Pak Erick, bibi tidak tahu alamatnya.”
“Kalau begitu.....kami titip barang ini buat Alya, ya Bik.....Tolong di sampaikan kalau kami datang untuk menjenguknya,” ujar Agnes, percuma berlama-lama jika orang yang ingin di jenguk tidak ada di rumah.
“Bik......saya izin ke kamar mandi,” ujar Erick sambil menutup mulutnya.
“Silahkan Pak Erick....,”
Pria itu dengan langkah besar menuju kamar mandi, kemudian mengeluarkan isi perutnya kembali. Cukup lama pria itu di dalam kamar mandi, sampai perasaannya lega.
Kenapa jadi sering muntah, begini.....!”
Agnes dan Delila mulai terasa tidak nyaman dalam duduknya, “Mas Erick, kok lama amat di kamar mandi!” gerutu Agnes.
“I-Iya.......” sambung Delila.
Bik Sur yang berada di antar mereka, hanya bisa mengamati wajah mereka berdua.
Mereka berdua ini siapanya Pak Erick??....batin Bik Sur.
“Bik......bisa lihatin suami aku di kamar mandi, aku takut kenapa-napa soalnya udah terlalu lama di kamar mandi,” pinta Agnes.
Apa suami......Pak Erick suami ibu ini, jadi Non Alya ???
Bik Sur tahu jika Non Alya sudah menikah dengan Erick, tapi tidak tahu jika status Erick sudah beristri, karena tidak turut hadir di acara pernikahan. Pikir Bik Sur gosip yang beredar dekat rumahnya itu bohong kalau Alya menikah dengan pria yang sudah beristri, akan tetapi hari ini Bik Sur jadi tahu, tapi Bik Sur tidak langsung berasumsi buruk pada Alya. Karena sangat mengenal Alya dari kecil.
__ADS_1
“Sebentar bibi tengok ke dalam dulu Bu,” pamit Bik Sur.
Rupanya Erick sudah keluar dari kamar mandi, dengan wajah kucelnya dan tertunduk lemas.
“Pak Erick.....baik-baik aja kan? Istrinya sudah menunggu di ruang tamu?” tanya Bik Sur, setelah melihat wajah Erick.
“Perut saya agak mual Bik, ini saja habis muntah-muntah,” keluh Erick sambil memegang perutnya.
“Non Alya, kalau perutnya mual, suka bikin air jahe. Kebetulan masih ada stocknya, Pak Erick mau coba in, siapa tahu cocok?” tawar Bik Sur.
“Boleh deh Bik.....tolong buatkan siapa tahu mualnya berkurang,” Pria itu mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di dapur.
“Sebentar bibi buatkan dulu,” Bik Sur segera mengambil toples yabg berisi serbuk jahe milik Alya, dan menyeduhnya dengan air panas.
“Nah ini Pak Erick, minuman kesukaan Non Alya kalau lagi masuk angin,” Bik Sur menyodorkan secangkir air jahe hangat.
Erick langsung menyesapnya pelan-pelan, terasa hangat di tenggorokan dan di perutnya. Ada sedikit rasa nyaman di hatinya, ketika minum minuman kesukaan Alya. Mungkinkah karena Bik Sur menyebutkan nama Alya, membuat rasanya nyaman.
“Bik boleh saya minta serbuk jahe milik Alya, nanti saya gantikan yang baru. Kayaknya minuman ini cocok buat perut saya,” pinta Erick, dengan melihat toples serbuk jahe yang isinya tinggal setengah.
“O-oh boleh Pak Erick, bawa saja......,” Bik Sur segera memberikan toples serbuk jahe tersebut.
“Bukannya istri Pak Erick yang ada di ruang tamu?” tanya Bik Sur polos.
“Maksud saya, Alya.....Bik,” balas Erick.
“O-oh iya nanti bibi sampaikan ke Non Alya.”
Erick melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, tapi tiba-tiba langkah kakinya berhenti ketika melewati pintu kamar Alya. Sedangkan Bik Sur yang mengikuti pria itu dari belakang turut berhenti.
“Bik Sur.....boleh saya masuk ke kamar Alya,” pinta Erick tanpa menoleh ke belakang, untuk melihat Bik Sur.
Wajah Bik Sur tampak meragu, antara memberikan izin atau tidaknya.
Belum di jawab, ternyata tangan pria itu sudah membuka handle kamar Alya, dan masuk ke dalam kamar.
Wangi ciri khas tubuh Alya yang sering pria itu cium menyeruak di kamar Alya, rasa mual yang di alami pria itu tiba-tiba berkurang.
Akan tetapi.....
__ADS_1
“Bik Sur, ini ada apa!!” seru Erick, melihat ada koper besar di atas kasur Alya yang terlihat terbuka, dan ada beberapa pakaian yang tersusun rapi.
Bik Sur coba bersikap tenang.”Katakan Bik Sur, ini bajunya Alya kan?” Erick menyodorkan pakaian yang di ambilnya dari dalam koper.
“Iya Pak Erick, itu baju Non Alya,” jawab Bik Sur, dengan tatapan tenangnya.
“Katakan Bik Sur, sebenarnya Alya mau kemana? Kenapa ada koper besar di sini?” Erick sudah mulai ke blingsatan.
“A-anu Pak Erick....... bibi hanya di suruh merapikan baju Non Alya aja.”
“Jangan tutupi rencana Alya sama saya, Bik Sur, sebenarnya Alya mau kemana?” geram Erick belum dapat jawaban yang pas.
Sebaiknya Pak Erick, di kerjaiin aja.......batin Bik Sur.
“Non Alya akan pindah Pak Erick dan tidak akan tinggal di sini lagi, tapi bibi tidak tahu tinggal di mananya,” ujar bohong Bik Sur.
“Arrgghh......,” pekik Erick penuh emosi, di jungkir baliknya koper yang ada di ranjang Alya, hingga semua pakaian Alya berserakan.
Bik Sur terlihat tenang, melihat suami dari majikannya terlihat emosi, justru hanya tersenyum smirk.
Non Alya tidak akan menghindari pria ini jika pria ini baik!!.....batin Bik Sur.
“Katakan Bik Sur, kemana Alya akan pindah, dia itu lagi hamil anak saya!!!” dengan nada emosi Erick memaksa Bik Sur untuk memberitahukannya, pria itu tiba-tiba tidak terima Alya meninggalkan rumahnya sendiri, harus kemana dirinya mencari wanita berkacamata itu yang sedang hamil benihnya.
“Mas Erick, ada apa!!” Agnes yang mendengar teriakan Erick, segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan suaminya.
“Jangan mendekat, Agnes!!” pekik Erick yang sedang kalut sedangkan Agnes terlihat ingin mendekatinya.
“Mas Erick, sebaiknya kita pulang saja. Sepertinya keadaan Mas Erick sedang tidak baik,” ajak Agnes kepada suaminya.
Erick dengan sorot mata membara keluar dari kamar Alya dengan wajah terlihat emosi, kecewa untuk kesekian kalinya. “Jangan sentuh!!” tegur Erick, ketika Agnes ingin memegang lengan Erick.
bersambung......
"Sungguh beraninya kamu pergi, membawa calon anak-anakku!!" geram Erick.
"Saya butuh ketenangan, Pak Erick......"
__ADS_1