SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS


__ADS_3

💦 H-1


Pagi sekali sekitar pukul lima subuh Seruni menghubungi Reksa. Dan saat itu Reksa sedang bersiap untuk melakukan jogging yang rutin dilakukannya setiap pagi. Dengan terisak-isak Seruni menceritakan semua yang dialami oleh suaminya kepada Reksa. Dia juga meminta Reksa menyampaikannya kepada bapaknya agar Mbah Suro sudi untuk menolong suaminya. Reksa yang mendengar cerita dari orang yang hingga saat ini masih menempati ruang hatinya itu seolah ikut merasakan kesedihan Seruni. Hatinya berdenyut nyeri saat mendengar isak tangis wanita pujaannya itu.


Reksa mengurungkan niatnya untuk pergi jogging. Ia kembali melepas sepatu yang sudah melekat di kakinya. Ia langsung melangkah menuju ke ruang yang digunakan bapaknya untuk bersemedi. Karena bapaknya itu sejak semalam berada di dalam ruangan tersebut yang diyakininya sedang bersemedi.


Reksa sudah berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Namun dirinya tidak memiliki keberanian untuk mengetuk pintu itu. Takutnya bapaknya itu belum selesai dan ia mengganggunya. Tapi keadaannya saat ini sedang urgent. Jadi dengan mengucap bismillah berharap bapaknya sudah selesai semedi, Reksa mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Namun belum sempat tangannya menyentuh pintu, pintu itu sudah di buka dari dalam dan muncullah bapaknya dari ruangan tersebut.


"Ada apa Rek? Kenapa masih di rumah? Biasanya sudah pergi." Mbah Suro sedikit terkejut.


"Pak, barusan Seruni telepon. Dia nangis-nangis katanya suaminya lagi sakit. Bapak diminta ke sana untuk menolong suaminya."


"Kemarilah masuk, akan bapak ceritakan sesuatu yang belum kamu ketahui." Reksa pun menurut masuk ke dalam ruangan itu. Dan Mbah Suro kembali menutup pintunya.


Setelah anaknya itu duduk, Mbah Suro ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang anak. "Untuk kali ini bapak tidak bisa membantu."


"Kenapa pak? Bukankah bapak selama ini tidak pernah pilih-pilih dalam membantu orang?"


"Ya, tapi kali ini maaf. Alfa sendiri yang sudah memilih jalannya. Dulu bapak sudah berniat membantunya, namun dia tetap kekeuh mempertahankan benda yang membuatnya jadi seperti ini."


Reksa mengernyitkan alisnya. "Benda apa? Sebenarnya apa yang terjadi?"


Akhirnya Mbah Suro pun menceritakan semuanya kepada anaknya. Reksa hanya diam tertegun. Saat ini yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana nasib Seruni? Wanita itu bahkan tidak tau kalau dia harus mengorbankan suaminya untuk menebus kebebasannya.

__ADS_1


"Apa tidak ada jalan untuk menyelamatkan Alfa pak?"


"Sudah terlambat! Tepat pergantian malam nanti, bertepatan dengan malam satu suro, Nyi Sukmawati akan membawa Alfa dan membebaskan Seruni."


"Terus sekarang kita harus bagaimana? Apa Seruni nantinya tidak akan kecewa dengan kita?"


"Datanglah kesana. Katakan kalau bapak sedang ada urusan penting dan tidak bisa datang."


"Terus nanti apa yang harus aku lakukan di sana Pak? Pasti nanti Seruni akan meminta ku untuk menolong suaminya. Apa aku harus diam saja tanpa mengulurkan tangan ku?" Dilema sudah pasti. Disisi lain dia tidak akan tega melihat kesedihan Seruni. Namun di sisi lain, dia tidak mungkin melawan Nyi Sukmawati. Bapaknya saja yang menurutnya memiliki kekuatan cukup tinggi memilih menyerah, apalagi dirinya yang kekuatannya belum seberapa?


*****


Baru saja seruni menutup teleponnya, ekor matanya tak sengaja melihat suaminya yang sudah membuka matanya. Namun suaminya itu hanya diam saja dengan pandangan kosong.


"Al, alhamdulillah..... Kamu sudah sadar sayang?" Seruni senang akhirnya suaminya itu membuka matanya. "Ma, Alfa sudah sadar." Seru Seruni yang membuat Mama Amara langsung terduduk. Matanya yang masih terasa lengket ia paksa untuk melek.


"Ma, tolong panggil dokter ma." Seruni yang tadi sempat merasakan sedikit kebahagiaan karena suaminya sudah sadarkan diri, harus kembali dihempaskan oleh kenyataan bahwa suaminya itu tidak meresponnya.


Mama Amara langsung berlari ke keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.


Papa Zaky dan om Pras yang berjalan di koridor Rumah Sakit menuju ruang perawatan anaknya seketika berlari saat melihat besannya itu berlarian.


Braakk!!

__ADS_1


Papa Zaky mendorong pintu dengan kasar hingga pintu tersebut menghantam tembok. Papa Zaky langsung merangsek menuju brankar anaknya di ikuti oleh om Pras.


"Al, kamu sudah sadar nak?" Hening! Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Alfa. "Al, ini papa nak." Masih hening. Seketika itu emosi Papa Zaky kembali memuncak. "Dasar wanita iblis! Pergi kau dari sini!" Papa Zaky dengan sekuat tenaga mendorong menantunya hingga Seruni terhuyung ke belakang dan hampir saja terjatuh jika tidak ada sepasang tangan yang menangkapnya.


"Aaaahh!"


"Hey Zaky brengsseekk!" Seru Mama Amara marah.


"Terimakasih dok." Ucap seruni saat menyadari dirinya ternyata di tolong oleh seorang dokter yang menangani suaminya. Ya, sang dokter yang menangani Alfa langsung sigap berlari saat melihat Seruni yang merupakan istri dari pasiennya didorong oleh mertuanya.


"Ini di rumah sakit pak, mohon jangan membuat keributan. Tidak sepantasnya bapak berbuat seperti itu kepada menantu bapak sendiri." Ucap sang dokter.


"Jangan ikut campur kamu! Tugas mu adalah menyembuhkan anak ku, bukan ikut campur urusan ku!" Sembur papa Zaky.


Sang dokter pun kembali ke tujuan awalnya yang ingin memeriksa kondisi pasiennya tanpa mempedulikan orang tua dari pasiennya yang nampak kesetanan.


"Baru kali ini aku menangani seorang pasien yang cukup aneh." Ujar sang dokter. "Padahal menurut catatan medis di sini, kondisi pasien cukup baik. Tapi kenapa bisa seperti ini?" Sang dokter geleng-geleng kepala karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Dokter tidak akan menemukan penyakit keponakan saya. Karena penyakitnya berasal dari santet yang dilakukan oleh istrinya sendiri!" Ujar om Pras yang lagi-lagi menuduh Seruni sebagai pelaku atas keadaan keponakannya saat ini.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2