SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TIGA PULUH SATU


__ADS_3

Seruni melesatkan mobilnya untuk kembali ke kediaman Faya. Entah sekarang apa yang harus ia lakukan untuk menemukan keberadaan Alfa. Menurut penjelasan Ega yang mengatakan bahwa Ghea sudah memiliki kekasih, tidak mungkin rasanya jika Ghea masih berhubungan dengan Alfa.


Ingin rasanya Seruni menangis, menjerit dan meraung. Pupus sudah harapannya untuk kembali seperti dulu lagi.


"Aah!" Teriak Seruni seraya memukul kemudi hingga membuat Faya terlonjak.


"Astaga Run, ngagetin aja!"


"Terus aku harus bagaimana Fa? Hiks.. hiks.." Runtuh juga akhirnya pertahanan Seruni.


"Tenang dulu, oke! Nanti kita pikirkan lagi langkah selanjutnya. Sekarang lebih baik kamu fokus nyetir dulu, ngeri tau!" Faya memang sedikit was-was. "Apa biar aku saja yang bawa mobilnya." Usul Faya, namun Seruni tak bergeming dan tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Setibanya di kediaman Faya, Seruni menurunkan sahabatnya itu tepat di depan pagar rumahnya dan dirinya langsung melesat pulang.


*****


Seminggu berlalu, akan tetapi Seruni belum juga mendapatkan jalan keluar atas masalahnya itu, semakin frustasi saja dirinya.


"Bagaimana kalau kita kembali ke tempat Mbah Suro saja Run?" Usul Faya berbisik pelan. Ia merasa kasihan melihat sahabatnya itu yang akhir-akhir ini nampak murung seperti tak ada semangat hidup. Saat ini mereka berdua sedang berada di kantin kampus. "Mbah Suro kan orang sakti, siapa tahu saja Mbah Suro dapat melihat keberadaan Alfa lewat mata batinnya." Lanjut Faya.


Sejenak Seruni nampak diam berfikir, mencerna ucapan Faya yang kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Harusnya kemarin Mbah Suro sekalian memberitahukan keberadaan Alfa, agar dirinya tidak kebingungan seperti ini.


"Atau coba saja kamu telpon mas Reksa, tanya sama dia siapa tahu dia bisa bantu." Usul Faya lagi.


"Aku nggak punya nomor Mas Reksa Fa."


"Lah, bukannya kemarin sempat tukeran nomor telepon?"

__ADS_1


"Bukan tukeran, tapi mas Reksa yang minta nomor ku."


"Terus sampe sekarang dia nggak ada hubungin kamu?" Seruni menggeleng lesu. Sedangkan Faya menepuk jidatnya. Dahlah, nyerah saja! Sepertinya memang nggak ada jalan keluar selain menunggu keajaiban datang.


Ting!


Bunyi notif tanda pesan masuk menyadarkan mereka berdua dari lamunan. Seruni langsung menyambar ponselnya yang ia letakkan di atas meja yang ada di depannya. Seruni langsung membuka pesan yang ternyata dari nomor yang tidak dikenal.


[Hay Run, apa kabar?] -0812345-


"Siapa?" Faya memanjangkan lehernya berusaha mengintip. Seruni langsung memperlihatkan kepada sahabatnya layar ponselnya itu. "Balas saja, siapa tau itu Alfa." Seruni pun segera membalas pesan tersebut.


[Siapa?] -Seruni-


Seruni dan Faya nampak harap-harap cemas menunggu balasan pesan dari nomor tak dikenal itu. Cukup lama mereka menunggu hingga suara notif pesan kembali masuk ke ponsel Seruni.


Ting!


"Siapa?" Faya nampak penasaran. Seruni kembali memperlihatkan layar ponselnya. "Pucuk dicinta ulam pun tiba!" Seru Faya tanpa sadar hingga dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kantin.


"Hust!" Seruni meletakkan jari telunjuknya di depan bibir seraya melotot tajam ke arah sahabatnya itu.


"Hehe, kelepasan!" Cengir Faya.


[Mas Reksa? Serius?] -Seruni-


[Ya! Share lock rumah mu Run] -Reksa-

__ADS_1


"Gimana ini Fa?" Seruni memperlihatkan pesan Reksa yang baru saja masuk.


"Berarti mas Reksa ada di kota ini Run?"


"Mungkin,"


"Ya sudah kirim saja lokasinya, kita pulang sekarang. Mungkin ini adalah jawabannya."


"Hah, jawaban apa?"


"Sudah, nanti kamu juga akan tahu. Ayo!" Faya langsung meraih tasnya diikuti oleh Seruni. Mereka langsung bangkit meninggalkan kantin.


Bruukk!


"Auw!" Teriak seseorang saat p@nt@tny@ mendarat dengan keras di lantai kantin. Ya, karena terburu-buru hingga tanpa sengaja Seruni menabrak Sinta, mantan sahabatnya yang baru saja memasuki area kantin. "Ayam kampus sialan!" Maki Sinta kesal dengan wajah yang nampak merah padam karena menahan rasa sakit dan juga menahan rasa malunya.


"Maaf!" Seruni mengulurkan tangannya ke arah Sinta yang masih terduduk di lantai, namun segera ditepis oleh Sinta. Dan Sinta pun memilih berdiri sendiri.


"J@1@n9 sialan! Nggak punya mata loe!" Teriak Sinta sekali lagi.


"Maaf, kami buru-buru." Ucap Faya kemudian segera menarik tangan Seruni. Mereka langsung melesat menuju ke parkiran kampus.


Mungkin gara-gara rasa putus asanya, Seruni menjadi sedikit linglung. Bukannya sejak tadi mereka membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang dialaminya? Benar apa yang di ucapkan Faya, pucuk dicinta ulam pun tiba! Saat mereka menemui jalan buntu, tiba-tiba saja Reksa datang sebagai penerang. Bukankah itu yang dinamakan sebuah keajaiban? Karena datangnya di waktu yang sangat tepat.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2