SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS TIGA


__ADS_3

Di Rumah Sakit...


Reksa berulang kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu hampir menuju pukul dua belas malam, kurang lima belas menit lagi. Namun yang ditunggu tak kunjung kembali.


Seruni dan mama Amara nampak tertidur lelap. Begitu pula dengan Alfa yang tadinya saat kedatangan Reksa masih membuka matanya, perlahan memejamkan matanya dan sepertinya ikut terlelap juga.


Dengan harap-harap cemas Reksa menunggu kedatangan papa Zaky dengan harapan mertua Seruni itu segera datang dengan membawa benda yang dimaksudnya.


Di alam bawah sadarnya, Seruni kembali dipertemukan dengan sosok wanita cantik berkebaya hitam, berselendang merah serta rambut yang disanggul yang dulu pernah hadir di dalam mimpinya. Seruni mengenali wanita itu dengan sebutan Nyai. Mungkin itu adalah Nyi Sukmawati yang menempati raganya.


"Ke-kenapa kamu datang lagi? Bukankah seharusnya kamu sudah pergi dan tidak mengganggu ku lagi?"


Nyi Sukmawati tersenyum anggun. "Nduk cah ayu, waktunya sudah tiba. Sekarang aku membebaskan mu. Setelah ini carilah kebahagiaan mu." Setelah mengatakan itu Nyi Sukmawati langsung menghilang dari pandangan Seruni.


"Run, Run, bangun Run, suami mu." Reksa mengguncang pelan tubuh Seruni hingga sang empunya terlonjak. Perlahan mata itu terbuka, dan betapa terkejutnya ia saat melihat suaminya itu kejang-kejang dengan mata melotot serta mulut yang terbuka seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu namun tercekat di tenggorokannya.


"Al, Alfa, kamu kenapa Al? Panggil dokter cepat!" Teriak Seruni hingga membangunkan mamanya.


"Run, ada apa?" Mama Amara segera mendekat dan langsung terkejut saat melihat keadaan menantunya. "Reksa, tolong panggilkan dokter nak!"


"I-iya Tante!" Reksa segera berlari keluar dari ruangan tersebut meninggalkan anak dan ibu yang sedang panik.


Tak berselang lama Reksa sudah kembali bersama dengan seorang dokter dan seorang perawat. Dokter dan perawat tersebut langsung sigap mengecek kondisi pasiennya.


Seruni terisak-isak dalam pelukan mamanya. Anak dan ibu itu saling berpelukan dalam tangis mencoba menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


Reksa menatap iba ke arah keduanya. Andai saja dirinya bisa melakukan sesuatu untuk menolong, sudah pasti akan ia lakukan. Namun sayangnya ia tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan untuk Alfa.


*****


Di dunia lain...


Dengan di iringi suara gamelan dan juga beberapa penari, Alfa perlahan melangkahkan kakinya melewati sebuah karpet merah panjang dengan di apit oleh Ki Sanusi dan Mbah Suro. Alfa nampak linglung, pandangannya kosong menatap lurus ke depan dimana di depan sana, lebih tepatnya di atas pelaminan ada wanita cantik yang duduk di singgasana. Tangan kanan Alfa nampak menggenggam erat benda yang menjadi penyebab dirinya bisa berada di alam ini yang tak lain bukan alam manusia.


Mereka bertiga berhenti tepat di depan wanita cantik itu yang semakin terlihat cantik saat melebarkan senyumnya. Alfa menoleh ke arah Ki Sanusi dan Mbah Suro bergantian. Ki Sanusi dan Mbah Suro pun mengangguk bersamaan.


Tangan kanan Alfa terulur. Sang wanita pun segera menundukkan kepalanya. Alfa mengarahkan benda yang ada di dalam genggamannya ke atas kepala sang wanita bersiap untuk menusukkan tusuk konde itu ke atas sanggul sang wanita.


Seolah ada yang menghitungnya, 1, 2, 3, dan tepat pada hitungan ketiga, tusuk konde itu sudah menancap di atas sanggul Nyi Sukmawati. Dan bersamaan dengan itu di dunia nyata, Alfa menghembuskan nafas terakhirnya tepat jam dua belas malam.


"Tidak!" Seruni mengurai pelukannya dan langsung berlari menghampiri tubuh suaminya yang sudah tidak lagi bernyawa. "Al, bangun Al, bangun. Hiks.. hiks.." Di guncangnya tubuh suaminya itu dengan keras. Namun raga tak bernyawa itu tetap diam saja.


Seorang perawat melepas infus yang melekat di tangan Alfa. Hanya infus dan tidak ada peralatan medis lainnya karena di dalam tubuh Alfa tidak terdeteksi adanya penyakit yang serius.


Dokter masih membiarkan Seruni memeluk tubuh suaminya. Dokter mengerti kesedihan yang dirasakan oleh istri dari almarhum pasiennya itu.


Setelah dirasa cukup, sang dokter segera mengisyaratkan kepada Mama Amara untuk menenangkan anaknya. Mama Amara pun mengangguk kemudian mendekati anaknya dan langsung meraihnya ke dalam pelukan.


Suara jeritan serta raungan Seruni memenuhi ruang perawatan suaminya saat seorang perawat menarik selembar kain putih untuk menutupi tubuh suaminya. Dan bertepatan dengan itu, papa Zaky serta om Pras memasuki ruang perawatan anaknya dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari tempat parkir hingga ruangan tersebut. Dan betapa terkejutnya papa Zaky saat melihat tubuh anaknya itu sudah diselimuti dengan selembar kain putih.


"Tidak!" Teriak papa Zaky. Lututnya langsung lemas. Namun ia dengan sekuat tenaga berusaha menyeret langkahnya mendekati brankar. Dibukanya kain penutup itu. Wajah pucat Alfa langsung terlihat jelas di matanya. "Al, kenapa kamu pergi ninggalin papa nak? Kenapa?" Papa Zaky memeluk jenazah anaknya dengan terisak-isak.

__ADS_1


Om Pras mengepalkan kedua tangannya. Dengan emosi yang menggebu ia menghampiri Seruni. "Dasar wanita iblis!"


Plaakk!


"Aaahh!" Jerit Seruni dan mama Amara bersamaan. Tamparan itu begitu keras hingga membuat sudut bibir Seruni mengeluarkan darah.


Reksa yang tidak terima melihat Seruni diperlakukan seperti itu segera menarik baju belakang om Pras.


Buuugh!


Satu pukulan telak mendarat di wajah om Pras hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Saat Reksa melangkah maju, sang dokter segera menghalanginya.


"Tolong jangan bikin keributan di sini, atau saya akan memanggil security untuk menyeret kalian keluar." Ucap sang dokter.


Perlahan brankar itu di dorong oleh sang dokter dan perawat keluar dari ruang perawatan menuju ke ruang jenazah.


Papa Zaky dengan di bantu om Pras segera mengurus biaya administrasi untuk kepulangan jenazah anaknya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2