SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
LIMA PULUH DUA


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Mama saya dok?" Seruni langsung menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD. Begitupun dengan Alfa.


"Tenang ya, keadaan pasien saat ini sudah baik-baik saja. Namun masih belum sadarkan diri. Beruntung tadi cepat dibawa ke rumah sakit."


"Mama saya sakit apa dok?"


"Serangan jantung ringan."


"Serangan jantung?"


"Ya! Harap jangan membuat pasien terkejut berlebihan. Karena itu dapat memicu sistem kerja jantungnya."


"Apa saya boleh masuk dok? Saya ingin melihat keadaan Mama saya."


"Boleh, pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."


Sebenarnya setelah Seruni berpamitan untuk pergi ke kampus tadi pagi, Mama Amara langsung keluar dari kamarnya saat mendengar deru mesin mobil yang semakin menjauh. Mama Amara tidak mengunci dirinya seharian di kamar. Mama Amara juga melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. Hanya saja ia tidak selincah biasanya. Dadanya yang terasa nyeri membuatnya tak leluasa melakukan aktivitas.


Sore harinya saat mama Amara mendengar deru mesin mobil anaknya, Mama Amara cepat-cepat mematikan saluran televisi yang ditontonnya kemudian segera masuk ke dalam kamar kembali. Namun naasnya, saat mama Amara ingin pergi ke kamar mandi, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi.


*****


Seruni duduk di samping brankar mamanya. Sedangkan Alfa duduk di sofa yang ada di dalam ruang perawatan Mama Amara.


Tak berselang lama Faya datang bersama mamanya. Ya, tadi saat Seruni menunggu Mamanya di depan ruang IGD, Seruni sempat menghubungi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Tante Amara Run?" Faya dan mama Gita mendekati brankar.


"Kata dokter keadaan Mama sudah baik-baik saja. Tinggal menunggu Mama sadar."


"Yang sabar ya Run. Amara wanita yang kuat, pasti dia baik-baik saja." Mama Gita mengelus kepala Seruni.


"Iya Tan, Aku harap juga begitu." Sahut Seruni.


Alfa nampak beranjak dari duduknya kemudian mendekat ke arah Brankar. "Run?"


Seruni, Faya, dan mama Gita menoleh. "Alfa!" Seru Faya dan mamanya bersamaan. Faya dan mama Gita tidak menyadari kalau ternyata di dalam ruangan itu ada orang lain selain mereka bertiga.


"Fa, Tante," Alfa langsung meraih tangan Mama Gita kemudian menciumnya.


"Baik Tan." Alfa beralih menatap Seruni. "Mana ponsel mu?" Alfa menadahkan tangannya.


Seruni tanpa bertanya langsung menyerahkan ponselnya kepada Alfa.


Setelah mengetikkan nomornya dan menyimpannya ke dalam ponsel Seruni, Alfa langsung menyerahkan kembali ponsel Seruni kepada sang empunya. "Hubungi aku bila terjadi sesuatu. Aku pulang dulu, nanti malam aku akan kembali."


Seruni hanya mengangguk. Alfa pun langsung pamit undur diri. Tak lupa ia juga berpamitan kepada Mama Gita.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Faya sepeninggal Alfa. Dan Seruni pun langsung menceritakan kronologis kejadiannya yang Seruni sendiri saja tidak tahu.


Menjelang Maghrib Faya dan mamanya pamit pulang. Hanya tinggal Seruni seorang diri yang menjaga mamanya. Sebenarnya tadi Faya ingin menemaninya menjaga Mama Amara. Namun Seruni menolaknya karena sudah ada Alfa yang nantinya akan menemaninya.

__ADS_1


Faya pun tidak memaksa. Mungkin ini adalah kesempatan buat Seruni dan Alfa untuk berbicara dari hati ke hati tentang masalah pelik yang dihadapi oleh mereka.


"Maafkan Seruni ma. Maaf kalau Runi sudah membuat Mama kecewa. Bukan ingin ku seperti ini ma. Tapi keadaan yang memaksa ku menjadi seperti ini." Seruni menggenggam erat tangan mamanya. Ia menangis, kepalanya ia sandarkan di samping tangan sang mama. Tanpa Seruni sadari Mama Amara sudah sadarkan diri. Namun Mama Amara memilih diam saja karena ingin mengetahui apa yang selama ini disembunyikan oleh anaknya itu.


"Ada sesuatu dalam diri Runi yang membuat Runi menjadi seperti ini. Dan hanya Alfa lah yang mampu menghentikan semua ini. Makanya Runi memutuskan untuk menerima pernikahan ini meskipun Runi tidak mencintai Alfa."


Setitik air mata jatuh di sudut mata mama Amara. Bahkan dalam keadaan dirinya yang tidak sadar pun, anaknya itu tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Malam harinya Alfa menepati janjinya untuk datang kembali. Dengan menenteng kantong kresek di tangannya, Alfa memasuki ruang perawatan Mama Amara.


"Sudah makan?" Tanya Alfa yang dijawab gelengan kepala oleh Seruni. "Makanlah, ini aku bawakan kamu makan." Alfa menyodorkan kantung kresek ke arah Seruni.


"Terimakasih." Seruni langsung mendudukkan tubuhnya ke sofa diikuti oleh Alfa yang juga duduk di sampingnya. "Kamu sudah makan Al?"


"Sudah, makanlah!"


Seruni langsung melahap makanannya hingga tandas. Alfa nampak senang karena Seruni perlahan mau menerimanya. Memang ini yang ia inginkan sejak dulu. Alfa benar-benar mencintai Seruni, namun sejak dulu Seruni tak pernah melihatnya sedikitpun. Seruni hanya menganggapnya sebagai teman karena Seruni tidak ingin merusak persahabatan yang terjalin diantara mereka.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2