
Seruni menyeret kakinya dengan malas memasuki rumahnya yang pintunya terbuka lebar. Sebuah rasa penyesalan sedikit menggelayuti hatinya. Kenapa dirinya tadi tidak singgah terlebih dahulu di rumah Faya. Kenapa tadi dirinya harus buru-buru pulang.
"Assalamualaikum!" Ucap Seruni agak keras hingga membuat mama Amara tersentak.
"Waalaikum salam." Jawab mama Amara dan om Zaky bersamaan.
Seruni melangkah menghampiri mamanya kemudian mencium tangannya. Setelah itu ia mengulurkan tangannya kepada Om Zaky dengan malas. Om Zaky pun segera meraih tangan Seruni dan Seruni langsung mencium punggung tangan Om Zaky sekilas lalu segera menarik tangannya kembali.
"Baru pulang Run?" Tanya om Zaky.
"Iya om, Seruni permisi masuk dulu." Pamit Seruni.
"Duduk sini dulu." Sergah mama Amara cepat seraya menepuk sofa di sampingnya. Mau tak mau Seruni pun mendudukkan tubuhnya di samping sang mama. "Om Zaky datang ke sini mau mengajak kita makan malam nanti." Ucap mama Amara menyampaikan maksud kedatangan om Zaky. "Bagaimana?"
"Terserah mama saja." Jawab Seruni malas. Menolak pun rasanya percuma. Mamanya itu pasti akan kecewa.
"Baiklah Zak, kami akan datang nanti malam." Putus mama Amara.
"Oke, nanti aku share lokasinya. Kalau begitu aku pamit dulu. Aku juga harus memberitahukannya kepada anak ku." Pamit om Zaky.
__ADS_1
"Ya!" Sahut mama Amara.
Setelah kepergian om Zaky, seruni langsung mencecar mamanya. Ia sama sekali tidak memahami maksud dan tujuan om Zaky karena raut wajahnya sulit untuk di baca karena sering berubah-ubah.
Kemarin-kemarin pas ketemu, mode buaya yang nampak dari om Zaky. Sekarang entah mengapa Seruni tidak menangkap itu. Yang terlihat hanyalah sebuah keseriusan. Kemana mode buaya yang kemarin ditampilkan oleh om Zaky?
"Sebenarnya apa maksud om Zaky sih ma? Kenapa tiba-tiba ngajak makan malam? Kalau Mama ingin makan malam berdua dengan om Zaky silahkan. Seruni nggak akan melarang mama. Kenapa harus bawa-bawa Seruni?"
"Run, ini hanya makan malam biasa saja untuk menyambung silaturrahmi. Om Zaky hanya ingin memperkenalkan anaknya kepada kita."
"Seruni kan sudah bilang nggak mau dijodohin." Sanggah Seruni.
"Huuuft baiklah," Seruni beranjak dari duduknya meninggalkan mamanya masuk ke dalam kamar.
Rasanya beban berat di pundaknya semakin menumpuk. Ada saja masalah yang menghampiri dirinya. Satu masalah belum terselesaikan, kini datang lagi masalah yang baru. Bolehkan ia meminta agar waktu berhenti sejenak? Seruni merasa lelah. Lelah dengan kehidupannya yang tak kunjung menemukan kebahagiaan. Padahal ia tidak pernah meminta yang muluk-muluk. Seruni hanya ingin terbebas dari semua ini dan hidup normal seperti dulu lagi.
Huuuft, rasanya mengeluh pun percuma. Benar kata Reksa, jalani saja seperti air mengalir. Ngomong-ngomong soal Reksa, kok Seruni jadi kangen ya sama pemuda tampan itu.
Seruni segera meraih ponselnya untuk menghubungi Reksa. Namun saat ia melihat jam yang tertera di layar ponselnya menunjukkan pukul tiga, ia pun mengurungkan niatnya itu. Pukul empat jam praktek baru usai. Ia tidak ingin mengganggu jam kerja Reksa. Mungkin nanti malam saja seusai makan malam ia akan menghubungi Reksa. Jam segitu pasti Reksa sudah tidak sibuk.
__ADS_1
Seruni menyeret langkah kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin sebaiknya ia mandi agar emosi yang sejak tadi ditahannya bisa mereda karena guyuran air dingin.
*****
Di tempat lain....
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kevin. Kevin pun segera membuka ponselnya dan tertera nama papanya disana. Dengan malas ia membuka pesan dari papanya itu.
[Temui Papa di restoran X nanti malam jam 7. Ada yang ingin Papa bicarakan]
Kevin langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur setelah membaca pesan dari papannya. Hubungannya dengan sang papa selama ini memang kurang baik. Kevin memilih tinggal bersama Oma Tari, ibu dari mamanya setelah kepergian mamanya. Kevin sangat membenci papanya karena ia menganggap papanya lah penyebab mamanya meninggal.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1