SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TUJUH PULUH LIMA


__ADS_3

Saat Mbah Suro kembali, Mbah Suro melihat anaknya itu tertidur dalam posisi duduk dan kepalanya disandarkan ke tembok. Mbah Suro tersenyum. Diperhatikannya raut wajah anaknya itu dalam-dalam. Memang benar-benar duplikat dirinya. Namun sorot mata Reksa yang teduh itu bukan miliknya, melainkan milik istrinya. Karena sorot mata Mbah Suro tajam. Orang yang ditatapnya pasti akan merasa terintimidasi.


Sudah lima belas tahun istrinya itu pergi meninggalkannya. Namun Mbah Suro sama sekali tidak terpikirkan untuk mencari penggantinya. Selama ini yang ia pikirkan hanyalah merawat dan membesarkan anaknya serta menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Melihat ponsel anaknya yang tergeletak di atas tikar, Mbah Suro berinisiatif meraihnya. Di bukanya ponsel anaknya itu yang ternyata terkunci. Bukan karena dirinya tidak tau, hanya saja ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya dan juga apa yang dirasakannya itu tidak salah. "Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan dipersatukan bagaimanapun itu caranya." Gumam Mbah Suro pelan.


Mbah Suro segera membangunkan anaknya itu agar bisa berpindah ke kamarnya. "Bangun Rek." Mbah Suro menepuk tubuh anaknya dua kali membuat Reksa gelagapan.


"Eh, bapak sudah kembali?" Reksa meraup wajahnya dengan kedua tangannya guna mengusir rasa kantuk yang masih menggelayut di pelupuk matanya.


"Heem, pindah ke kamar mu sana." Mbah Suro bangkit lalu keluar dari ruangan tersebut.


Reksa segera meraih ponselnya yang tergeletak kemudian ikut keluar dari ruangan itu. "Bapak sebenarnya tadi dari mana?" Reksa mengikuti bapaknya yang berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.


"Menemui kawan lama." Jawab Mbah Suro setelah berhasil meneguk air di dalam gelas. Rupanya perjalanan jauh membuatnya kehausan.

__ADS_1


"Owh, baiklah, aku ke kamar dulu Pak." Reksa bergegas melangkah menuju kamarnya.


"Heem, jangan tidur terlalu larut." Ujar Mbah Suro yang membuat Reksa membalikkan badan.


"Bapak sendiri juga jarang tidur." Protes Reksa yang membuat Mbah Suro terkekeh. Memang benar, Mbah Suro selama ini memang jarang tidur karena malamnya sering ia habiskan untuk bersemedi. Sedangkan siangnya ia habiskan untuk membantu orang.


"Makanya itu, sekarang perbanyaklah tidur. Nanti jika waktunya sudah tiba, kamu pasti juga akan jarang tidur seperti bapak."


"Baiklah, jangan bangunkan Reksa sebelum waktunya tiba." Sahut Reksa.


"Hey, itu masih dua tahun lagi." Seru Mbah Suro. "Apa kau ingin belajar mati suri?!"


Mbah Suro hanya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja ucapan anaknya itu. Mbah Suro segera meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya. Mbah Suro memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya karena malam ini dirinya tidak melakukan semedi.


*****

__ADS_1


"Sayang," Bisik Alfa seraya merapatkan dekapannya ke tubuh sang istri yang tidur membelakanginya. Namun istrinya itu sama sekali tidak meresponnya karena sudah tertidur lelap. "Run," Bisiknya lagi. "Aku tidak bisa tidur ini. Tega sekali kau membiarkan suami mu begadang sendirian." Gerutu Alfa yang merasa diabaikan oleh istrinya.


Alfa sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bukan karena ia belum terbiasa tidur di rumah Seruni. Ia bisa tidur di manapun dan dalam kondisi apapun. Hanya saja adik kecilnya sejak tadi terbangun dan tidak mau tidur kembali. Jadi ia pun juga tidak bisa tidur karena kepala atas bawah terasa nyut-nyutan.


Alfa terus merutuki nasib malam pengantinnya. Bukannya seharusnya malam ini dirinya sedang enak-enak bersama istrinya? Meskipun ini bukan malam pertama bagi mereka, tapi malam ini adalah malam untuk mereka memadu kasih. Namun karena terhalang lampu merah, maka dirinya harus merelakan malam ini berlalu. Dan bukan malam ini saja, tetapi juga malam-malam berikutnya.


Huuuft!


Hawa dingin yang menyergap membuatnya malas pergi ke kamar mandi sekedar untuk menuntaskan hajatnya. Jadi ia memutuskan untuk memeluk istrinya erat-erat. Berharap dirinya bisa terlelap dan adik kecilnya pun juga bisa ikut terlelap. Namun hingga dini hari matanya tak kunjung bisa terlelap.


Entah pukul berapa ia bisa terlelap. Yang pasti ia merasa baru sekejap memejamkan matanya tapi istrinya itu sudah membangunkannya untuk sarapan. Mau tak mau Alfa pun segera bangkit. Dan dengan malas dirinya menyeret langkah kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Berharap dengan mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin, rasa kantuknya bisa hilang dan kembali segar. Dan mungkin itu adalah cara efektif untuk menghilangkan kantuk.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2