SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 139


__ADS_3

Pagi sekali Seruni sudah terbangun. Seruni keluar dari kamar kemudian menyeret langkah kakinya menuju ke belakang saat telinganya mendengar bunyi peralatan dapur yang saling beradu. Seruni membiarkan pintu kamarnya sedikit renggang agar saat baby Al terbangun ia bisa mendengarnya. Karena biasanya anaknya itu akan menangis saat terbangun dan tidak mendapati dirinya di sampingnya.


Saat Seruni tiba di dapur dapat ia lihat Mbak Asih sudah bergelut dengan pekerjaannya. Namun yang membuatnya heran, banyak bahan masakan yang berserakan di lantai dapur. Seruni pikir, apa akan ada tamu hingga Mbak Asih seperti ingin masak besar? Karena rasa penasarannya yang tinggi, Seruni pun tak sungkan bertanya kepada Mbak Asih. "Mbak!"


"Eh, iya Run." Mbak Asih sedikit berjingkat karena kaget. Beruntung apa yang ada di dalam genggamannya tidak terjatuh. Mbak Asih mengecilkan kompornya kemudian membalik tubuhnya menghadap ke arah Seruni. "Apa? Butuh sesuatu?"


"Tumben jam segini Mbak Asih sudah datang?" Waktu baru menunjukkan pukul lima pagi dan Mbak Asih sudah bergelut dengan pekerjaannya. Biasanya jam segitu Mbak Asih baru datang. "Apa mau ada tamu atau acara?" Seruni masih mengedarkan pandangannya menatap kebingungan bahan-bahan masakan yang berserakan di lantai.


"Nggak tau Run. Tadi habis subuh Mbah Suro datang ke rumah, katanya suruh cepet ke rumah buat masak. Untung aja kemarin baru habis belanja, jadi stok bahan makanan masih banyak." Ya, memang Mbah Suro tidak mengatakan apapun kepada Mbak Asih. Mbah Suro hanya mengatakan agar Mbak Asih segera datang dan masak lebih banyak dari biasanya. Mbak Asih pun berpikir mungkin akan ada tamu penting hingga Mbah Suro ingin menjamunya.


"Owh, ya sudah. Apa yang bisa aku bantu mbak?" Seruni menghampiri bahan-bahan makanan itu kemudian berjongkok. Maksud hati ingin membantu mengupaskan bawang atau memotong sayuran, namun mbak Asih mencegahnya.


"Tidak Run, nggak usah. Biar nanti Mbak kerjakan sendiri. Tadi Mbah Suro berpesan kalau kamu sudah bangun disuruh siap-siap."


Kerutan di kening Seruni semakin berlipat. Memangnya ada apa dirinya disuruh bersiap sepagi ini? Seruni bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa Mas Reksa akan mengajaknya berangkat sepagi ini? "Apa Mas Reksa sudah bangun Mbak?"


"Belum Run. Udah sana siap-siap. Turuti saja apa yang dikatakan oleh Mbah Suro." Ujar Mbak Asih saat melihat kebingungan yang nampak di wajah Seruni.


Seruni pun akhirnya bangkit dari jongkoknya. Meskipun ia masih merasa kebingungan, Seruni tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Mbah Suro. Seruni kembali masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Mbak Asih yang kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Setelah hampir satu jam lamanya dirinya bersiap bersama anaknya yang juga sudah terbangun, Seruni segera keluar dari kamar yang ditempatinya saat telinganya mendengar suara gaduh yang berasal dari luar. Dan betapa terkejutnya dirinya saat mendapati banyak orang yang sudah memenuhi ruang tamu. Kemana perginya sofa yang ada di ruang tamu? Kenapa sekarang berubah menjadi lesehan begini?

__ADS_1


"Sudah siap?" Reksa ternyata sudah menyambutnya di depan pintu. Membuat Seruni tersentak dari lamunannya.


"M-mas Reksa sebenarnya ini ada apa?" Tanya Seruni kebingungan.


"Sini Al sama Akung aja." Mbah Suro langsung meraih baby Al dari gendongan mamanya. "As!" Panggil Mbah Suro kepada pembantu rumah tangganya.


Mbak Asih langsung tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Dan yang membuat Seruni semakin kebingungan, Mbak Asih sudah berdandan cantik memakai kerudung. "Iya Mbah."


"Bantu Seruni memakai kerudungnya."


"Siap Mbah. Ayo Run." Mbak Asih langsung menarik lengan Seruni membawanya masuk ke dalam kamar kembali.


"Ini sebenarnya ada apa sih Mbak?" Seruni sudah tidak tahan lagi memendam kebingungannya sendirian.


Seruni dan Mbak Asih segera keluar dari kamar. Dan Reksa sudah nampak mengenakan jas berwarna hitam. "Ayo!" Reksa mengulurkan tangannya ke arah Seruni.


Seruni perlahan menyambut uluran tangan Reksa. Keduanya melangkah mendekati dua orang yang sudah duduk di balik meja pendek. Mereka berdua tak lain adalah Pak penghulu beserta asistennya.


Pagi tadi setelah dari rumah Mbak Asih, Mbah Suro langsung pergi ke rumah Pak penghulu yang untungnya berada di desa sebelah, tidak terlalu jauh dari rumahnya. Mbah Suro meminta kepada Pak penghulu agar menikahkan anaknya secara siri terlebih dahulu. Namun Pak penghulu tidak langsung mengiyakan permintaan Mbah Suro itu. Akhirnya Mbah Suro pun menceritakan sedikit maksud dan alasan kenapa dirinya meminta menikahkan anaknya secara dadakan.


Pak penghulu tadi sempat mengira bahwa pihak perempuan sudah berbadan dua. Ternyata apa yang dipikirkannya itu salah. Maklum saja, akhir-akhir ini dirinya sering diminta menikahkan sepasang muda-mudi yang ternyata sudah berbadan dua.

__ADS_1


"Sudah siap?" Tanya pak penghulu menatap ke arah keduanya.


"Sudah pak!" Jawab Reksa mantap tanpa keraguan. Sedangkan Seruni terlihat menunduk seraya memilin jari-jarinya yang terasa bergetar.


Pak penghulu mengulurkan tangannya dan langsung dijabat oleh Reksa.


Sesaat kemudian kata sah sudah memenuhi ruang tamu yang tidak terlalu luas itu.


"Saaaaah!" Suara para saksi serempak bersamaan dengan orang-orang yang menyaksikan pernikahan mereka yang tak lain adalah bapak-bapak tetangga rumah Mbah Suro.


Akhirnya mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Acara kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama.


Tepat pukul delapan pagi, sepasang pengantin baru itu berangkat meninggalkan kediaman Mbah Suro menuju ke kota sebelah, kota dimana asal Seruni. Kota yang menciptakan sejuta luka yang hingga saat ini masih bersemayam di dalam dada.


*****


*****


*****


Alhamdulillah Saaaaaahh! 🤭😂😂

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2