SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS DUA PULUH


__ADS_3

Seusai membuat sarapan para ibu-ibu tetangga rumah Seruni pada keluar dari rumah mereka guna mencari anak dan suaminya untuk sarapan bersama. Namun sayangnya mereka hanya menemukan keberadaan anaknya saja tanpa menemukan keberadaan suaminya yang biasanya berada di halaman rumah mereka. Entah itu sedang mainan burung, atau sedang mencuci motor atau yang lainnya.


Bu Ning yang mendengar jeritan dari sebelah, lebih tepatnya dari rumah Seruni langsung berlarian bersama suaminya menuju rumah Seruni. Para ibu-ibu yang melihat itu pun ikut berlarian mengikuti tetangganya masuk ke dalam rumah Seruni. Dan semua itu masih dalam pengawasan papa Zaky.


"Mama! Hu.. hu.. hu.. Jangan pergi ma. Kalau mama pergi Runi sama siapa? Hu.. hu.. hu..?" Suara tangis Seruni benar-benar menyayat hati. Faya yang sejak tadi memeluknya tidak mampu menenangkannya.


"Ada apa pak?" Tanya Bu Ning kepada bapak-bapak yang ternyata sudah keluar dari kamar mama Amara. Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan istri-istri mereka.


"Bu Amara meninggal Bu." Jawab salah satu dari mereka.


"Innalillahi.... Kok bisa? Kapan? Kenapa mendadak?" Bu Ning benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bu Ning dan ibu-ibu yang lainnya langsung menerobos masuk ke dalam kamar mama Amara dan mendapati Seruni yang menangis tergugu sedang memeluk tubuh Mamanya di atas tempat tidur.


Rasa iba langsung merambati hati mereka. Bagaimana tidak, dulu Seruni kehilangan papanya dalam kecelakaan kerja. Dan baru saja beberapa bulan yang lalu Seruni ditinggalkan oleh suaminya. Sekarang Mamanya juga ikut pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil besar. Hati mana yang tidak ikut teriris melihat keadaan Seruni saat ini.

__ADS_1


"Yang sabar ya Run." Bu Ning tak kuasa ikut menitikkan air matanya.


"Ada apa ini?!" Suara menggelegar terdengar menusuk gendang telinga mereka. Papa Zaky yang penasaran ikut menerobos masuk ke dalam rumah Seruni.


Mereka yang mengenali papa Zaky sebagai mertua Seruni segera memberi jalan agar bisa segera masuk ke dalam kamar dan melihat sendiri keadaan yang ada di dalam kamar.


Melihat orang-orang yang haya diam saja, papa Zaky segera menerobos masuk ke dalam kamar. Dan saat melihat pemandangan yang ada di depan matanya, papa Zaky sudah langsung bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Dasar wanita iblis! Wanita pembawa sial!" Suara papa Zaky mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di sana termasuk Seruni dan Faya. "Dulu kau menjadikan suami mu sendiri sebagai tumbal, dan sekarang giliran mama mu sendiri yang kau jadikan tumbal." Jari telunjuk papa Zaky menuding ke arah Seruni menantunya. "Besok siapa lagi yang akan kau jadikan tumbal? Hah!"


"Kalian lihat," Papa Zaky menunjuk ke arah menantunya, lebih tepatnya ke arah perut Seruni. "Baru saja kemarin suaminya meninggal perutnya sudah sebesar itu. Jelas saja, sebelum anak saya meninggal dia sudah berselingkuh dengan laki-laki lain. Makanya dia tega menyingkirkan suaminya dengan cara menyantetnya agar bisa bersatu dengan selingkuhannya."


Sungguh ingin rasanya Seruni berteriak mengatakan bahwa anak yang saat ini berada di dalam kandungannya adalah anak dari suaminya yang tak lain adalah cucu kandungnya papa Zaky. Namun Seruni memilih diam saja untuk menghindari keributan.

__ADS_1


Para ibu-ibu nampak manggut-manggut dan mulai menatap Seruni dengan pandangan sinis. Sepertinya mereka sudah mulai termakan dengan ucapan papa Zaky yang sebenarnya hanya fitnah belaka. Namun karena menyaksikan kejadian demi kejadian yang belakangan ini terjadi dengan keluarga Seruni, mereka sedikit demi sedikit mulai mempercayainya.


Setelah berhasil menghasut para tetangga sekitar rumah menantunya, papa Zaky segera keluar dari kamar. Ia bermaksud menelepon Kevin anaknya untuk mengabarkan berita kematian mamanya Seruni.


Para tetangga segera membantu prosesi pemakaman mama Amara. Faya tak lupa juga menghubungi orang tuanya dan juga sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang tidak terkejut. Hampir semua orang syok saat mendengar berita kematian mama Amara yang mendadak itu. Karena setahu mereka mama Amara nampak sehat dan baik-baik saja. Tidak menyangka dibalik senyum yang terpancar dan tubuh yang terlihat sehat menyimpan kesakitan seorang diri.


Ya, bagi mereka menganggap mama Amara meninggal karena penyakit jantungnya sedang kambuh. Berbeda dengan anggapan para tetangga yang sudah terkena hasutan dari papa Zaky.


Memang kita tidak bisa mengendalikan pemikiran orang. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha menunjukkan bahwa apa yang dikatakan oleh mereka bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan hanyalah fitnah belaka. Namun semua itu kembali kepada diri mereka masing-masing. Layaknya pepatah yang mengatakan. "Orang yang membenci mu tidak akan percaya itu dan orang yang menyukai mu tidak butuh itu." Intinya mereka yang membenci mu tidak akan mempercayai apapun yang kamu ucapkan meskipun semua itu adalah kebenaran. Namun mereka yang menyukai mu tidak membutuhkan segala bentuk bukti karena percaya sepenuhnya kepada mu.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2