
Seruni dan Alfa kembali merebahkan tubuhnya. Waktu masih menunjukkan dini hari, jadi mereka memutuskan untuk tidur kembali. Alfa memeluk istrinya dengan erat. Tak berselang lama nafas istrinya sudah terdengar teratur. Sedangkan Alfa masih belum bisa memejamkan matanya. Bayangan mimpinya tadi kembali berputar-putar di kepalanya.
"Siapa wanita itu sebenarnya?" Gumam Alfa pelan. "Apa semua ini ada hubungannya dengan benda itu?" Alfa bertanya-tanya dalam hatinya.
Alfa melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri, kemudian beranjak turun dari ranjang setelah memastikan istrinya sudah terlelap. Di langkahkannya kakinya menuju ke sofa di mana tas ranselnya berada. Alfa mendudukkan tubuhnya di sana. Diraihnya tasnya itu kemudian membukanya guna mencari benda yang selama ini disembunyikannya dengan apik.
Alfa membuka resleting tas bagian bawahnya. Tidak akan ada yang menduga bahwa di dalamnya tersimpan benda keramat. Alfa mengeluarkan benda tersebut dari dalam tasnya. Sebuah gulungan kain hitam yang membungkus benda di dalamnya masih tergulung rapi. Alfa kemudian membuka gulungan kain tersebut.
Sebuah tusuk konde langsung terpampang jelas dimatanya. Tusuk konde itu meskipun seperti benda yang sudah berusia ratusan atau bahkan ribuan tahun tapi masih nampak berkilauan.
Alfa membolak-balikkan tusuk konde tersebut. Memperhatikan nya dengan seksama. Namun ia sama sekali tidak melihat keistimewaan dari tusuk konde itu. Ya, tusuk konde itu bagi Alfa hanyalah sebagai hiasan biasa saja yang biasanya menancap di atas sanggul.
"Memangnya apa istimewanya benda ini hingga Mbah Suro menginginkannya?" Gumam Alfa lagi. "Dukun seperti dia pasti memiliki niat jahat." Alfa masih dengan prasangka buruknya terhadap Mbah Suro. "Sampai mati pun aku tidak akan pernah memberikan benda ini kepadanya." Lanjut Alfa.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku tanyakan kepada om Pras saja ya?" Alfa masih membolak-balikkan tusuk konde itu. "Ah, tidak, tidak! Mereka sama-sama dukun, pasti benda ini hanya akan digunakan untuk kepentingan pribadinya saja."
Alfa kembali membungkus tusuk konde itu dengan kain hitam tadi. Setelah itu ia kembali memasukkan gulungan itu ke dalam tasnya, di tempat semula ia menyembunyikannya. Alfa beranjak dari duduknya melangkah menuju ranjang. Alfa kembali bergabung dengan istrinya di atas tempat tidur.
Meskipun sulit untuk menghilangkan bayang-bayang mimpinya tadi, Alfa tetap berusaha memejamkan matanya. Dan entah jam berapa ia bisa terlelap.
*****
"Hoooaamb!" Seruni mengerjapkan matanya beberapa kali seraya meregangkan tangannya. Setelah kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, Seruni bangun kemudian menoleh ke arah suaminya. Dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat raut wajah suaminya yang nampak pucat pasi. "Al," Seruni langsung mengulurkan tangannya menyentuh kening suaminya. "Kamu sakit Al?" Suhu tubuh suaminya itu benar-benar tinggi. "Al, ayo bangun, kita ke rumah sakit sekarang." Alfa hanya diam saja dan tidak menyahut ucapan istrinya. Jangankan berbicara, membuka matanya saja tidak. Seruni panik bukan kepalang.
"Hey, ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah teriak-teriak begitu?" Seru Mama Amara mematikan kompornya.
"Ma, Alfa ma, Alfa sakit, badannya panas banget. Ayo kita bawa ke rumah sakit." Seruni langsung menarik tangan mamanya.
"Eh, tunggu dulu. Mama lepas ini dulu." Mama Amara segera melepas celemek yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Seruni dan mama Amara segera melesat masuk ke dalam kamar di mana nampak Alfa menggigil seraya menggumamkan kata tidak.
"Tidak!"
"Tidak!"
"Al, Alfa sayang, ayo bangun, kita ke rumah sakit." Seruni menepuk serta mengguncang pelan tubuh suaminya. "Ma, hubungi Papa Zaky Ma, cepat." Seru Seruni.
"Ah iya!" Mama Amara segera berlari keluar dari kamar anaknya kemudian menuju ke kamarnya sendiri untuk mengambil ponselnya. Mama Amara segera memberitahu besannya kalau Alfa sedang sakit dan akan segera mereka bawa ke rumah sakit.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏