SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS LIMA BELAS


__ADS_3

Prookk... Prookk... Prookk...


Suara tepuk tangan yang cukup keras mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalam foodcourt. Seruni yang baru tersadar dari keterkejutannya langsung meronta hingga sepasang lengan kekar itu melepaskan rengkuhannya.


"Em-Mas Reksa ngapain disini?!" Seruni tergagap, matanya membola saat menyadari bahwa Reksa lah yang telah menolongnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Bukannya menjawab pertanyaan Seruni, Reksa malah balik bertanya.


Ya, Reksa lah yang telah menolong Seruni. Reksa yang saat itu sedang makan siang bersama kliennya tak sengaja melihat Seruni dan teman-temannya memasuki area foodcourt. Awalnya Reksa hanya diam saja memperhatikan. Namun semakin diperhatikan seperti ada yang berbeda dengan Seruni. Meskipun Seruni sudah memakai pakaian yang longgar, tetap saja perut buncitnya tidak bisa disembunyikan.


Reksa tertegun. Tak menyangka kalau ternyata saat ini wanita yang masih sangat dicintainya itu sedang mengandung. Anak siapa kah itu? Anak Alfa kah? Hampir saja dirinya curiga bahwa anak yang ada di dalam kandungan Seruni bukan milik dari almarhum suaminya, mengingat Seruni dulunya seperti apa. Beruntung dirinya segera tersadar bahwa Seruni sudah terbebas dari jerat Nyi Sukmawati.


Reksa yang melihat Seruni bangkit dari duduknya kemudian melangkah seperti hendak mencari toilet segera ikut beranjak. Ia ingin memastikan sendiri kebenarannya dengan bertanya langsung kepada Seruni.


Dari kejauhan ekor matanya menangkap seorang anak kecil yang sedang berlari. Reksa pun ikut mempercepat langkahnya. Dan benar saja feelingnya yang mengatakan Seruni dalam bahaya. Reksa langsung sigap menangkap tubuh Seruni saat anak kecil itu menubruknya dari belakang.


Sepasang kaki jenjang melangkah menghampiri Seruni dan Reksa masih sambil bertepuk tangan. Pandangannya masih menatap tajam ke arah Seruni yang tertegun. Senyum sinis juga tersungging di bibirnya.


Prookk.. Prookk.. Prookk..


"Luar biasa!" Ujar orang itu yang tak lain adalah papa Zaky. "Lihatlah, baru kemarin suami mu meninggal, perut mu sudah sebesar itu." Papa Zaky menunjuk ke arah perut buncit Seruni. "Apa jangan-jangan memang benar, kalian sudah menjalin hubungan sewaktu anak ku masih hidup?"

__ADS_1


"Tolong jaga bicara anda pak Zaky!" Reksa mengetatkan rahangnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Seruni hanya diam saja menunduk. Bukannya dia tidak berani melawan Papa mertuanya. Namun rasanya percuma saja membuat pembelaan. Karena apapun yang dikatakannya, Papa mertuanya itu pasti tidak akan pernah percaya kepadanya.


"Sssstt!" Papa Zaky mengangkat tangannya seolah meminta Reksa Untuk menghentikan ucapannya. Namun pandangannya masih menatap tajam ke arah Seruni. "Kau benar-benar wanita j@1@n9!" Tangan yang tadi terangkat kini mengayun dan....


Plaakk!


"Aaaahh!"


Tamparan keras melayang di pipi Seruni hingga sang empunya kembali terhuyung. Beruntung Reksa dengan sigap kembali merengkuhnya.


"Om!" Seru teman-teman Seruni bersamaan lalu segera menghampiri mereka. Faya langsung meraih Seruni yang terisak-isak ke dalam pelukannya.


Reksa maju beberapa langkah ke depan setelah Seruni berada di pelukan Faya. "Sungguh anda tidak pantas disebut sebagai orang tua." Jari telunjuk Reksa gantian menuding ke arah papa Zaky. "Harusnya Anda menjaga dan melindungi menantu dan calon cucu anda. Bukan malah memperlakukan menantu Anda seperti binatang!"


"Calon cucu?" Papa Zaky tersentak dengan ucapan Reksa yang mengatakan bahwa anak yang ada di dalam kandungan mantan menantunya adalah calon cucunya. Namun itu hanya sesaat. Papa Zaky sudah langsung bisa menguasai diri kembali.


"Kamu pikir aku bodoh! Kalian berselingkuh di belakang anak ku sewaktu anak ku masih hidup!" Ucap Papa Zaky lantang. "Dan perlu kamu tau!" Papa Zaky kembali menuding ke arah Reksa. "J@1@n9 mu ini berusaha menggoda Kevin yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri!"


Seruni semakin terisak dalam pelukan Faya mendengar semua hinaan yang terlontar dari mulut papa mertuanya.


"Permisi pak, mas, mbak, tolong jangan buat keributan di sini kalau tidak ingin kami seret keluar." Dua orang security menghampiri mereka.

__ADS_1


Tanpa berucap lagi papa Zaky langsung berlalu pergi meninggalkan sekeping hati yang terasa tersayat-sayat.


Tubuh Seruni terasa bergetar dalam pelukan Faya. Faya segera memapah Seruni duduk di kursinya kembali. Faya masih berusaha menenangkan Seruni dibantu oleh Ghea.


"Mas Reksa kenapa bisa ada di sini?" Tanya Faya keheranan.


"Astaga! Aku tadi kesini sama orang. Sebentar ya." Reksa segera kembali ke mejanya untuk pamit. Dan kebetulan Orang itu juga ada urusan yang harus segera diselesaikan.


Reksa kembali ke meja Seruni dan kawan-kawan. Menarik satu kursi lalu mendudukinya. "Tadi aku ada kerjaan sedikit di kota ini. Di suruh magerin rumah orang, setelah itu diajak makan siang disini." Jelas Reksa. "Kamu nggak papa kan Run?"


Seruni hanya menggeleng. "Aku mau pulang." Lirih Seruni.


"Ya, kita akan pulang." Sahut Faya cepat.


"Eh, bagaimana kalau malam ini kalian menginap saja di rumah ku." Usul Ghea. "Nggak mungkin Seruni pulang ke rumah dalam keadaan sekacau ini. Pasti Tante Amara akan ikutan sedih."


Setelah dipikir-pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Ghea. Akhirnya Faya dan Seruni pun menyetujuinya. Sedangkan Ega dan Ruli langsung pulang. Begitu pula dengan Reksa. Rasa penasarannya tentang kehamilan Seruni menguap begitu saja saat melihat Seruni diperlakukan seperti itu oleh Papa mertuanya sendiri.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2