SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEMBILAN PULUH EMPAT


__ADS_3

💦 H-3


Wajah Seruni pagi ini terlihat memucat. Sudah empat hari ini dirinya tidak bisa beristirahat dengan baik. Setiap malam dirinya harus berjaga untuk mengompres suaminya karena demam yang dialami oleh suaminya itu datang di setiap malamnya. Seruni heran, kenapa demam yang dialami oleh suaminya itu hanya terjadi di malam hari saja? Seruni sudah meminta kepada suaminya agar mau kembali dibawa ke rumah sakit. Namun suaminya itu selalu saja menolak. Alasannya karena Alfa selalu kembali normal dan baik-baik saja di kala siang hari.


Ya memang benar, demam yang dialami oleh Alfa hanya terjadi menjelang dini hari hingga menjelang subuh. Dan saat itu pula keduanya baru bisa terlelap. Namun baru beberapa saat rasanya mereka memejamkan mata, alarm yang disetel oleh Seruni pukul lima pagi itu sudah berdering nyaring. Mau tak mau Seruni segera bangkit dari tidur singkatnya. Sedangkan suaminya masih nampak pulas. Karena semenjak mengalami demam, Seruni tidak membiarkan suaminya itu untuk pergi ke kampus. Dan Alfa pun memilih patuh dan menurut kepada istrinya itu.


"Run, apa semalam Alfa demam lagi?" Pertanyaan mama Amara hanya dijawab anggukan lemah oleh anaknya. "Lihat wajah mu pucat begitu, pasti kamu kelelahan. Nggak usah masuk kuliah dulu, mending istirahat di rumah saja."


"Nggak papa ma, aku baik-baik saja kok. Lagian Alfa kalau siang juga baik-baik saja. Jadi aku nggak perlu khawatir meninggalkannya." Seruni menyendok nasi mengisi piringnya beserta lauk yang sudah tertata di meja makan. Akhir-akhir ini Seruni sering makan di kamar bersama suaminya semenjak suaminya sakit. Mama Amara tidak mempermasalahkan itu, karena mama Amara tahu kalau saat ini menantunya sedang kurang enak badan.


"Assalamualaikum....."


Terdengar suara salam bersamaan dari arah depan dibarengi dengan suara gaduh. Seruni dan Mama Amara saling pandang. Namun tak urung mereka berdua tetap menjawab salam.


"Waalaikum salam...." Balas Seruni dan mama Amara bersamaan pula dengan suara yang agak keras. Kemudian mereka berdua melangkah menuju ke depan dan mendapati keempat sahabat Seruni itu sudah duduk manis di ruang tamu.


Ya, Ega dan Ruli yang tidak mendapati Alfa datang ke kampus selama tiga hari memutuskan untuk mendatangi sahabatnya itu. Tak lupa ia juga mengabari Ghea bahwa mereka akan mengunjungi Alfa dan Seruni. Alhasil hari ini mereka bertiga memilih membolos. Faya yang mendapat pesan dari Ghea pun ikut membolos juga. Dan mereka beramai-ramai datang berkunjung ke kediaman Seruni.


"Heh, ngapain kalian pagi-pagi kemari?" Seruni merangsek mendekati mereka seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


"Elah Run, biasalah, kami mau numpang sarapan." Sahut Ruli yang langsung mendapat toyoran dari Ega. "Apa sih Ga, kan gue emang belum sarapan." Protes Ruli membuat mereka tertawa. Begitu pula mama Amara yang ikut terkekeh menyaksikan tingkah sahabat-sahabat anaknya.


"Ya sudah sarapan sana. Untung Mama tadi masak lumayan banyak. Rupanya mau kedatangan tamu agung." Canda mama Amara.


"Tante emang the best!" Ruli mengacungkan kedua jempolnya.


"Terimakasih Tan." Sahut yang lainnya.


"Kami sebenarnya sengaja bolos hari ini karena ingin berkunjung kemari." Kali ini Ega yang membuka suaranya. "Sudah tiga hari Alfa nggak masuk kuliah. Apa dia lagi sakit, atau kemana?"


Sebenarnya banyak pesan dan telepon yang masuk dari Ega serta Ruli. Namun Alfa dan Seruni sepakat untuk tidak memberitahukan kepada mereka bahwa saat ini Alfa sedang sakit. Namun karena sahabatnya itu sudah menyempatkan diri untuk datang berkunjung, jadi tidak mungkin lagi kan Seruni menutupinya?


Serempak ketiga sahabatnya itu membulatkan bibirnya. "Oooooo....." Hanya Faya saja yang sudah mengetahui keadaan Alfa dari Seruni. Namun Faya memilih diam saja atas permintaan Seruni.


"Apa sudah dibawa ke rumah sakit?" Tanya Ghea.


"Sudah Ghe, empat hari yang lalu. Tapi nggak sampai bermalam di sana. Dokter sudah mengizinkannya pulang karena Alfa sudah kembali sehat. Dan dokter hanya menyarankan untuk mengompres saja."


Mereka kembali membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Berarti tidak ada penyakit serius yang di derita oleh Alfa, pikir mereka.

__ADS_1


"Wajah mu pucat Run." Celetuk Faya hingga mereka memusatkan perhatiannya ke arah Seruni.


"Ah mungkin karena aku kelelahan saja. Akhir-akhir ini kurang tidur karena begadang untuk mengompres Alfa."


"Tetap jaga kesehatan Run. Kalau kamu ikutan sakit kasihan sama tante Amara." Sahut Ghea.


"Iya, terimakasih ya, sudah perhatian sama kami."


"Apa sih, kita kan saudara." Ucap Ega menimpali yang langsung diangguki oleh mereka.


Ke empat sahabat Seruni akhirnya sarapan bersama dengan mama Amara pagi itu. Sedangkan Seruni sarapan di kamar bersama suaminya. Sebenarnya Ega, Faya dan Ghea sudah sarapan. Namun karena tak enak menolak ajakan Mama Amara untuk sarapan bersama, akhirnya mereka ikut bergabung untuk sarapan yang kedua kalinya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2