
Di tempat lain, masih di waktu yang sama....
Mama Amara terbangun dari tidurnya saat merasakan dadanya yang nyeri. Nafasnya juga terasa sedikit sesak. Mama Amara bangkit mencari obatnya yang biasanya ia letakkan di laci nakas samping tempat tidurnya. Dan beruntungnya obat yang selama ini dikonsumsinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan anaknya itu masih ada beberapa butir. Namun saat mama Amara hendak meminum obat itu, gelas di atas nakas yang biasanya berisi air nampak kosong. Rupanya tadi sebelum tidur Mama Amara lupa untuk mengisinya. Ia letakkan kembali wadah obat itu ke atas nakas. Kakinya kemudian melangkah keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
Untuk mengurai rasa sesak di dadanya, mama Amara memilih mengambil air hangat. Mama Amara kembali lagi ke kamar dengan segelas air hangat. Mendekati nakas lalu meletakkan gelas keatasnya dan meraih botol obatnya. Perlahan tangannya memutar botol obat itu. Saat botol obat itu berhasil di buka, Mama Amara dikejutkan dengan suara sebuah ledakan yang sangat keras.
Duuuuuuaaar!!
Botol obat yang ada di tangan Mama Amara terjatuh dan isinya berhamburan. Karena penasaran dengan suara ledakan tersebut, Mama Amara melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ruang tamu dengan tubuh bergetar. Jantungnya yang terasa nyeri sekarang berdebar semakin kencang. Disingkapnya gorden jendela rumahnya. Mata Mama Amara mengedar memperhatikan keadaan di luar rumahnya yang nampak gelap dan tidak ada apapun. Hanya lampu di teras rumahnya yang menjadi penerang dan tidak mampu menjangkau jarak yang jauh.
"Aneh, suara apa tadi? Apa suara ban mobil meledak?" Mama Amara bertanya-tanya sendiri. Karena tidak menemukan apapun yang mencurigakan, Mama Amara memilih masuk kembali ke dalam kamarnya dengan tubuh yang masih gemetaran. Bermaksud untuk memunguti obatnya yang tadi berhamburan lalu segera meminumnya karena tadi belum sempat meminumnya.
Mama Amara menutup pintu kamarnya kembali. Namun saat tubuhnya berbalik, ia di buat terkejut dengan kehadiran makhluk mengerikan yang berdiri di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Aaaaaaa!" Jerit mama Amara sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Tubuh mama Amara meluruh ke lantai. Padahal belum sempat makhluk itu menyentuhnya.
"Aaaaargh!" Makhluk mengerikan itu ikut berteriak karena kesal. Belum sempat dirinya bermain-main dengan targetnya, tapi targetnya itu sudah pingsan duluan. Makhluk itu pun memilih menunggu hingga targetnya itu tersadar. Makhluk mengerikan itu berubah lagi menjadi bola api.
Tak berselang lama Mama Amara sudah sadarkan diri. Pandangannya mengedar dengan penuh ketakutan. Tepat saat pandangannya mengarah ke arah jendela, dirinya kembali di buat terkejut saat melihat sebuah bola api yang nampak berkobar. Suara Mama Amara tercekat di tenggorokan. Mama Amara beringsut perlahan mendekati nakas untuk mengambil ponselnya guna menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan. Namun belum sempat tubuhnya mendekati nakas, bola api itu sudah bergerak terlebih dahulu.
Bola api itu melesat ke arah mama Amara kemudian menghilang bersamaan dengan jeritan mama Amara yang terdengar memekakkan telinga, andai saja ada orang disekitarnya.
"Aaaarrrrgh!" Mama Amara m3r3m@$-r3m@$ perutnya yang terasa sakit luar biasa. Dadanya yang nyeri terasa semakin nyeri. Nafasnya yang tadi terasa sesak juga semakin sesak, seolah-olah tidak ada lagi udara yang masuk ke dalam rongga paru-parunya. "Aaaarrrrgh!" Jerit mama Amara lagi. "R-Run," Lirih mama Amara. Mama Amara menggulingkan tubuhnya kesana kemari di atas lantai kamarnya. Rasa sakit yang teramat sangat di perutnya layaknya di tusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuh mama Amara. Nafasnya kian berat dan suaranya semakin tercekat. Bahkan untuk menyebut satu-satunya nama yang ada di dalam ingatannya saat ini saja mama Amara terlihat kepayahan.
__ADS_1
Mama Amara sudah tidak kuat lagi. Mama Amara berfikir mungkin inilah saatnya ia harus pergi. Pergi meninggalkan anaknya serta calon cucunya yang entah bagaimana nasib keduanya tanpa dirinya disisinya. Sebenarnya Mama Amara ingin mencoba bertahan demi anak dan cucunya. Namun apalah daya, sekuat apa pun ia bertahan, dirinya tetap kalah dengan takdir yang saat ini sedang bekerja. Dan akhirnya malam itu juga mama Amara menghembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil menyebut nama anaknya.
"Se-ru-ni a-nak-ku," Lirih mama Amara terbata dan akhirnya pergi untuk selamanya meninggalkan dunia yang kejam bagi dirinya dan juga anaknya. Bukan ketenangan yang dibawanya, akan tetapi ketakutan. Ketakutan akan nasib anak dan cucunya setelah kepergiannya karena meninggalkan mereka sendirian di dunia yang tidak pernah memihak kepada keduanya dan juga dunia yang tak pernah memberikannya kebahagiaan.
*****
*****
*****
Hay Zeyeng, untuk seminggu ke depan mungkin emak agak slow update ya, atau bahkan nggak sempat update 🤭 Emak mau mudik dulu gaess wkwkwk ✌️🤣🤣
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1