
Brakk!
Seorang laki-laki muda kisaran umur 27 tahun keluar dari dalam mobil kemudian melangkah menghampiri seorang wanita paruh baya yang sudah menyambutnya di teras minimarket.
Bu Risma tersenyum ramah menyambut kedatangan tamunya itu.
"Selamat pagi Bu, apa benar dengan Bu Risma?" Sapa laki-laki itu.
"Iya saya sendiri." Kedua orang beda usia itu pun saling berjabat tangan. "Ayo nak Reksa kita langsung ke belakang saja." Bu Risma melangkah terlebih dahulu lewat samping minimarket menuju ke belakang diikuti oleh Reksa.
Ya, laki-laki itu adalah Reksa. Karena nama bapaknya yang sudah tersohor di tanah air, ia pun jadi ikut dikenal oleh banyak orang. Reksa yang bertugas melayani klien bapaknya yang meminta untuk datang ke rumah. Sedangkan Mbah Suro tetap stay di rumah melayani pasien yang datang ke kliniknya.
Ini adalah tugas pertama dari bapaknya setelah Reksa menjalani tirakat selama 44 hari. Ya, sesuai janji Mbah Suro dulu, Mbah Suro akan mewariskan semua ilmu yang dimilikinya kepada anak semata wayangnya saat usia anaknya itu sudah menginjak 27 tahun.
"Nak Reksa tadi berangkat jam berapa kok sudah tiba?" Seraya berjalan menuju ke rumah, Bu Risma memulai obrolan.
"Panggil Reksa saja Bu." Sahut Reksa. "Tadi habis subuh saya langsung berangkat.
Bu Risma sejenak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul 9 pagi. "Kok cepet?"
"Alhamdulillah jalanan lancar karena masih sepi. Dan ini juga weekend, mungkin orang-orang yang biasanya berangkat pagi untuk bekerja masih belum beranjak dari peraduannya."
"Oh iya, pasti mereka sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur." Sahut Bu Risma terkekeh. Bu Risma jelas paham. Dulu almarhum anaknya juga begitu. Setiap weekend selalu saja malas bangun pagi. Dan baru keluar kamar saat jam makan siang.
Ceklek!
Hawa panas langsung menampar kulit permukaan Reksa saat pintu rumah itu berhasil dibuka oleh pemiliknya.
"Astaghfirullah." Lirih Reksa seraya memejamkan matanya.
"Ada apa Rek?" Tanya Bu Risma keheranan. Meskipun suara Reksa lirih namun masih bisa tertangkap oleh Indera pendengarannya.
Reksa langsung membuka matanya. "Mari kita masuk saja dulu Bu, nanti biar saya lihat ada apa sebenarnya."
__ADS_1
"Oh iya, mari masuk." Bu Risma membuka pintu rumahnya lebar-lebar. "Silahkan duduk dulu." Bu Risma mempersilahkan Reksa untuk duduk terlebih dahulu. Reksa pun mengangguk kemudian segera mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Mbak Yanti!" Seru Bu Risma dari ruang tamu.
"Ya Bu!" Sahut mbak Yanti. "Sebentar ya pak." Mbak Yanti beranjak dari duduknya. Mbak Yanti yang saat itu sedang menemani pak Affandi di ruang keluarga segera menghampiri majikan perempuannya. Begitulah keseharian Mbak Yanti jika pekerjaan rumahnya sudah selesai.
"Iya Bu."
"Bapak mana?"
"Lagi nonton TV Bu."
"Owh ya sudah, tolong ambilkan minum buat tamu ibu."
Mbak Yanti mengangguk kemudian segera berlalu. Bu Risma pun ikut berlalu menghampiri suaminya setelah sebelumnya pamit terlebih dahulu kepada tamunya.
"Ada apa Bu?" Tanya pak Affandi saat kursi roda yang didudukinya perlahan di dorong oleh sang istri menuju ke ruang tamu.
"Ibu ada tamu pak."
"Nanti bapak juga akan tahu." Bu Risma melanjutkan langkahnya.
Reksa segera berdiri saat Bu Risma dan suaminya tiba di ruang tamu. "Selamat pagi pak." Reksa mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Pak Affandi.
"Pagi," Balas pak Affandi. "Siapa ya?"
"Saya Reksa pak."
"Owh, silahkan duduk."
Reksa pun kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Saat melihat raut kebingungan di wajah suaminya, Bu Risma segera menjelaskan maksud dan tujuannya mengundang Reksa datang ke rumah.
Ya, semua itu bermula dari internet Bu Risma mengenalnya. Awalnya bukan Reksa melainkan Mbah Suro yang dikenalinya. Karena yang terpampang nyata di internet adalah foto Mbah Suro dan tidak ada foto Reksa. Bu Risma pun segera menghubungi nomor telepon yang tertera disana. Dan ternyata itu bukan nomor telepon Mbah Suro melainkan nomor telepon Reksa yang tak lain adalah anak Mbah Suro. Bu Risma berniat meminta bantuan kepada Mbah Suro. Namun karena Mbah Suro tidak bisa meninggalkan kliniknya, akhirnya Reksa lah yang datang memenuhi undangannya. Bu Risma sendiri juga sudah menceritakan kepada Reksa lewat sambungan telepon tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya.
__ADS_1
"Sudah berapa lama bapak sakit Bu?" Tanya Reksa mengawali obrolannya.
"Sekitar 2 tahun ini." Jawab Bu Risma. Reksa terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Boleh saya berkeliling rumah Bu?" Ucap Reksa meminta izin.
"Iya silahkan." Sahut Bu Risma cepat.
Reksa segera beranjak dari duduknya setelah menyesap minuman yang telah disuguhkan untuknya guna menghargai sang pemilik rumah.
"Mbak Yanti titip bapak sebentar ya, biar ibu temani Reksa dulu."
"Iya Bu."
Bu Risma pun segera beranjak dari duduknya kemudian melangkah menemani Reksa berkeliling rumahnya.
Tempat pertama yang dituju oleh Reksa adalah ruang keluarga. Namun dalam pandangannya dia tidak menemukan keganjilan di sana. Langkah Reksa kembali terayun menuju ke dapur. Dia juga tidak menemukan sesuatu yang aneh di sana. Bahkan Reksa juga membuka pintu kamar mandi yang ada di dapur.
"Boleh tolong tunjukkan kamar yang ada di rumah ini Bu?"
"Iya ayo ikuti ibu." Reksa pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Bu Risma.
Pertama-tama adalah kamar tamu yang saat ini ditempati oleh Seruni dan anaknya. Awalnya Bu Risma meminta Seruni menempati kamar almarhum anaknya. Namun Seruni menolak dan memilih menempati kamar tamu. Seruni tidak ingin menjamah barang-barang pribadi milik almarhum. Bu Risma pun tidak ingin memaksa Seruni dan membiarkan Seruni menentukan pilihannya.
Reksa melangkah memasuki kamar tersebut kemudian mengedarkan pandangannya mengelilingi seluruh penjuru ruangan.
Degh!
Reksa tersentak, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat pandangannya tertuju pada sebuah figura yang ada di atas nakas. Ada foto seorang balita yang dipangku oleh seorang wanita cantik yang selama ini dirindukannya.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca terimakasih 🙏