SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS DUA BELAS


__ADS_3

Tak terasa hari demi hari berganti. Saat ini Seruni dan Faya sudah duduk di semester tiga. Dan Kevin pun sudah lulus dari universitas tersebut. Namun dia sesekali masih menyempatkan diri untuk mengantar jemput Seruni sesuai janjinya dulu yang akan menjaga Seruni dan kandungannya.


Hari ini Kevin sudah memberitahukan kepada Seruni bahwa dirinya tidak bisa mengantarkannya. Sudah pasti hari ini dia sangat sibuk. Jadi Seruni memutuskan untuk berangkat sendiri dengan menggunakan mobil bututnya. Namun niatnya itu harus ia urungkan saat melihat ban mobilnya yang nampak kempes.


"Ah sial!" Umpat Seruni seraya menendang pelan ban mobilnya. Seruni pun segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Faya. Ia berniat meminta jemput kepada sahabatnya itu. Namun saat sambungan telepon terhubung, ia harus kembali mengumpat dalam hati karena Faya ternyata juga sedang kurang enak badan. Jadi Faya tidak masuk kuliah hari ini.


Karena waktu yang sudah mepet, akhirnya Seruni memutuskan untuk naik ojek yang kebetulan melintas di depan rumahnya. Seruni berjanji akan mengunjungi Faya sepulang kuliah nanti.


Meskipun sudah tidak ada Kevin lagi di sana, namun orang-orang tetap tidak berani mengusiknya lagi. Seruni mengikuti mata kuliahnya dengan bersemangat. Tidak ada mual muntah seperti yang biasanya dialami oleh ibu hamil pada umumnya.


Kandungan Seruni saat ini sudah menginjak usia tujuh Minggu. Perutnya pun sudah terlihat sedikit menonjol. Itu pun hanya kelihatan saat dirinya berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi dalam keadaan polos. Dan pada saat itulah ia akan teringat dengan almarhum suaminya ketika tangannya mengelus-elus perutnya.


Sepulang kuliah Seruni menunggu angkot ataupun taksi di halte yang ada di depan kampusnya. Namun jangankan taksi atau angkot, ojek saja tidak ada satupun yang lewat. Padahal dirinya sudah duduk di sana hampir setengah jam.


Tin.. Tin..


Bunyi klakson mobil membuatnya mengalihkan perhatiannya dari benda pipih yang ada di genggamannya. Seruni jelas mengenali mobil siapa yang berhenti di dekatnya. Tak lama kemudian kaca mobil itu diturunkan dan nampak lah wajah papa mertuanya.


"Masuk!" Ujar papa Zaky sedikit keras.

__ADS_1


Seruni nampak pias. Namun tak urung dirinya tetap masuk ke dalam mobil tersebut. Tidak mungkin kan dirinya menolak perintah papa mertuanya itu? Siapa tau saja ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh papa Zaky.


Setelah menantunya itu masuk ke dalam mobil dan mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi, papa Zaky langsung melesatkan mobilnya kembali.


Seruni tidak tau ke mana Papa mertuanya itu akan membawa dirinya. Karena semenjak dirinya masuk ke dalam mobil, Papa mertuanya itu sama sekali belum membuka suaranya. Seruni merasa sedikit cemas. Ada rasa takut juga. Takut jika Papa mertuanya itu akan melakukan hal-hal yang membuat dirinya serta janin yang ada di dalam kandungannya celaka. Mengingat jika selama ini papa mertuanya itu sangat membencinya atas kematian suaminya. Makanya selama ini Seruni berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Papa Zaky. Ia pun meminta kepada Kevin agar tidak memberitahukan kehamilannya. Meskipun Seruni tahu Kevin tidak akan melakukan itu. Mengingat hubungan antara Kevin dan papanya tidak sedekat itu.


Papa Zaky menghentikan mobilnya di bahu jalan yang nampak sepi. Seruni pun semakin merasa ketakutan. Namun dirinya masih belum berani membuka suaranya.


"Kamu tau kenapa aku menemui mu?" Akhirnya papa Zaky membuka suaranya.


"Ti-tidak, apa ada sesuatu yang penting Pa?" Seruni memberanikan diri menatap ke arah papa Zaky.


Gluk!


Seruni susah payah menelan salivanya saat melihat tatapan tajam Papa Zaki yang tertuju kepadanya. "Ke-kenapa?"


"Aku tidak ingin anak ku kamu jadikan tumbal berikutnya."


Degh!

__ADS_1


"Setelah kamu berhasil menjerat Alfa dan menjadikannya tumbal, sekarang kamu mulai mendekati Kevin. Apa kamu juga berniat menjadikannya sebagai tumbal mu?"


Degh!


Sakit! Itulah yang dirasakan Seruni saat ini. Sungguh tega. Papa mertua yang selama ini dihormatinya menuduhnya dengan tuduhan sekeji itu. Apa tidak cukup penjelasan yang diberikan oleh Mbah Suro dulu? Apa mertuanya itu tidak bisa memahami ucapan Mbah Suro?


Ya, akhir-akhir ini papa Zaky sering membuntuti anaknya. Dan betapa terkejutnya dirinya saat mendapati kenyataan bahwa selama ini anaknya itu ternyata dekat dengan mantan menantunya. Karena takut kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya, papa Zaky pun akhirnya memperingatkan Seruni untuk menjauhi anaknya. Ia tidak ingin anaknya itu menjadi korban Seruni selanjutnya dan menjadikannya hidup sebatang kara tanpa anak dan istri di sampingnya.


Dengan tanpa perasaan Papa Zaky menurunkan Seruni di pinggir jalan yang nampak sepi itu. Kemudian ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan Seruni yang terlihat meneteskan air matanya. Sungguh dosa apa yang sudah diperbuatnya hingga papa mertuanya itu begitu membenci dirinya.


Beruntung tak berselang lama ada ojek yang melintas. Seruni segera meminta kepada tukang ojek itu untuk mengantarkannya ke rumah Faya. Dia butuh Faya untuk menumpahkan segala sesak yang bersarang di dadanya. Rasa-rasanya ia tak sanggup menanggung beban berat dalam hidupnya. Seruni butuh orang sekedar untuk bersandar. Dan orang itu adalah Faya, sahabat yang selama ini selalu menguatkannya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2