
Kembali ke masa sekarang!
Entah siapa yang memulainya, saat ini Seruni sudah terisak-isak di dalam pelukan Reksa. Mungkin Reksa yang terenyuh dengan kisah hidup yang dijalani oleh Seruni hingga ia mencoba memberikan kekuatan lewat sebuah pelukan.
"Sudah Run, kita tunggu bapak besok ya." Reksa mengusap pelan punggung Seruni. "Siapa tahu bapak punya solusi untuk masalah kamu ini. Ilmu ku belum sedalam itu untuk membebaskan mu dari belenggu itu." Seruni mengangguk dalam pelukan Reksa.
Setelah menceritakan kisah hidupnya kepada Reksa tanpa terlewat sedikitpun, Seruni merasa sedikit plong. Entah mengapa ia merasa nyaman dengan Reksa yang notabenya adalah orang yang baru saja dikenal olehnya.
"Apa aku salah jika menutupi semua ini dari mama? Aku tidak ingin mama ku menanggung malu atas kelakuan anaknya." Lirih Seruni dengan suara sengaunya karena hidungnya tersumbat akibat kelamaan menangis.
"Tidak, kamu sudah melakukan yang terbaik."
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau suatu saat nanti Mama tahu?" Seruni mulai ketakutan membayangkan kelakuannya akan di ketahui oleh mamanya.
"Kamu hanya perlu menjelaskan pelan-pelan kepada mama mu tentang kejadian sebenarnya yang menimpa dirimu."
"Aku takut mama syok dan berdampak pada kesehatannya." Mama Amara memang terlihat baik-baik saja dari luar. Namun Seruni tau, setelah kepergian papanya dua tahun yang lalu, mamanya itu sering menangis diam-diam di dalam kamarnya.
"Berdoa saja, semoga diberikan jalan yang terbaik."
Seruni mengangguk kemudian mengurai pelukannya. Disekanya sisa-sisa air matanya yang membasahi pipi. "Terimakasih sudah mau mendengarkan ku. Pasti mas Reksa sekarang jijik kan dengan ku?" Seruni menggeser posisi duduknya, memberi jarak antara dirinya dan Reksa.
Malam semakin larut, mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah setelah berhasil menenangkan diri mereka masing-masing. Seruni yang lebih tenang setelah menceritakan kehidupan yang dilaluinya kepada Reksa, dan Reksa yang mencoba menenangkan deguban di dadanya yang menguat saat berada di dekat Seruni.
__ADS_1
"Istirahatlah, besok kita sama-sama temui bapak." Reksa mengusap kepala Seruni saat tiba di depan pintu kamar yang ditempati oleh Seruni dan Faya. Seruni mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar. Sedangkan Reksa sekali lagi memeriksa pintu dan juga jendela rumahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya masuk ke belakang di mana kamarnya berada.
Faya masih terlihat lelap dengan posisi semula saat Seruni meninggalkan kamar. Seruni menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu yang tidurnya seperti kebo, sampai dia tak merasakan pergerakan di atas tempat tidur.
Seruni ikut membaringkan tubuhnya di samping Faya. Ditatapnya langit-langit kamar itu, tiba-tiba saja bayangan Reksa dengan senyum teduhnya nampak di pelupuk mata. "Astaga!" Seruni meraup wajahnya kasar guna mengusir bayangan tersebut. "Sepertinya aku sudah gila." Rutuknya pada diri sendiri. "Apa jangan-jangan aku kena pelet mas Reksa?" Terka Seruni. "Tidak, tidak! Mas Reksa tidak mungkin menggunakan kekuatannya untuk menjerat ku. Memangnya siapa aku sampe mas Reksa melakukan itu kepada ku? Aku hanya wanita kotor yang tak pantas untuk dicintai. Mas Reksa bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik. Jadi tidak mungkin Mas Reksa melakukan itu." Seruni segera menghapus pikiran kotor yang tadi sempat terlintas di kepalanya.
Seruni mencoba memejamkan matanya agar ia bisa secepatnya terlelap. Namun hingga beberapa saat kemudian ia masih tak kunjung bisa terlelap. Seruni meraih ponselnya, ia memutuskan untuk membaca novel yang bergenre horor kesukaannya. Tak berselang lama mata Seruni sudah terasa perih dan akhirnya ia pun tertidur dalam keadaan ponsel yang masih menyala. Dan ponsel yang ada di dalam genggamannya pun terjatuh di atas tubuhnya.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏