SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS DELAPAN


__ADS_3

Terhitung dua Minggu sudah Seruni tidak masuk kuliah sejak suaminya sakit. Dan hari ini ia sudah siap kembali berangkat menimba ilmu. Seruni sudah merasa sehat meskipun akhir-akhir ini dirinya sering merasa pusing.


Dengan senyum merekah Seruni menyambut kedatangan Faya di teras rumahnya. Hari ini ia memilih berangkat bersama sahabatnya itu.


Tin.. Tin..


Mobil Faya memasuki halaman rumah Seruni. Faya pun ikut melebarkan senyumnya saat turun dari mobil melihat sahabatnya itu tersenyum lebar. Faya melangkah menghampiri Seruni.


"Sudah siap tempur kembali?"


"Siap donk!" Sahut Seruni.


"Eh, tunggu dulu." Faya memperhatikan raut wajah Seruni yang terlihat sedikit pucat. "Kamu beneran dah sehat Run?"


Seruni mengangguk. "Kenapa?" Tanya Seruni keheranan ditatap seintens itu oleh Faya.


"Wajah mu kelihatan pucat." Sekali lagi Faya memperhatikan wajah Seruni.


"Mungkin karena aku nggak pake makeup kali Fa. Entah kenapa akhir-akhir ini aku nggak suka sama yang namanya bedak. Makeup apalagi, iyuh!" Seruni bergidik ngeri seolah makeup adalah barang mengerikan atau menjijikkan.


"Aneh! Ya udah ayo!"


"Sebentar," Seruni menghampiri pintu rumahnya. "Ma!" Seru Seruni diambang pintu. "Faya dah datang, Runi berangkat ya?"


"Ya! Hati-hati!" Mama Amara ikut berseru dari dalam. "Jangan lupa tutup pintunya."

__ADS_1


Seruni langsung menutup pintu rumahnya kemudian menyusul Faya masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil Faya melaju meninggalkan halaman rumah Seruni.


Seruni dan Faya tiba di kampus pukul delapan kurang lima belas menit lagi. Kelas mereka akan dimulai pukul delapan pagi ini. Jadi masih tersisa waktu lima belas menit untuk mereka merapikan dandanan layaknya gadis lain pada umumnya sebelum mereka keluar dari mobil.


Tepat saat keduanya turun dari mobil, ekor mata Seruni tak sengaja melihat Kevin yang lewat di dekatnya. Ya, Kevin baru saja memakirkan motornya dan bersiap menuju kelas.


"Kak!" Seru Seruni memanggil kakak dari almarhum suaminya. Namun karena Kevin tak tau jika panggilan itu ditujukan kepada dirinya, Kevin terus saja melangkah. "Kak Kevin!" Panggil Seruni lagi. Dan kali ini sukses membuat langkah Kevin terhenti. Namun Kevin hanya menoleh sekilas sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.


Seruni nampak kecewa. Harusnya jika Kevin marah dengan almarhum suaminya dan juga papa mertuanya, dirinya tidak perlu diikut-ikutkan seperti ini. Apa Kevin juga membenci dirinya?


"Run," Faya menepuk pundak sahabatnya membuat Seruni tersadar dari lamunannya. "Kenapa?" Seruni menggeleng. "Apa dia masih marah sama kamu?" Lagi-lagi Seruni menggeleng. "Ya udah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, bentar lagi kelas dimulai."


Seruni dan Faya melangkah beriringan masuk ke dalam kelas. Tak berselang lama dosen pengajar pun memasuki ruang kelas.


Seperti biasa saat jam istirahat tiba, para mahasiswa dan mahasiswi berbondong-bondong menuju ke kantin untuk mengisi perutnya atau sekedar membeli minuman untuk membasahi tenggorokannya. Begitu pula dengan Seruni dan Faya. Entah mengapa Seruni rasanya pengen banget makan siomay siang ini. Padahal sebenarnya ia belum merasa lapar.


"Tumben Run banyak parenya? Biasanya kan kamu anti sama yang namanya pare." Faya bergidik membayangkan saat pare itu menyentuh lidahnya. Sudah pasti pahit! Huek Faya tak suka itu.


"Nggak tahu, pengen aja nyobain." Jawab Seruni santai lalu segera melahapnya dengan rakus. Faya benar-benar dibuat speechless dengan kelakuan aneh Seruni hari ini. Pasalnya Seruni sama seperti dirinya yang sama-sama tidak doyan Pare. "Makan Fa, jangan melototin aku aja."


Faya menelan salivanya berulang kali. Meskipun dia tidak memakan pare itu, tapi seolah-olah lidahnya ikut merasakan pahitnya Pare. Faya kemudian fokus dengan makanannya sendiri yang hampir saja dingin karena dirinya tadi lebih fokus ke makanan sahabatnya daripada ke makanannya sendiri.


Seruni dan Faya sudah menyelesaikan makannya. Mereka bersiap pulang karena kelas telah usai. Seruni meraih tasnya kemudian beranjak dari duduknya. Namun kepalanya tiba-tiba pusing dan pandangannya mengabur. Seruni berpegang pada ujung meja untuk menopang tubuhnya. Dipejamkannya matanya seraya digoyang-goyangkan kepalanya untuk mengurai rasa pusing.


"Run, hey, kamu baik-baik saja?" Faya ikut beranjak.

__ADS_1


"Nggak papa." Seruni membuka matanya. "Cuma sedikit pusing aja."


"Bisa jalan sendiri?" Faya nampak khawatir.


"Iya, ayo!"


Belum sempat kaki itu melangkah, tubuh Seruni sudah ambruk ke lantai kantin hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana.


Bruugh!!


"Run!" Seru Faya menghampiri sahabatnya.


Kevin yang ada di antara orang-orang yang ada di sana langsung melesat menghampiri Seruni. Tanpa berucap sepatah kata pun, Kevin langsung membopong tubuh Seruni dan membawanya menuju ke unit kesehatan kampus diikuti oleh Faya yang berlari di belakangnya.


Sinta yang kebetulan ada di sana hanya bisa melongo melihat betapa perhatiannya Kevin kepada Seruni. Begitu pula dengan yang lainnya. Mereka malah mengira kalau Seruni dan Kevin adalah sepasang kekasih yang hubungan mereka disembunyikan karena mereka tidak pernah melihat interaksi kedekatan keduanya.


Sinta diam-diam meninggalkan kantin dan ikut membuntuti Kevin dan Faya yang menuju ke unit kesehatan kampus. Jiwa keponya benar-benar berkobar ingin segera mendapatkan jawaban atas apa yang dilihatnya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2