
Pagi ini raut wajah Alfa nampak sumringah. Berbeda dengan Seruni yang nampak lesu seperti tidak ada semangat untuk menjalani harinya. Mereka berdua keluar dari kamar bersama menuju ke ruang makan di mana mama Amara sudah duduk menunggu mereka di sana.
"Pagi ma," Sapa Seruni seraya menarik kursi. Begitu pula dengan Alfa yang juga menarik kursi yang ada di samping istrinya.
"Pagi," Balas mama Amara seraya mengernyit keheranan melihat wajah anaknya yang nampak lesu. Namun itu tidak berlangsung lama saat tak sengaja ekor matanya melihat tanda kemerahan di leher anaknya. Dan juga tadi Mama Amara sempat memperhatikan anaknya saat berjalan ke ruang makan tidak seperti biasanya. Mama Amara pun mulai paham dengan keadaan anaknya saat ini. Mama Amara lalu mengulum senyumnya.
"Ayo kita mulai sarapan saja. Bukankah kalian akan segera berangkat kuliah?" Mama Amara segera menyendok nasi kemudian menaruhnya di piringnya sendiri. Setelah itu giliran Seruni yang mengambilkannya untuk suaminya, baru kemudian mengisi piringnya sendiri.
"Aku mau libur dulu aja ma, kurang enak badan." Ucap Seruni seraya menaruh lauk di atas piring suaminya. "Biar Alfa saja yang berangkat kuliah hari ini." Lanjut Seruni.
"Kamu sakit Run?" Tanya mama Amara menatap ke arah anaknya yang menggeleng.
"Hanya kecapean saja ma." Sahut Seruni.
"Owh, ya sudah istirahat saja di rumah." Mama Amara kembali mengulas senyum.
Ya, Seruni memang tadi sudah mengatakan kepada suaminya kalau dirinya memilih untuk tidak pergi ke kampus. Seruni merasa kelelahan. Tubuhnya terasa sakit semua. Apalagi bagian bawah tubuhnya yang masih terasa perih dan tidak nyaman jika dibuat berjalan. Alfa pun memakluminya. Alfa sendiri tidak tega dan ikut meringis saat istrinya meringis. Seolah merasakan kesakitan istrinya.
__ADS_1
"Aku berangkat ya?" Pamit Alfa kepada istrinya. "Awas jangan kangen" Goda Alfa seraya mengerlingkan matanya.
"Ish, berangkat sana." Seruni mendorong pelan tubuh suaminya agar segera berangkat kuliah.
"Salim dulu." Alfa mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh istrinya. Seruni mencium tangan suaminya dengan takzim. Membuat Alfa senang karena merasa dihargai. Alfa pun membalas dengan mengecup dahi istrinya dalam.
Seruni mengantarkan kepergian suaminya di teras rumah. Setelah suaminya itu melesatkan motornya dan menghilang dari pandangannya, Seruni baru masuk ke dalam rumah. Seruni melangkah ingin masuk kembali ke dalam kamarnya. Namun suara mama Amara yang memanggil dirinya membuatnya urung. Seruni pun melangkah menghampiri mamanya yang duduk di sofa depan televisi.
Seruni mendudukkan tubuhnya tepat di samping mama Amara. Seruni merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Mamanya itu. Dan benar saja, Mamanya itu langsung berbicara ke pokok intinya tanpa ada kata basa-basi terlebih dahulu.
Degh!
Seruni tersentak. Momongan? Anak? Bahkan dirinya tidak pernah memikirkan itu. Bukannya tidak memikirkan, tapi memang belum memikirkan itu. "Run-Runi tidak tau ma."
"Loh kok tidak tau? Apa kamu sekarang ikut KB?" Pertanyaan mama Amara langsung dijawab gelengan kepala oleh Seruni. "Berarti kalian ingin segera memiliki momongan?"
"Runi nggak tau." Seruni kembali menggeleng.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak ikut KB, itu tandanya kalian ingin segera memiliki momongan. Bukannya kalian sudah membahas ini sebelum memutuskan untuk tidak memasang KB?"
Lagi-lagi Seruni menggeleng. "Kami belum membahas masalah tentang anak." Seruni memang tidak terpikirkan akan hal ini. Tunggu dulu, berbicara tentang anak, bukankah selama ini dirinya sering tidur dengan seorang laki-laki? Lalu kenapa dirinya tidak hamil? Padahal dirinya juga tidak memasang KB. Kenapa? Seruni bertanya-tanya dalam hatinya. Seruni mulai merasa ketakutan. Apa jangan-jangan dirinya tidak bisa memiliki anak, alias mandul? Tidak! Seruni menjerit dalam hatinya. Ia tidak ingin seperti wanita-wanita yang ada di dalam novel. Jika tidak bisa memberikan keturunan, suaminya pasti akan meninggalkannya dan mencari wanita lain demi untuk mendapatkan keturunan. Tanpa sadar Seruni menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Mama Amara keheranan.
"Hey, kamu kenapa?" Mama Amara menyentuh tangan anaknya hingga membuat kesadaran Seruni kembali.
"Ti-tidak ma, nanti aku akan bicarakan masalah ini dengan Alfa." Seruni berusaha menerbitkan senyumnya. Mencoba membuang segala prasangka pada dirinya sendiri. Namun sayangnya rasa ketakutannya jauh lebih besar.
"Iya, memang sebaiknya seperti itu. Kamu sekarang sudah memiliki suami. Jadi apa pun itu harus dirundingkan bersama. Jangan mengambil keputusan sendiri." Nasehat mama Amara. Seruni mengangguk. "Sudah istirahat sana." Seruni menurut. Ia segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam kamar dengan pikiran kosong.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1