SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEMBILAN PULUH LIMA


__ADS_3

Setelah sarapan, Alfa dan Seruni keluar dari kamar mereka. Alfa sudah nampak segar, sepertinya ia baru saja mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih sedikit basah. Alfa memang hanya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dan tidak pernah menggunakan pengering rambut istrinya.


Sahabat-sahabatnya itu juga sudah berpindah ke sofa yang ada di depan televisi setelah menyelesaikan sarapannya. Bahkan Faya dan Ghea tadi juga sempat membantu Mama Amara membereskan meja makan dan juga mencuci piring-piring kotor bekas sarapan mereka. Jangan ditanya siapa yang mencuci piring. Sudah pasti Faya, karena Ghea sama sekali tidak pernah mengerjakan pekerjaan itu. Jadi Ghea memilih membereskan meja makan saja.


"Ada apa kalian pagi-pagi kesini?" Alfa mendudukkan tubuhnya di samping Ega. Sedangkan Seruni mendudukkan tubuhnya di samping Faya.


"Numpang sarapan!" Sahut Ruli singkat.


"Kelakuan mu sejak dulu memang tidak pernah berubah Rul." Ucap Alfa yang langsung diangguki oleh sahabat-sahabatnya. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau di antara mereka hanya Ruli lah yang tidak ada sungkan-sungkannya di manapun mereka berada. Namun semua itu masih tetap dalam batas kewajaran. Jadi mereka sama sekali tidak ambil pusing dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Sudah sehat beneran loe?" Ruli memperhatikan Alfa dari atas hingga ke bawah.


"Memangnya yang bilang gue sakit siapa?"


"Bini loe lah."


"Demam doank nggak usah khawatir."


Mereka asyik ngobrol ngalor ngidul dan sesekali diselingi dengan candaan. Hingga tak terasa hari beranjak siang. Mereka memutuskan untuk pulang karena sudah melihat sahabatnya yang ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Sebenarnya Mama Amara meminta mereka pulang setelah makan siang. Namun mereka menolaknya karena masih merasa kenyang.


Seruni dan Alfa melepas kepergian sahabat-sahabatnya di teras rumahnya. Dan Seruni baru menyadari akan sesuatu.


"Ya ampun Al, berarti hari ini aku ikutan bolos sama mereka?" Seruni menepuk jidatnya sendiri membuat suaminya terkekeh.

__ADS_1


"Nggak papa sekali-kali bolos." Ujar Alfa santai.


"Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Eh!" Seruni langsung membungkam mulutnya. Dan hal itu sukses membuat Alfa tertawa. Alfa tidak berniat untuk menanyakan alasan istrinya yang sering bolos kuliah. Karena dirinya sendiri juga sering melakukan itu.


"Ayo masuk!" Alfa melenggang masuk ke dalam rumah diikuti oleh Seruni yang masih setia membungkam mulutnya.


"Jangan bilang ke mama ya?" Bisik Seruni pelan.


"Beres! Asal imbalannya setimpal." Alfa menaik turunkan alisnya.


"Apa sih ah." Seruni memukul bahu suaminya kemudian meninggalkannya.


*****


Sejak sore Alfa sudah merasa meriang. Tubuhnya anget, kepala pusing, dan sendi-sendinya terasa sakit semua. Jadi sejak sore ia hanya merebahkan tubuhnya saja.


"Al, suhu tubuh mu semakin naik semakin naik saja. Apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja? Aku kabari Papa Zaky ya, biar datang kesini dan bisa bantu bawa kamu ke rumah sakit. Mumpung ini baru jam tujuh."


"Nggak perlu sayang, nanti juga pasti turun demamnya."


"Nggak usah keras kepala deh." Akhirnya Seruni tidak tahan lagi dengan suaminya yang selalu menolak untuk dibawa ke rumah sakit. "Lihat kamu sekarang mulai menggigil."


"Dingin Run." Ujar Alfa seraya merapatkan selimutnya.

__ADS_1


"Apanya yang dingin? Badan kamu itu panas." Seruni heran dengan ucapan suaminya. Pasalnya suhu tubuh suaminya itu tinggi tapi suaminya malah kedinginan. "Sebentar aku ambil air hangat dulu untuk mengompres." Seruni langsung keluar dari kamar setelah mendapat anggukan dari suaminya. Tak lupa ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


"Run," Panggilan mama Amara itu menghentikan langkah Seruni. Saking cemasnya ia sampai tidak memperhatikan keadaan sekitar. Ternyata ada mamanya yang sedang menonton televisi.


"I-iya ma." Seruni memilih menghampiri mamanya terlebih dahulu.


"Ada apa?" Mama Amara melihat kepanikan di raut wajah anaknya.


"Alfa demam lagi ma. Boleh minta tolong teleponkan Papa Zaky agar bisa secepatnya datang ke sini? Alfa ngotot tidak mau dibawa ke rumah sakit. Siapa tau kalau Papa Zaky yang memintanya dia akan menurut."


"Ya sudah sana. Biar Mama yang menghubungi Zaky."


Seruni pun melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil air hangat. Ia harus segera mengompres tubuh suaminya agar panasnya tidak semakin tinggi.


Sedangkan Mama Amara segera mematikan televisi kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi besannya. Mama Amara pun meminta papa Zaky agar segera datang. Tak lupa mama Amara juga menceritakan semua yang dialami oleh Alfa akhir-akhir ini.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2