SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
ENAM PULUH LIMA


__ADS_3

Malam ini Reksa benar-benar tidak bisa memejamkan matanya hingga subuh menjelang. Apa lagi penyebabnya kalau bukan satu nama yang membuatnya khawatir, yaitu Seruni. Siapa yang tidak khawatir, semalam penuh hujan mengguyur bumi. Dan mereka meninggalkan kediamannya dalam keadaan hujan lebat.


Sudah sampai kah mereka di rumah? Reksa sudah berulang kali menghubungi nomor Seruni namun tidak aktif. Ingin menghubungi Faya untuk menanyakan apakah Seruni sudah tiba atau belum, namun sayangnya ia tidak memiliki nomor Faya. Reksa juga sudah mencoba menggunakan mata batinnya untuk melacak keberadaan Seruni. Namun semua itu nihil karena seperti ada kabut yang menutupinya.


Reksa yakin telah terjadi sesuatu dengan Seruni. Namun ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya langsung kepada bapaknya. Takut kalau bapaknya itu mengetahui isi hatinya yang selama ini coba ditutupinya serapat mungkin. Selama ini Reksa mencoba bersikap biasa saja di hadapan bapaknya saat bersama Seruni.


"Huuuft, apa kamu baik-baik saja Run?" Gumam Reksa pelan. Ia bangkit melangkah mendekati jendela kamarnya. Disingkapnya gorden jendela tersebut. Di luar masih nampak gelap gulita, namun hujan sudah mulai reda. Hanya menyisakan gerimis saja yang masih enggan berhenti.


*****


"Euuuugh!" Lenguh Seruni mengeliat kemudian perlahan membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Alfa tertidur lelap di sampingnya. Hampir saja Seruni menjerit, namun ia segera membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak sampai membangunkan Alfa.


Air matanya tiba-tiba saja menetes. Apalagi saat menyadari bahwa tubuhnya dan juga tubuh Alfa saat ini polos tanpa sehelai benang pun. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. Apa yang sudah ku lakukan? Kenapa selalu saja begini?" Kali ini Seruni tidak ingin menyalahkan Alfa. Ia sadar, di sini dirinya juga memiliki andil yang sangat besar atas kejadian malam ini. "Sampai kapan seperti ini? Hiks.. hiks.." Seruni merasakan tubuhnya yang remuk redam. Namun anehnya, ia sama sekali tidak merasakan apapun di area miliknya.


Seruni segera turun dari atas tempat tidur kemudian memunguti pakaiannya. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena sang fajar mungkin sebentar lagi akan menampakkan sinarnya.


Seruni langsung membangunkan Alfa yang masih terlelap. Sepertinya tidur Alfa nyenyak sekali malam ini. Mungkin karena semalam sudah mendapatkan vitamin dari Seruni. Alfa terbangun dalam keadaan tubuh yang sangat bugar. Senyum langsung terukir di bibirnya. Alfa bangkit kemudian mengecup dahi Seruni sekilas. "Cup! Selamat pagi sayang." Alfa kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Seruni nampak enggan membalas sapaan pagi Alfa. Ia segera merapikan barang-barangnya agar saat Alfa selesai membersihkan diri, mereka bisa langsung meninggalkan penginapan tersebut. Namun sayangnya semua itu tidak seperti dengan apa yang ia inginkan.


"Pagi Mas, mbak." Sapa pemilik Rumah makan sekaligus penginapan itu. "Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?"


Alfa dan Seruni hanya mengangguk seraya mengulas senyum, kemudian mereka mencari tempat duduk. Salah satu pelayan rumah makan itu pun segera menghampiri meja mereka.


Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka sudah meninggalkan Rumah makan tersebut. Alfa dan Seruni melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang ke kotanya.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang Seruni hanya diam saja merenung. Membuat Alfa nampak keheranan. Namun begitu Seruni tetap menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari Alfa meski terasa enggan.


Dalam hati Seruni tak henti-hentinya menyalahkan serta merutuki dirinya sendiri. Benar-benar julukan j@1@n9 sejati memang pantas ia sandang. Karena dengan mudahnya ia melempar dirinya sendiri kepada laki-laki.


Ah, namun rasanya percuma saja ia merutuki dirinya sendiri. Dirinya saja tidak menyadarinya. Lalu apa yang bisa ia lakukan selain pasrah menerima keadaan? Tidak ada bukan? Selama dirinya masih terikat belenggu itu, maka jangan harap bisa lari atau menghindarinya. Jadi terima saja nasib mu Seruni! Seruni terkekeh sendiri menertawakan nasibnya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2