
"Apa tidak bisa menunggu hingga kamu lulus kuliah dulu?" Tanya Faya setelah Seruni menyelesaikan ceritanya.
"Tidak! Mbah Suro hanya memberi waktu tiga bulan, lebih tepatnya sebelum malam Satu Suro kami harus sudah menikah."
"Memangnya ada apa dengan malam satu suro?" Faya nampak penasaran.
Seruni menggeleng. "Aku juga tidak tahu."
"Memangnya kamu nggak tanya sama Mbah Suro?"
"Aku tidak berani banyak bertanya Fa, Mbah Suro meminta ku untuk tidak membantah setiap ucapannya jika aku menginginkan kebebasan."
"Huuuft, ya sudah. Sekarang kamu tunggu saja Alfa datang bersama papanya untuk melamar mu." Seruni pun mengangguk. "Toh Alfa juga tidak menolaknya kan?" Seruni menggeleng. "Aku lihat sepertinya Alfa sangat mencintai mu Run."
"Ya, dia sudah mengatakan itu berulang kali." Sahut Seruni. "Namun aku yang tidak bisa mencintainya Fa."
"Kenapa?" Seruni hanya diam saja karena tidak bisa menjawab pertanyaan Faya. "Apa karena mas Reksa?" Lanjut Faya.
__ADS_1
Seruni masih terdiam, namun air matanya yang tiba-tiba mengalir seolah-olah mewakili jawaban atas pertanyaan Faya. Faya langsung merangkul sahabatnya itu ke dalam pelukannya. "Sudah ya, mungkin kalian memang tidak ditakdirkan berjodoh." Faya menepuk-nepuk punggung Seruni.
"Apa sesakit ini mencintai Fa?" Lirih Seruni.
"Entah, aku sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta sedalam itu." Faya tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja dirinya memang belum pernah merasakan jatuh cinta seperti sahabatnya itu. Dulu saat dirinya berpacaran dengan Teddy rasanya biasa aja. Hanya sakit hati sesaat saja saat dirinya mengetahui pacarnya tidur dengan sahabatnya sendiri yaitu Seruni. Namun setelah mendengar penjelasan dari Seruni, rasa sakit hatinya langsung sirna.
*****
Seminggu berlalu dan Alfa benar-benar datang bersama papanya untuk melamar Seruni. Tanggal pernikahan mereka pun sudah ditetapkan, yaitu sebulan lagi. Lebih tepatnya pertengahan bulan depan.
Tak lupa Seruni juga memberitahukan rencana pernikahannya itu kepada Reksa melalui sebuah pesan singkat.
[Mas, aku dan Alfa rencananya akan menikah sebulan lagi. Insyaallah pertengahan bulan depan]
Setelah itu Seruni segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya, kemudian ikut bergabung bersama teman-temannya yang sedang membakar daging.
Kepulan asap membumbung tinggi di halaman belakang rumah Ghea. Gelak tawa dan canda memenuhi taman belakang rumah itu. Semua orang nampak berbahagia. Namun tidak dengan Seruni. Memang bibir Seruni menyunggingkan senyum. Namun sejak tadi dirinya gelisah menunggu balasan pesan dari Reksa yang tak kunjung masuk.
__ADS_1
Faya yang menyadari itu pun segera mendekati sahabatnya. "Ada apa?" Seruni hanya menggeleng. "Huuuft, apa tidak bisa kita menikmati malam ini? Buang sejenak segela beban yang ada di dalam pikiran mu. Jarang-jarang kita bisa berkumpul seperti ini lagi. Apa kamu tidak merindukan saat-saat seperti ini?"
"Baiklah, ayo kita nikmati malam ini." Seruni langsung menarik lengan sahabatnya mendekati para cowok yang sedang membakar daging, sosis dan juga jagung. Sayangnya tidak ada singkong. Jika ada, semua akan mereka bakar.
Sambil membakar mereka menikmati yang sudah matang. Benar-benar nikmat. Nikmat karena rasa masakan dan juga nikmat karena kebersamaan mereka.
Malam semakin larut, namun mereka belum ada yang ingin beranjak dari halaman belakang. Alfa malah sejak tadi sibuk memetik gitar. Menyanyikan beberapa lagu sebagai bentuk ungkapan cinta untuk kekasih hatinya itu. Seruni hanya tersipu malu saat teman-temannya menggodanya.
"Kemarilah." Pinta Alfa yang langsung di angguki oleh Seruni. Seruni beranjak dari duduknya yang semula bersama Faya dan Ghea sekarang berpindah duduk di samping Alfa. "Ayo nyanyi, aku rindu suara cempreng mu." Ucap Alfa yang membuat mereka semua tergelak. Seruni yang merasa malu hanya memayunkan bibirnya. Sudah tahu suaranya jelek masih disuruh nyanyi. Begitulah kira-kira suara hati Seruni saat ini.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1