
Sesampainya di rumah sakit, Seruni dan mama Amara serta Faya langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Saat mereka tiba disana tadi, pasien terakhir baru saja keluar dari ruangan tersebut. Ada untungnya mereka berangkat sore. Tidak perlu menunggu lama karena antrian yang panjang dan yang pasti membosankan.
"Selamat sore Bu, ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang dokter perempuan yang duduk di balik mejanya.
"Sore dok." Balas mama Amara. Sedangkan Seruni dan Faya hanya mengulas senyum tipis.
"Mari silahkan duduk." Ketiganya mengangguk kemudian segera duduk di kursi yang ada di depan sang dokter.
"Ada yang bisa kami bantu Bu?" Ulang sang dokter.
"Begini dok, saya hanya ingin memastikan apakah anak saya ini benar-benar hamil atau tidak." Mama Amara menoleh ke arah Seruni.
"Baik, ada keluhan apa kak?" Sang dokter pun beralih menatap Seruni.
"Pusing sama pandangan mengabur dok." Jawab Seruni menyampaikan apa yang dirasakannya.
"Mual muntah?"
"Tidak dok."
"Kapan terakhir kali datang bulan?"
"Kalau nggak salah tiga Minggu yang lalu."
Sang Dokter nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, Sus tolong kakaknya dibantu." Perintah sang dokter kepada seorang perawat yang membantunya.
Perawat itu pun segera membimbing Seruni masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut. Tak berselang lama Seruni sudah keluar dari dalam kamar mandi diikuti oleh perawat tadi yang membantunya. Sang Perawat langsung menyerahkan sebuah tespack kepada sang dokter.
__ADS_1
"Selamat ya Bu, anak anda positif hamil." Ujar sang dokter mengulurkan tangan kanannya ke arah Mama Amara. Sedangkan tangan kirinya menunjukkan hasil tespack yang terdapat dua garis merah yang masih terlihat samar.
Mama Amara perlahan meraih tangan sang dokter. "Terimakasih dok." Mama Amara berusaha mengulas senyum.
"Mari silakan berbaring disana kak, biar saya periksa dulu." Ujar sang dokter lagi.
Seruni menurut dan segera merebahkan tubuhnya ke atas brankar. Mama Amara dan Faya juga ikut berdiri di samping brankar karena ingin melihat hasil USG yang akan dilakukan oleh sang dokter. Seorang perawat sigap membentangkan selimut untuk menutupi setengah tubuh bagian bawah Seruni. Kemudian ia mengoleskan gel ke atas perut Seruni.
Sang dokter bersiap menggerakkan transduser ke atas permukaan perut Seruni. Gel yang dingin di tambah alat USG yang juga terasa dingin itu membuat Seruni sedikit kegelian.
"Lihat itu, kantung janinnya sudah terbentuk tapi masih samar-samar." Sang dokter menunjuk bulatan seperti kantung pada layar monitor. Mungkin karena usia kandungan Seruni yang masih terlalu dini jadi belum terlihat jelas. "Tepat sekali, usianya baru sekitar tiga Minggu. Tolong di jaga baik-baik karena pada trimester pertama biasanya rentan dengan keguguran." Imbuh sang dokter. "Nanti kalau usia kehamilan sudah memasuki empat atau lima Minggu kantung janin pasti sudah terlihat jelas. Nanti bisa kembali lagi kesini."
"Baik dok." Mama Amara mengangguk.
Setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali mendudukkan tubuhnya di kursi. Sang dokter mencatat resep obat dan vitamin yang perlu ditebus di apotek.
Mama Amara melangkah meninggalkan apotek. Namun bukannya menuju ke toilet, langkah kakinya berbelok menyusuri lorong menuju ke ruangan dokter penyakit dalam. Yaitu dokter ahli jantung yang dulu menanganinya. Beruntung keadaan sudah sepi karena hari sudah semakin sore bahkan menjelang petang.
Mama Amara bermaksud memeriksakan kondisi kesehatan jantungnya yang akhir-akhir ini sering terasa nyeri. Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Namun mama Amara menolaknya dan hanya meminta resep obatnya saja. Tak mau memaksa pasiennya, akhirnya sang dokter pun hanya memberikan resep obat kepada Mama Amara untuk ditebus di apotek.
Setelah menebus obatnya, Seruni dan Faya kembali mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di depan apotek menunggu Mama Amara yang tak kunjung kembali.
"Fa, aku kok takut terjadi sesuatu sama mama ya."
"Kamu tunggu di sini dulu, jangan kemana-mana biar aku cari Tante Amara sebentar." Seruni mengangguk. Faya pun beranjak dari duduknya dan bersiap melangkah namun ia urungkan. Mama Amara sudah nampak berjalan ke arah mereka.
"Sudah?" Tanya mama Amara saat tiba di depan apotek.
__ADS_1
"Sudah ma, Mama darimana saja?"
"Perut mama rasanya nggak enak." Mama Amara menyentuh perutnya untuk menyempurnakan aktingnya.
"Apa perlu periksa dulu Ma, mumpung kita masih di rumah sakit?"
"Nggak usah nggak papa. Ayo!"
Mereka melangkah beriringan keluar dari rumah sakit menuju ke tempat parkir.
"Aduh!" Mama Amara kembali menyentuh perutnya.
"Kenapa ma?"
"Kenapa Tan?"
Ucap Seruni dan Faya bersamaan. Mama Amara meringis. "Kalian masuk dulu saja ke mobil. Mama mules lagi, mama mau ke toilet sebentar." Mama Amara langsung berlari meninggalkan tempat parkir masuk kembali ke dalam rumah sakit. Seruni dan Faya menggelengkan kepalanya. Meskipun begitu mereka sebenarnya juga khawatir. Namun mereka memilih masuk ke dalam mobil seperti yang diperintahkan oleh mama Amara.
Sebenarnya itu hanya bagian dari akting Mama Amara saja. Nyatanya saat ini bukannya pergi ke toilet, Mama Amara malah terlihat sedang mengantri di depan apotek guna menebus resep yang tadi diberikan oleh dokter.
Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan. Mama Amara segera kembali ke tempat parkir.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏