
Malam kembali menyapa. Entah sudah berapa kantong infus yang masuk ke dalam tubuh Alfa. Namun suhu tubuhnya tak kunjung menurun. Bahkan Alfa sama sekali belum sadarkan diri. Matanya masih terpejam rapat. Seruni masih setia menunggu suaminya itu. Ia duduk di samping brankar sang suami seraya menggenggam erat tangan suaminya. Mama Amara nampak terlelap di sofa yang ada di ruang perawatan tersebut. Sedangkan papa Zaky dan om Pras entah ke mana, Seruni tak tau. Mereka berdua pergi setelah perdebatan yang terjadi di antara mereka tadi pagi dan belum kembali lagi. Seruni tak ambil pusing, yang terpenting suaminya sudah ditangani oleh dokter.
Meskipun lelah dan mengantuk, namun Seruni tidak berani memejamkan matanya. Takut-takut suaminya itu tersadar dan membutuhkan sesuatu saat dirinya terlelap. Dipandanginya wajah suaminya itu lekat-lekat. Semakin diperhatikan jelas wajah Alfa semakin terlihat memucat. Suhu tubuh panas, tapi telapak tangan dan telapak kakinya terasa dingin. Sebenarnya penyakit apa yang di derita oleh suaminya itu? Benarkah itu sebuah santet atau guna-guna? Lalu siapa yang tega melakukan semua ini? Jelas tidak mungkin kalau semua ini perbuatan Mbah Suro yang diyakininya adalah orang baik yang suka menolong orang lain. Apa suaminya itu punya musuh di luaran sana? Namun semua itu hanya berputar-putar di kepala Seruni dan Seruni sama sekali tidak mengetahui jawabannya.
Di alam bawah sadar Alfa, Alfa kembali bertemu dengan Nyi Sukmawati lagi di Sendang Kaputren. Memang begitulah yang dialami oleh Alfa di setiap malam-malam terakhir ini. Alfa tak lagi lari ketakutan. Ia mencoba berdamai dengan berbicara baik-baik agar Nyi Sukmawati mau melepaskannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Kalau kau memang menginginkan benda itu, ambil saja! Aku akan mengembalikannya tapi biarkan aku pergi dan jangan pernah mengganggu ku lagi." Alfa berucap dengan selembut mungkin.
Nyi Sukmawati tersenyum anggun. "Bukankah ini sudah terlambat? Lihat disana!" Nyi Sukmawati menunjuk sebuah pelaminan megah layaknya sebuah singgasana. Beberapa tenda juga sudah berdiri dengan kokoh. "Itu adalah panggung pelaminan kita. Semua persiapan sudah selesai. Hanya tinggal menunggu dalam hitungan waktu."
Alfa nampak pias. Namun ia mencoba tetap tenang. "Tapi aku tidak mau. Bisakah kau melepaskan ku? Aku tidak ingin berpisah dengan istri ku. Aku sangat mencintainya dan tidak ada yang lain di sini." Alfa meletakkan tangannya di dada.
"Maka aku yang akan membuat mu melupakannya. Dan akan menggantikannya dengan nama ku di dalam sana." Nyi Sukmawati menunjuk ke arah dada Alfa.
"Kenapa kau memaksa ku?"
"Aku tidak pernah memaksa mu. Tapi kamu yang menentukan jalan mu sendiri. Maka sebagai makhluk yang baik, aku pun menyambutnya dengan kedua tangan ku."
"Dimana Ki Sanusi?" Alfa mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keberadaan Ki Sanusi. Alfa berharap jika dirinya bisa bertemu dengan Ki Sanusi, Alfa bisa meminta bantuannya untuk keluar dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Besok kamu pasti akan bertemu dengannya, jangan khawatir. Bukan hanya Ki Sanusi dan istrinya saja yang akan menghadiri pesta pernikahan kita, tetapi juga Mbah Suro pasti akan datang. Apa kamu sudah tidak sabar menunggu hari esok?"
"Tidak! Tidak akan ada pernikahan di antara kita. Bagaimana bisa kita menikah sedangkan aku sama sekali tidak mengenal mu."
"Itu tidak penting!"
"Tidak! Aku tidak mau, Tidak!"
*****
"Aku tidak mau, aku tidak mau." Gumam Alfa.
"Al hey sayang, kamu sudah sadar?" Seruni beranjak dari duduknya.
"Al, kamu kenapa? Apanya yang tidak mau?" Seruni mengguncang pelan tubuh suaminya itu.
"Ada apa ini?!" Seru papa Zaky yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan anaknya hingga membuat Mama Amara seketika terbangun.
Ya, tadi saat tiba di depan ruang perawatan Alfa, telinga Papa Zaky dan tentu saja om Pras mendengar suara Seruni yang sedikit keras penuh dengan nada kecemasan. Jadi papa Zaky langsung mendorong pintu tersebut diikuti oleh om Pras di belakangnya. Dan benar saja, menantunya itu sedang mengguncang tubuh anaknya yang sedang mengigau.
__ADS_1
"Al, hey, kamu kenapa nak?" Papa Zaky ikut mengguncang tubuh anaknya.
"Aku tidak mau, aku tidak mau." Lagi, Alfa bergumam-gumam.
"Cepat panggil dokter!" Seru Seruni panik.
"Tidak usah!" Sahut om Pras. "Biar aku saja!" Om Pras langsung duduk bersila di lantai samping brankar Alfa. Seperti yang dilakukannya saat di kamar Seruni, om Pras langsung memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mengatup di depan dada. Tak lupa mulutnya berkomat-kamit merapalkan mantra.
Wuuuuuuussshh!!
Sebuah kekuatan dari sebuah selendang yang dikibaskan langsung menghantam tubuh om Pras hingga membuatnya tumbang dan langsung muntah darah di dunia nyata.
"Uhuk.. uhuk..!" Darah segar langsung muncrat dari mulut om Pras.
"Pras!" Seru papa Zaky panik dan segera menghampiri sepupunya itu yang terhempas di lantai. Sedangkan Seruni dan mama Amara hanya diam saja menyaksikan itu karena mereka benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi di depan matanya.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏