
Wuuuussshhh!!
Dengan anggunnya Nyi Sukmawati duduk di atas ranjangnya. Bahkan dalam keadaan duduk pun kedua tangannya masih melakukan gerakan tari. Mungkin dulunya Nyi Sukmawati bekas penari. Atau jangan-jangan dirinya memiliki sanggar tari dan berprofesi sebagai pengajar tari? Entahlah....
"Ada apa kalian memanggil ku? Bukan kah seharusnya malam ini aku bersama dengan pengantin ku? Kenapa kalian malah mengundang ku kemari?" Nada suara Nyi Sukmawati terdengar tidak senang. Mungkin Nyi Sukmawati merasa terganggu.
"Bukan maksud kami ingin mengganggu Nyai. Tapi bukankah Nyai mengatakan kalau waktunya adalah tepat malam Satu Suro? Bukan begitu kang?" Sahut Mbah Suro mencari pembelaan kepada Ki Sanusi. Ki Sanusi hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya! Tapi mereka sudah bersatu, sekarang dia sudah menjadi milik ku. Jadi aku bebas jika aku ingin bersamanya kapanpun." Nyi Sukmawati menekan setiap ucapannya.
"Apa tidak bisa Nyai memberikan waktu kepada mereka untuk bersama sebelum waktunya tiba? Apa Nyai tidak merasa kasihan dengan Seruni? Selama ini ia sudah cukup menderita karena harus menjadi perantara Nyai. Apa tidak terlalu kejam jika Nyai harus mengambil suaminya tepat di malam pengantinnya?" Tawar Mbah Suro yang merasa kasihan dengan Seruni.
"Saya rasa tidak ada salahnya memberi waktu untuk mereka Nyi." Sahut Ki Sanusi menimpali. "Bukankah Masih ada waktu sekitar satu bulan lebih hingga hari itu datang? Biarkan mereka menikmati kebersamaannya yang hanya sekejap itu." Ki Sanusi pun berusaha bernego dengan Nyi Sukmawati.
Sejenak Nyi Sukmawati nampak berpikir. Tidak ada salahnya memberikan waktu kepada mereka bukan? Toh sebentar lagi ia juga akan bersatu dengan pengantinnya itu.
"Baiklah, aku bukan orang yang kejam. Tapi aku juga bukan orang yang sabar. Hanya sampai batas waktu yang akan tiba. Dan setelah itu dia akan menjadi milik ku seutuhnya." Akhirnya Nyi Sukmawati memilih mengalah. Dia dulunya memang orang yang baik bukan orang jahat.
__ADS_1
"Tapi setelah Nyai mendapatkan apa yang Nyai inginkan, Nyai akan melepaskan Seruni kan?" Tanya Mbah Suro memastikan.
"Kau tidak perlu khawatir Suro. Aku tidak akan pernah mengingkari janji ku. Aku hanya akan mengambil pengantin ku dan setelah itu Seruni bebas." Setelah mengucapkan itu Nyi Sukmawati mengepakkan selendangnya dan langsung menghilang dari pandangan Mbah Suro dan Ki Sanusi.
Mbah Suro dan Ki Sanusi menghela nafas bersamaan. Sebenarnya mereka tidak tega pada Seruni dan juga Alfa. Mereka berdua juga sudah memperingatkan Alfa. Namun peringatan itu sama sekali tidak diindahkan oleh Alfa.
"Aku sudah berusaha memintanya baik-baik kepada anak itu kang. Tapi anak itu tetap kekeuh mempertahankan benda itu. Padahal jika anak itu mau memberikannya kepada ku, kita bisa mengupayakan agar Nyai mau melepaskannya."
"Ya, dulu aku dan istri ku juga sudah sempat memperingatkannya. Tapi mungkin sudah jalan takdirnya anak itu seperti ini. Dan sekarang anak itu sudah tidak bisa menghindar lagi."
Ya, dulu sesaat setelah Seruni tenggelam, Nyi Centini sudah memperingatkan kepada Alfa, Ega dan Ruli agar di manapun mereka berada jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Namun karena saat itu Alfa mengira bahwa benda itu memang ditujukan untuk dirinya, Alfa pun tetap kekeuh mempertahankan benda itu. Karena dia tidak tahu konsekuensi apa yang akan ditanggungnya nanti karena sudah lancang mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
"Sudah sebesar apa sekarang anak mu Suro? Pasti sudah dewasa ya?"
"Ya, sudah waktunya punya mantu." Sahut Mbah Suro.
"Sayang sekali aku tidak memiliki keturunan. Kalau saja aku memiliki keturunan perempuan, pasti sudah ku jadikan mantu." Ucapan Ki Sanusi barusan membuat Mbah Suro tergelak.
__ADS_1
"Nikmati saja masa-masa tua kalian selagi masih bisa bersama." Mbah Suro menepuk bahu Kakak seperguruannya itu. Sebenarnya usia Mbah Suro dan Ki Sanusi terpaut jauh. Namun karena memang mereka tunggal seperguruan, Jadi mereka nampak akrab tanpa membedakan umur.
"Ya! Kau sendiri kenapa tidak mencari pengganti Mayangsari?"
"Ah, aku terlalu mencintainya hingga lupa kalau tidak hanya dia saja wanita di dunia ini." Lagi-lagi mereka berdua tertawa, menertawakan nasib masing-masing.
Jika Ki Sanusi tidak dikaruniai seorang anak, maka berbeda dengan Mbah Suro. Istri Mbah Suro meninggal saat Reksa, anak mereka menginjak usia sepuluh tahun.
Keduanya bersama-sama keluar dari kamar tersebut. Mbah Suro langsung pamit undur diri karena urusannya sudah selesai. Dan mungkin mereka akan dipertemukan lagi saat nanti waktunya tiba.
*****
*****
*****
Jempol tremor 🤭 ngebayangin nasib Seruni nantinya udah nyesek duluan 🤧
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏