
💦 H-2
Semalaman penuh hingga subuh menjelang bahkan pagi menyapa Seruni tak memejamkan matanya barang sejenak. Suaminya itu menggigil kedinginan namun suhu tubuhnya tinggi. Tidak ada yang tau kalau Seruni beberapa kali keluar masuk dapur untuk mengganti air yang sudah dingin dengar air hangat lagi. Seruni tidak ingin mengganggu dan merepotkan mamanya, apalagi mertuanya yang tertidur di sofa ruang tamu.
Sedangkan om Pras, semenjak semalam saat meminta ruangan yang sepi untuk bersemedi belum menampakkan batang hidungnya. Entah beneran semedi atau sedang berlayar ke alam mimpi.
Karena suhu tubuh suaminya tak kunjung turun, akhirnya Seruni memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mamanya. Ia sudah tidak tahan lagi dan ingin segera membawa suaminya itu ke rumah sakit. Biasanya menjelang Subuh suhu tubuh suaminya itu akan menurun. Tapi kali ini berbeda, suhu tubuh suaminya itu masih tetap sama. Tinggi!
Mama Amara yang mendengar ketukan di pintu kamarnya seketika terjaga dari tidurnya. Dan betapa terkejutnya Mama Amara karena hari sudah berganti pagi dan itu artinya ia kesiangan. Maklum saja, entah jam berapa semalam ia bisa memejamkan matanya. Buru-buru mama Amara bangkit dan segera membuka pintu. Anaknya itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Jelas terlihat dari raut wajahnya bahwa anaknya itu pasti kelelahan. Wajah lesu, bagian matanya sedikit menghitam dan sedikit sembab. Apa anaknya itu habis menangis? Seketika rasa panik merambati hati mama Amara.
"Ya ampun Run, mama kesiangan. Ada apa?"
"Ayo kita bawa Alfa ke rumah sakit ma." Air mata itu jatuh meluruh membasahi kedua pipinya.
"Apa masih demam?"
Seruni mengangguk lemah. "Dari sore sampai pagi ini demamnya tak kunjung turun. Biasanya demamnya itu hanya datang menjelang dini hari hingga menjelang subuh. Tapi ini tidak!" Air matanya semakin deras membuat hati mama Amara berdenyut seolah ikut merasakan kesedihan anaknya.
__ADS_1
"Baiklah ayo!" Mama Amara langsung menarik anaknya itu menuju kamar. Dan benar saja, rasa panas langsung menyambut saat Mama Amara meletakkan punggung tangannya ke dahi menantunya. Bahkan menantunya itu terpejam erat dan wajahnya nampak memucat. "Sebentar aku bangunkan Zaky dulu." Mama Amara langsung keluar dari kamar anaknya mencari keberadaan besannya yg ternyata tidur di sofa ruang tamu. Mama Amara pun segera membangunkannya.
Papa Zaky langsung terbangun saat merasakan guncangan pada tubuhnya dan juga suara yang memanggil namanya. Setelah mampu mencerna ucapan Mama Amara yang memintanya untuk membawa Alfa ke rumah sakit, papa Zaky segera mengetuk pintu kamar tamu dimana saudara sepupunya itu berada.
Mendengar ketukan yang lambat laun berubah menjadi gedoran itu, seseorang yang sedang terlelap di atas tempat tidur mengeliatkan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya om Pras saat menyadari bahwa dirinya ketiduran saat semalam melakukan semedi dan tidak mendapatkan apapun dari usahanya itu. "Sial!" Umpatnya karena tidak bisa menembus kekuatan yang menghalangi pandangannya. Itu artinya ilmunya tak cukup tinggi dibandingkan dengan kekuatan itu.
Om Pras segera bangkit untuk membukakan pintu. Dan nampak lah papa Zaky dengan raut wajah paniknya tergambar jelas.
"Ada apa?" Tanya om Pras polos.
"Ayo kita bawa Alfa ke rumah sakit. Demamnya tinggi tak kunjung turun." Setelah mengatakan itu papa Zaky langsung melesat menuju ke kamar anaknya meninggalkan sepupunya yang malah kembali lagi masuk ke dalam kamar untuk mencuci muka.
"Apa aku bilang? Alfa itu tidak sakit secara medis, tapi karena santet." Lagi-lagi Om Pras mengatakan itu. Ya, memang kalau dilihat dari ilmu kedukunan, apa yang dialami Alfa saat ini memang menjurus kepada santet atau guna-guna.
"Tapi siapa yang tega melakukan ini? Apa salah anak ku?!" Papa Zaky mulai emosi.
"Siapa lagi kalau bukan mereka?" Om Pras mengedikkan dagunya menujuk ke arah Seruni dan mama Amara bergantian. "Bukankah selama ini Alfa baik-baik saja? Dan semua ini terjadi setelah Alfa menikah dengannya." Lanjut om Pras.
__ADS_1
"Hey, jaga mulut mu ya. Bagaimana mungkin kami melakukan apa yang kamu tuduhkan. Istri mana yang tega menyantet suaminya sendiri!" Suara Mama Amara meninggi penuh emosi. Kalau saja yang berbicara seperti itu adalah seorang perempuan, sudah pasti Mama Amara akan langsung menampar mulutnya serta mencakar-cakar wajahnya.
"Hahaha.... Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin." Om Pras tertawa sinis.
"Sudah ma, biarkan saja mereka berbicara sesuka hatinya." Cegah Seruni saat melihat mamanya akan mengangkat tangannya.
"Apa perlu kita temui Mbah Suro Suro itu. Biar aku habisi sekalian dia!" Berang papa Zaky.
"Jangan gegabah, ilmunya cukup tinggi. Aku saja tidak bisa menjangkaunya apalagi kamu. Bahkan mungkin hanya dengan menjentikkan jari sudah bisa membuat mu terkapar."
Semangat serta emosi papa Zaky yang tadi sempat membara kiri kembali meredup setelah mendengar ucapan dari sepupunya itu. Benar juga yang dikatakan oleh sepupunya itu, sepupunya saja yang memiliki ilmu supranatural tidak bisa menembusnya. Apalagi dia yang hanya orang awam?
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏