SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
DELAPAN PULUH ENAM


__ADS_3

Seruni terbangun dari tidurnya saat mendengar dering ponselnya beberapa kali. Seruni mengerjap kemudian segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Nama Faya sahabatnya tertera di layar ponsel. Seruni segera mengangkatnya karena takut ada yang penting.


"Hallo Fa!" Suaranya masih terdengar serak.


"Run, kamu kenapa nggak masuk? Eh tunggu dulu, suara kamu kenapa? Apa kamu sakit?"


"Aku baru bangun tidur. Hanya kecapean saja."


"Oke, aku ke sana sekarang!" Faya langsung mematikan sambungan teleponnya hingga membuat Seruni bersungut-sungut.


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Faya memilih melesat ke rumah Seruni dan meninggalkan jam terakhirnya.


Setengah jam kemudian Faya sudah tiba di rumah Seruni dan langsung disambut oleh Mama Amara. Mama Amara menyuruh Faya untuk langsung menuju kamar anaknya.


Faya sudah berdiri di depan pintu kamar Seruni. Namun dirinya merasa ragu untuk mengetuknya. Dulu Faya bisa bebas keluar masuk kamar sahabatnya itu. Namun sekarang keadaan sudah berbeda. Seruni sudah memiliki suami. Jadi ia juga harus tau diri. Faya masih terdiam, hingga suara mama Amara membuatnya menoleh.


"Ketuk saja tidak papa Fa. Alfa belum pulang."


"I-iya Tan." Akhirnya Faya pun mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Faya segera masuk ke dalam kamar dan mendapati Seruni masih bergelung dengan selimut di atas tempat tidur. "Ck! Ini sudah siang woy!" Seru Faya sambil menggelengkan kepalanya. "Habis lembur kamu semalam sampai jam segini baru bangun?" Faya pendudukan tubuhnya di tepi ranjang.


Seruni menurunkan selimutnya kemudian mendudukkan tubuhnya bersandar. Faya memperhatikan pergerakan sahabatnya itu. Mata Faya membulat saat pandangannya menatap ke arah leher Seruni.


"Astaga Run, leher mu." Faya menepuk jidatnya sendiri. "Sebanyak itu? Kamu nggak malu sama mama kamu?" Faya menunjuk ke arah leher Seruni.

__ADS_1


Seruni hanya meringis. "Aku tadi udah mencoba menutupinya dengan foundation. Tapi tetap aja nggak sepenuhnya tersamarkan."


"Bilang sama Alfa, lain kali kalau mau bikin stempel jangan di tempat terbuka. Malu-maluin tau."


"Iya, iya." Potong seruni cepat karena malu. "Kebetulan kamu kesini. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu."


"Apa?" Faya menaikkan kakinya ke atas ranjang kemudian duduk bersila menghadap ke arah Seruni. Bersiap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Aku....." Seruni kembali terdiam. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia juga merasa malu jika harus membicarakan masalah ini dengan Faya yang notabenya masih gadis belum berpengalaman. Namun dirinya tidak tahu harus bercerita kepada siapa lagi kalau bukan kepada sahabatnya itu. Karena hanya sahabatnya itulah yang mengerti dirinya.


"Aku apa?" Faya sudah tidak sabar.


"Semalam aku melakukan itu sama Alfa." Cicit Seruni pelan seraya menunduk malu.


"Tapi masalahnya aku berdarah Fa."


"Hah! Berdarah? Maksudnya kamu lagi datang bulan?"


"Bukan! Aku malah baru selesai datang bulan."


"Lalu?"


"Sepertinya itu darah keperawanan."

__ADS_1


"Hah!" Lagi-lagi Faya kembali terkejut. "Darah keperawanan?" Seruni mengangguk. "Yang benar saja?" Faya tidak percaya dengan ucapan Seruni. "Bukannya keperawanan mu sudah diambil oleh Alfa dulu? Dan selama ini juga banyak-"


"Stop! Jangan di lanjutkan! Aku tahu apa yang akan kamu ucapkan. Dan aku sadar itu."


"Iya maaf, kelepasan." Faya merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol mulutnya.


"Oke nggak masalah. Sekarang dengarkan aku baik-baik dan pahami setiap ucapan ku." Seruni mulai berbicara serius. Faya pun mengangguk dan memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan setiap ucapan sahabatnya.


Seruni pun menceritakan semuanya tanpa terlewat. Apa yang dirasakannya dan juga segala prasangkanya terhadap dirinya sendiri.


"Mungkin memang benar apa yang kamu rasakan. Kalian kan sekarang sudah menikah, jadi Nyai pasti sudah pergi dari dirimu." Faya membenarkan ucapan Seruni. "Berarti sekarang kamu sudah terbebas dari kutukan itu Run." Faya akhirnya bisa bernafas lega. Faya ikut senang. Akhirnya perjuangan Seruni selama ini berhasil. "Apa perlu kita mengunjungi Mbah Suro lagi agar semakin jelas? Hanya untuk memastikannya saja."


"Entahlah Fa." Seruni menggeleng lemah.


"Hey sudah, jangan terlalu dipikirkan. Masalah anak kalau sudah rezeki pasti akan di berikan. Kalian kan baru saja menikah, jadi pergunakan waktu kalian untuk menikmati masa-masa pengantin baru."


Seruni mengangguk. Harusnya dirinya bersyukur karena tidak sampai mengandung benih dari laki-laki yang pernah tidur bersamanya. Seruni tidak bisa membayangkan kalau dirinya hamil di luar nikah. Pasti itu akan membuat dirinya serta mamanya menjadi bahan pergunjingan para tetangganya. Stempel j@1@n9 pasti langsung melekat pada dirinya. Dan yang lebih parahnya lagi, kesehatan Mama Amara pasti dipertaruhkan.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2